Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » KUHP Baru: Batas Negara Mengatur Perkawinan

KUHP Baru: Batas Negara Mengatur Perkawinan

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
  • visibility 18
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sorotan MUI atas KUHP baru membuka debat batas negara mengatur nikah siri dan poligami serta dampaknya bagi warga.

albadarpost.com, PERSPEKTIF – Pemberlakuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru kembali membuka ruang perdebatan lama: sejauh mana negara berwenang masuk ke wilayah privat warga yang bersinggungan dengan keyakinan agama. Sorotan Majelis Ulama Indonesia (MUI) terhadap pasal-pasal yang mengatur pemidanaan nikah siri dan poligami menjadi penanda bahwa persoalan ini tidak sekadar teknis hukum, melainkan menyentuh fondasi relasi negara dan warga.

Isu ini penting dibicarakan sekarang, bukan karena kontroversinya, tetapi karena dampaknya langsung menyasar kehidupan jutaan orang. Di tengah upaya pembaruan hukum pidana nasional, negara diuji: apakah hukum hadir untuk melindungi kepentingan publik, atau justru menciptakan kegamangan baru di ruang sosial yang sudah lama hidup dengan aturan sendiri.

Fakta Hukum yang Sudah Final

KUHP baru memuat ketentuan pidana terhadap praktik perkawinan yang tidak dicatatkan secara resmi oleh negara. Dalam konstruksi hukum tersebut, pencatatan diposisikan sebagai syarat penting untuk memastikan tertib administrasi dan perlindungan hukum bagi para pihak, khususnya perempuan dan anak.

Baca juga: Delik Aduan dalam KUHP Baru: Apa Artinya bagi Publik?

Ketentuan ini berlaku umum, tanpa membedakan motif atau konteks sosial pelakunya. Negara menempatkan pencatatan sebagai instrumen kontrol, dan pelanggaran terhadapnya dapat berujung pada sanksi pidana. Secara normatif, pendekatan ini dinyatakan sebagai bagian dari modernisasi sistem hukum nasional.

Masalah Publik di Balik Keputusan

Di balik rumusan pasal, terdapat persoalan publik yang lebih luas. Praktik nikah siri, dalam kenyataan sosial Indonesia, tidak selalu lahir dari niat menghindari hukum. Sebagian terjadi karena keterbatasan ekonomi, akses administrasi yang rumit, atau kondisi sosial tertentu yang tidak sepenuhnya terakomodasi oleh sistem negara.

Ketika praktik ini diposisikan sebagai tindak pidana, risiko yang muncul bukan hanya kriminalisasi, tetapi juga ketidakpastian hukum bagi perempuan dan anak. Alih-alih terlindungi, mereka berpotensi semakin terpinggirkan karena relasi keluarga yang sudah ada justru masuk wilayah hukum pidana.

Prosedur atau Substansi

Kritik MUI menempatkan persoalan ini pada simpul penting: perbedaan antara pelanggaran administratif dan kejahatan pidana. Dalam pandangan hukum Islam, pernikahan yang memenuhi rukun dan syarat sah tidak dapat serta-merta disamakan dengan perbuatan melawan hukum.

Di titik ini, negara terlihat memilih jalur prosedural dengan menekankan pencatatan sebagai penentu sah-tidaknya relasi di mata hukum pidana. Logika ini tidak sepenuhnya salah, tetapi menjadi problematik ketika mengabaikan substansi relasi sosial dan agama yang hidup di masyarakat.

Baca juga: Kemacetan Kronis dan Beban Mental Warga Jabar

Pendekatan pidana berisiko memutus dialog antara hukum negara dan norma sosial. Negara memang berwenang mengatur, tetapi kewenangan itu diuji ketika berhadapan dengan praktik keagamaan yang memiliki legitimasi kuat di masyarakat.

Dampak Nyata bagi Warga

Bagi warga, implikasinya konkret. Aparat penegak hukum menghadapi tugas baru yang rawan multitafsir. Pelayanan publik di bidang kependudukan dan peradilan agama berpotensi mengalami tekanan tambahan. Kepercayaan masyarakat terhadap hukum pun dipertaruhkan jika aturan dipersepsikan tidak adil atau tidak sensitif terhadap realitas sosial.

Dalam konteks poligami, persoalan serupa muncul. Praktik ini telah lama diatur dalam Undang-Undang Perkawinan dan hukum perdata, dengan mekanisme perizinan dan pengawasan. Memindahkannya ke ranah pidana berpotensi mempersempit ruang penyelesaian yang sebelumnya bersifat administratif dan yudisial.

Apa yang Perlu Diawasi

Implementasi KUHP baru menjadi titik krusial. Tanpa pedoman teknis yang jelas, pasal-pasal ini berpotensi digunakan secara selektif. Ruang kontrol publik dibutuhkan untuk memastikan hukum tidak menjauh dari tujuan awalnya: melindungi warga, bukan menambah beban sosial baru.

