Breaking News
light_mode
Beranda » Editorial » Tasik Gemas: Gerakan Sehat atau Agenda Simbolik?

Tasik Gemas: Gerakan Sehat atau Agenda Simbolik?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
  • visibility 17
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Editorial Albadarpost: Tasik Gemas harus diawasi agar tak berhenti sebagai agenda simbolik pemerintah.

Diluncurkan Hari Ini, Dipertanyakan Esok Hari

albadarpost.com, EDITORIAL – Pemerintah Kota Tasikmalaya meluncurkan program Tasik Gemas (Gerakan Masyarakat Sehat) sebagai langkah mendorong perubahan pola hidup warga. Program ini diawali dengan senam bersama dan layanan cek kesehatan gratis.

Bagi publik, peluncuran ini bukan puncak, melainkan titik awal pengujian. Sejarah kebijakan daerah mengajarkan bahwa banyak gerakan berhenti di seremoni, sementara masalah kesehatan tetap berjalan.


Program Prioritas dengan Target Besar

Tasik Gemas diluncurkan di Lapangan Bale Kota Tasikmalaya, Jumat (9/1/2026) dan melibatkan aparatur sipil negara serta unsur masyarakat. Kegiatan awal mencakup olahraga massal dan pemeriksaan kesehatan gratis.

Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, menegaskan bahwa Tasik Gemas merupakan satu dari tujuh program prioritas pemerintah kota. Fokus utamanya adalah pencegahan stunting dan penguatan layanan kesehatan dasar melalui pendekatan promotif dan preventif.

Baca juga: Negara Harus Tegas Terhadap Aplikasi Matel

Pemerintah kota menyatakan bahwa perubahan perilaku hidup sehat lebih berkelanjutan dibandingkan intervensi medis semata. Pernyataan ini secara konsep benar, tetapi menuntut kerja kebijakan yang konsisten dan terukur.


Di Mana Risiko Kebijakan Dimulai

Editorial Albadarpost melihat Tasik Gemas sebagai program dengan niat yang tepat, namun memiliki tiga indikator risiko utama.

Pertama, risiko seremonial. Tanpa jadwal kegiatan berulang dan tanggung jawab di tingkat kelurahan, Tasik Gemas berpotensi berhenti setelah momentum peluncuran.

Kedua, risiko eksklusivitas peserta. Jika kegiatan hanya ramai di pusat kota atau diikuti ASN dan komunitas tertentu, maka kelompok rentan—yang justru menjadi sasaran kesehatan publik—berpotensi terlewat.

Ketiga, risiko tanpa indikator dampak. Hingga kini belum dijelaskan bagaimana keberhasilan Tasik Gemas diukur: apakah dari penurunan stunting, peningkatan kunjungan layanan kesehatan, atau perubahan perilaku warga.

Tanpa indikator tersebut, Tasik Gemas sulit dievaluasi secara objektif.


Pertanyaan Publik yang Wajar Diajukan

Program publik yang sehat harus siap diuji. Beberapa pertanyaan berikut layak dijawab pemerintah kota.

Baca juga: Makna Kepemimpinan yang Bertanggung Jawab

Apakah Tasik Gemas memiliki peta jalan tahunan atau hanya rangkaian kegiatan insidental?
Bagaimana peran puskesmas, posyandu, dan kader kesehatan dalam program ini?
Apakah tersedia anggaran berkelanjutan, atau Tasik Gemas bergantung pada momentum politik awal pemerintahan?

Pertanyaan ini bukan bentuk sinisme, melainkan prasyarat akuntabilitas.


Pola Lama yang Harus Diputus

Banyak daerah meluncurkan gerakan hidup sehat dengan semangat tinggi, tetapi melemah di tengah jalan. Penyebabnya hampir seragam: tidak terintegrasi dengan layanan kesehatan, tidak dievaluasi, dan tidak melibatkan warga secara aktif.

Di kota-kota yang berhasil, program kesehatan dijalankan lintas sektor—pendidikan, lingkungan, dan pelayanan dasar—bukan berdiri sebagai agenda tunggal. Tasik Gemas harus belajar dari pola ini jika ingin bertahan.


Jangan Takut Diawasi

Albadarpost berpihak pada kebijakan kesehatan publik yang berpijak pada kepentingan warga. Tasik Gemas layak didukung, tetapi tidak kebal kritik.

Pemerintah Kota Tasikmalaya perlu membuka rencana kerja, indikator keberhasilan, serta mekanisme evaluasi program secara terbuka. Tanpa itu, kepercayaan publik sulit tumbuh.

Gerakan hidup sehat hanya akan hidup jika negara konsisten hadir, bukan sekadar mengajak.


