Breaking News
light_mode
Beranda » Editorial » Tasik Gemas: Gerakan Sehat atau Agenda Simbolik?

Tasik Gemas: Gerakan Sehat atau Agenda Simbolik?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
  • visibility 78
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Editorial Albadarpost: Tasik Gemas harus diawasi agar tak berhenti sebagai agenda simbolik pemerintah.

Diluncurkan Hari Ini, Dipertanyakan Esok Hari

albadarpost.com, EDITORIAL – Pemerintah Kota Tasikmalaya meluncurkan program Tasik Gemas (Gerakan Masyarakat Sehat) sebagai langkah mendorong perubahan pola hidup warga. Program ini diawali dengan senam bersama dan layanan cek kesehatan gratis.

Bagi publik, peluncuran ini bukan puncak, melainkan titik awal pengujian. Sejarah kebijakan daerah mengajarkan bahwa banyak gerakan berhenti di seremoni, sementara masalah kesehatan tetap berjalan.


Program Prioritas dengan Target Besar

Tasik Gemas diluncurkan di Lapangan Bale Kota Tasikmalaya, Jumat (9/1/2026) dan melibatkan aparatur sipil negara serta unsur masyarakat. Kegiatan awal mencakup olahraga massal dan pemeriksaan kesehatan gratis.

Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, menegaskan bahwa Tasik Gemas merupakan satu dari tujuh program prioritas pemerintah kota. Fokus utamanya adalah pencegahan stunting dan penguatan layanan kesehatan dasar melalui pendekatan promotif dan preventif.

Baca juga: Negara Harus Tegas Terhadap Aplikasi Matel

Pemerintah kota menyatakan bahwa perubahan perilaku hidup sehat lebih berkelanjutan dibandingkan intervensi medis semata. Pernyataan ini secara konsep benar, tetapi menuntut kerja kebijakan yang konsisten dan terukur.


Di Mana Risiko Kebijakan Dimulai

Editorial Albadarpost melihat Tasik Gemas sebagai program dengan niat yang tepat, namun memiliki tiga indikator risiko utama.

Pertama, risiko seremonial. Tanpa jadwal kegiatan berulang dan tanggung jawab di tingkat kelurahan, Tasik Gemas berpotensi berhenti setelah momentum peluncuran.

Kedua, risiko eksklusivitas peserta. Jika kegiatan hanya ramai di pusat kota atau diikuti ASN dan komunitas tertentu, maka kelompok rentan—yang justru menjadi sasaran kesehatan publik—berpotensi terlewat.

Ketiga, risiko tanpa indikator dampak. Hingga kini belum dijelaskan bagaimana keberhasilan Tasik Gemas diukur: apakah dari penurunan stunting, peningkatan kunjungan layanan kesehatan, atau perubahan perilaku warga.

Tanpa indikator tersebut, Tasik Gemas sulit dievaluasi secara objektif.


Pertanyaan Publik yang Wajar Diajukan

Program publik yang sehat harus siap diuji. Beberapa pertanyaan berikut layak dijawab pemerintah kota.

Baca juga: Makna Kepemimpinan yang Bertanggung Jawab

Apakah Tasik Gemas memiliki peta jalan tahunan atau hanya rangkaian kegiatan insidental?
Bagaimana peran puskesmas, posyandu, dan kader kesehatan dalam program ini?
Apakah tersedia anggaran berkelanjutan, atau Tasik Gemas bergantung pada momentum politik awal pemerintahan?

Pertanyaan ini bukan bentuk sinisme, melainkan prasyarat akuntabilitas.


Pola Lama yang Harus Diputus

Banyak daerah meluncurkan gerakan hidup sehat dengan semangat tinggi, tetapi melemah di tengah jalan. Penyebabnya hampir seragam: tidak terintegrasi dengan layanan kesehatan, tidak dievaluasi, dan tidak melibatkan warga secara aktif.

Di kota-kota yang berhasil, program kesehatan dijalankan lintas sektor—pendidikan, lingkungan, dan pelayanan dasar—bukan berdiri sebagai agenda tunggal. Tasik Gemas harus belajar dari pola ini jika ingin bertahan.


Jangan Takut Diawasi

Albadarpost berpihak pada kebijakan kesehatan publik yang berpijak pada kepentingan warga. Tasik Gemas layak didukung, tetapi tidak kebal kritik.

Pemerintah Kota Tasikmalaya perlu membuka rencana kerja, indikator keberhasilan, serta mekanisme evaluasi program secara terbuka. Tanpa itu, kepercayaan publik sulit tumbuh.