Evaluasi terhadap pasal-pasal bermasalah perlu dilakukan secara terbuka. Dialog antara pemerintah, ahli hukum, dan tokoh agama menjadi prasyarat agar pembaruan hukum tidak berubah menjadi sumber kegelisahan sosial.

KUHP baru adalah produk politik hukum yang sah. Namun, keabsahan formal tidak selalu berbanding lurus dengan penerimaan sosial. Di titik ini, negara dihadapkan pada pilihan penting: menegakkan hukum dengan disiplin prosedural, atau menata hukum dengan kepekaan terhadap kehidupan warga. Jawaban atas pilihan itu akan menentukan apakah hukum benar-benar hadir sebagai pelindung kepentingan publik, atau sekadar sebagai instrumen kontrol administratif.

Wallahu a’lam bishawab. (Red)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi ruang kelas modern yang menggambarkan sistem pendidikan Finlandia dan seleksi ketat calon guru

    Kenapa Jadi Guru di Finlandia Sangat Sulit? Ini Rahasianya

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 19
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Bayangkan seorang siswa yang bercita-cita menjadi guru. Ia mendaftar ke universitas terbaik di negaranya dengan harapan bisa masuk jurusan pendidikan. Namun setelah proses seleksi selesai, hasilnya mengejutkan. Dari 100 pelamar, hanya sekitar 10 orang yang diterima. Kisah seperti ini bukan cerita fiksi. Inilah realitas dalam pendidikan Finlandia, salah satu sistem pendidikan terbaik […]

  • Aplikasi Mata Elang

    Negara Harus Tegas Terhadap Aplikasi Matel

    • calendar_month Selasa, 23 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 7
    • 0Komentar

    Editorial Albadarpost: Kebocoran data nasabah lewat aplikasi matel mengancam privasi dan menuntut tanggung jawab negara. albadarpost.com, EDITORIAL – Beragam aplikasi digital yang digunakan mata elang untuk melacak kendaraan kredit bermasalah kini beredar bebas di ruang digital. Siapa pun dapat mengunduhnya. Cukup masukkan nomor polisi kendaraan, data sensitif pemilik langsung terbuka. Masalahnya bukan sekadar penagihan utang. […]

  • keutamaan 10 hari terakhir Ramadhan

    Banyak Orang Menyesal, Inilah Keutamaan 10 Hari Terakhir Ramadhan

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 9
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Tidak semua orang menyadari keutamaan 10 hari terakhir Ramadhan. Padahal, fase terakhir bulan suci ini menyimpan kesempatan besar yang bisa mengubah kehidupan seorang muslim. Pada malam-malam inilah terdapat Lailatul Qadar, malam penuh kemuliaan yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Karena itu, banyak ulama menekankan pentingnya memaksimalkan 10 hari terakhir Ramadhan dengan […]

  • efisiensi anggaran DPRD

    Efisiensi Anggaran DPRD, Akankah Tasikmalaya Ambil Langkah Berani?

    • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 15
    • 0Komentar

    Tasikmalaya di Persimpangan Keputusan albadapost.com, EDITORIAL – Efisiensi anggaran DPRD kembali menjadi isu publik di Tasikmalaya. Saat Kota Banjar dan Kabupaten Ciamis memangkas tunjangan legislatif sebagai respon tekanan fiskal, DPRD Tasikmalaya belum menunjukkan sikap tegas. Keraguan ini bukan sekadar soal kebijakan anggaran, tetapi menyentuh dimensi moral dan kepercayaan rakyat. Publik bertanya dengan wajar. Ketika beban […]

  • penganiayaan remaja

    Polisi Selidiki Penganiayaan Remaja di Tasikmalaya

    • calendar_month Minggu, 14 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 7
    • 0Komentar

    Penganiayaan remaja di Tasikmalaya membuat dua pelajar luka serius dan memicu sorotan pada keamanan jalan kota. albadarpost.com, BERITA DAERAH – Dua remaja di Kota Tasikmalaya mengalami luka serius usai menjadi korban penganiayaan oleh sekelompok orang bermotor, Sabtu (13/12/2025) dini hari. Peristiwa ini kembali menyoroti rapuhnya rasa aman warga, khususnya pelajar, di ruang publik pada jam […]

  • PPPK Kota Tasikmalaya

    Wali Kota Tasikmalaya Mengangkat 1.855 PPPK dan Menata Arah Pelayanan Publik

    • calendar_month Selasa, 25 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 6
    • 0Komentar

    Editorial Albadarpost: Pengangkatan PPPK Kota Tasikmalaya menegaskan komitmen pelayanan publik, tetapi kesejahteraan masih jadi pekerjaan dasar. Pengangkatan PPPK Kota Tasikmalaya dan Makna Publiknya albadarpost.com, EDITORIAL – Sebanyak 1.855 tenaga non-ASN Kota Tasikmalaya resmi diangkat menjadi PPPK pada 24 November 2025. Peristiwa ini bukan sekadar seremoni, tetapi titik balik dari penantian panjang ribuan pegawai honorer yang […]

expand_less