Kebijakan Sehat Harus Tahan Uji

Tasik Gemas akan diuji bukan oleh spanduk atau jumlah peserta di hari pertama, melainkan oleh konsistensi kebijakan setelah sorotan mereda.

Program kesehatan yang baik bukan yang paling meriah diluncurkan, tetapi yang paling lama dirasakan manfaatnya. (Red)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menteri Kebudayaan Thailand

    Arah Baru Menteri Kebudayaan Thailand

    • calendar_month Kamis, 1 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 20
    • 0Komentar

    Arah kebijakan Menteri Kebudayaan Thailand menempatkan budaya sebagai penggerak ekonomi dan identitas publik. albadarpost.com, BERITA DUNIA – Pagi itu, Sabida Thaiseth melangkah ke kantor Kementerian Kebudayaan Thailand dengan iringan doa. Tidak ada pidato panjang. Tidak pula selebrasi berlebihan. Namun sejak 19 September 2025, langkah itu menandai babak baru arah kebijakan kebudayaan Thailand—lebih dekat ke ekonomi, […]

  • penyakit hati menurut al ghazali

    Penyakit Hati Menurut Imam Al Ghazali

    • calendar_month Jumat, 13 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 15
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Penyakit hati menurut Imam Al-Ghazali bukan sekadar istilah spiritual. Ulama besar ini menjelaskan bahwa penyakit hati dalam Islam sering hadir tanpa disadari pemiliknya. Seseorang bisa tetap tersenyum, bekerja, bahkan beribadah, tetapi hatinya perlahan kehilangan kepekaan terhadap kebenaran. Inilah yang membuat konsep hati menurut Al-Ghazali terasa sangat relevan hingga sekarang. Ia tidak berbicara […]

  • kelompok rentan

    Ahli Luruskan Isu Super Flu, Kelompok Rentan Perlu Waspada

    • calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 15
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Fenomena yang disebut publik sebagai super flu kembali memicu kekhawatiran masyarakat. Istilah ini ramai dibicarakan di media sosial dan sejumlah pemberitaan internasional seiring lonjakan kasus influenza di berbagai negara. Para ahli menegaskan, super flu bukan istilah medis resmi. Namun, ancaman kesehatan tetap nyata, terutama bagi kelompok rentan. Pakar mikrobiologi dan epidemiologi menjelaskan […]

  • Kisah Utsman bin Affan menangis di kuburan membuka rahasia tentang alam barzakh, fitnah kubur, serta hadis Nabi tentang kehidupan setelah mati.

    Mengapa Utsman bin Affan Menangis Saat Melihat Kubur? Ini Penjelasannya

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 17
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Kisah Utsman bin Affan menangis di kuburan sering menjadi pengingat kuat tentang kehidupan setelah mati. Banyak ulama menjelaskan bahwa tangisan tersebut bukan sekadar rasa sedih. Sebaliknya, kisah tangisan Utsman bin Affan ketika melihat kubur, atau peristiwa Utsman bin Affan menangis di makam, menunjukkan ketakutan mendalam terhadap fase awal kehidupan akhirat. Para sahabat […]

  • Ilustrasi Ali bin Abi Thalib, khalifah keempat Khulafaur Rasyidin, dikenal sebagai Asadullah dan Babul Ilmi dalam sejarah Islam.

    Ali bin Abi Thalib: Singa Allah yang Jadi Pintu Ilmu

    • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 17
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Ali bin Abi Thalib RA, khalifah keempat dalam Khulafaur Rasyidin, dikenal sebagai Singa Allah, Babul Ilmi, dan simbol keberanian serta kecerdasan dalam sejarah Islam. Sosok Ali bukan hanya sepupu dan menantu Rasulullah SAW, tetapi juga pemimpin yang meninggalkan jejak kuat dalam kepemimpinan, ilmu, dan keteladanan. Sejak usia belia, Ali telah menunjukkan komitmen […]

  • kasus ayah gadaikan anak

    Bocah Hilang Tasikmalaya Terungkap, Ayah Kandung Diduga Gadaikan Anak

    • calendar_month Kamis, 27 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 5
    • 0Komentar

    Kasus ayah gadaikan anak di Tasikmalaya terungkap setelah bocah ditemukan di Gresik dan kini dalam pendampingan sosial. albadarpost.com, HUMANIORA – Kasus ayah gadaikan anak kembali memunculkan keprihatinan publik. Dinas Sosial Gresik menemukan bocah laki-laki berusia sekitar tujuh tahun yang dilaporkan hilang oleh ibunya di Tasikmalaya. Bocah itu ternyata dijadikan jaminan pinjaman Rp25 juta oleh ayah […]

expand_less