Gerakan hidup sehat hanya akan hidup jika negara konsisten hadir, bukan sekadar mengajak.


Kebijakan Sehat Harus Tahan Uji

Tasik Gemas akan diuji bukan oleh spanduk atau jumlah peserta di hari pertama, melainkan oleh konsistensi kebijakan setelah sorotan mereda.

Program kesehatan yang baik bukan yang paling meriah diluncurkan, tetapi yang paling lama dirasakan manfaatnya. (Red)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • krisis haji khusus 2026

    Haji Khusus 2026 Terancam Gagal Berangkat

    • calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 72
    • 0Komentar

    Ribuan jemaah haji khusus 2026 terancam gagal berangkat akibat dana tertahan. Krisis ini memicu keresahan keluarga Muslim dan menuntut perbaikan tata kelola haji. albadarpost.com, HUMANIORA – Ribuan calon jemaah haji khusus untuk musim haji 2026 berada dalam situasi tidak menentu. Harapan berangkat ke Tanah Suci yang telah direncanakan bertahun-tahun kini terancam kandas. Penyebabnya bukan semata […]

  • Ilustrasi Islami Thalhah dan Zubair sebagai sahabat Nabi yang menunjukkan keberanian dan pengorbanan demi Islam.

    Thalhah dan Zubair: Persahabatan, Pengorbanan, dan Loyalitas Tanpa Batas

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 46
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Thalhah dan Zubair menjadi dua nama besar dalam sejarah Islam yang dikenal karena keberanian, loyalitas, dan pengorbanannya untuk Rasulullah SAW. Kisah Thalhah dan Zubair, dua sahabat Nabi Muhammad SAW ini, hingga kini terus dikenang umat Islam karena memperlihatkan bagaimana iman mampu mengalahkan rasa takut, harta, bahkan kepentingan pribadi. Di tengah tekanan kaum […]

  • krisis psikolog singapura

    Darurat Mental di Singapura: Psikolog Kurang, Pasien Membludak

    • calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 71
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Krisis psikolog Singapura semakin terasa ketika kebutuhan layanan kesehatan mental atau kesehatan mental Singapura melonjak tajam. Di saat yang sama, kekurangan psikolog membuat akses bantuan menjadi lebih sulit. Fenomena ini menunjukkan ketidakseimbangan serius antara permintaan dan ketersediaan tenaga ahli. Selain itu, meningkatnya kesadaran masyarakat justru mempercepat lonjakan permintaan. Oleh karena itu, […]

  • Kepemimpinan Santri

    Jarang Disadari, Ini 5 Cara Pesantren Mencetak Jiwa Pemimpin

    • calendar_month Rabu, 1 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 86
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Tidak banyak yang sadar bahwa banyak pemimpin tangguh di Indonesia justru lahir dari lingkungan sederhana: pesantren. Di balik jadwal padat dan kehidupan disiplin, kepemimpinan santri terbentuk melalui kebiasaan harian yang tampak biasa, namun memiliki dampak luar biasa. Nilai kepemimpinan pesantren, karakter santri, serta pola pendidikan berbasis pengalaman nyata membuat santri belajar memimpin […]

  • Rendang daging sapi khas Sumatera Barat dengan bumbu rempah kental berwarna cokelat gelap di piring tradisional.

    Rendang: Kuliner Nusantara dengan Sejarah Menakjubkan

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 72
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Rendang dikenal sebagai salah satu kuliner paling terkenal dari Indonesia. Hidangan ini sering disebut juga rendang Minang atau rendang daging khas Sumatera Barat yang terkenal karena bumbu rempahnya yang kuat dan proses memasaknya yang panjang. Banyak orang menikmatinya karena rasanya kaya, aromanya menggoda, dan tekstur dagingnya lembut setelah dimasak berjam-jam. Namun […]

  • KUHP baru nikah siri

    KUHP Baru: Batas Negara Mengatur Perkawinan

    • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 78
    • 0Komentar

    Sorotan MUI atas KUHP baru membuka debat batas negara mengatur nikah siri dan poligami serta dampaknya bagi warga. albadarpost.com, PERSPEKTIF – Pemberlakuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru kembali membuka ruang perdebatan lama: sejauh mana negara berwenang masuk ke wilayah privat warga yang bersinggungan dengan keyakinan agama. Sorotan Majelis Ulama Indonesia (MUI) terhadap pasal-pasal yang […]

expand_less