Tahu Sumedang Berawal dari Cinta, Begini Sejarahnya
- account_circle redaktur
- calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
- visibility 40
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi gambar Tahu Sumedang.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com,LIFESTYLE – Sejarah Tahu Sumedang menyimpan kisah yang lebih personal daripada sekadar perjalanan sebuah makanan khas daerah. Dalam materi yang dilansir dari akun Humas Jabar, asal-usul Tahu Sumedang dikaitkan dengan Ong Ki No yang membuat tahu untuk istrinya. Dari sepiring tahu itu, perjalanan panjang kemudian berkembang melalui inovasi Ong Bung Keng hingga melahirkan kuliner yang melekat dengan nama Sumedang.
Kisah tersebut menarik karena Tahu Sumedang tidak langsung lahir sebagai bisnis besar. Sebaliknya, cerita yang berkembang justru bermula dari keluarga, sempat menghadapi kegagalan, lalu menemukan titik balik melalui keberanian mengubah cara pengolahan.
Catatan: Materi Humas Jabar mencantumkan sumber sebagai “berbagai sumber”. Karena itu, sejumlah bagian dalam artikel ini ditulis sebagai kisah sejarah yang berkembang, bukan sebagai klaim bahwa seluruh detailnya merupakan fakta sejarah primer yang telah diverifikasi secara tunggal.
Awalnya Hanya Sepiring Tahu untuk Istri
Pada awal 1900-an, menurut materi Humas Jabar, Ong Ki No membuat tao-fu atau tahu putih untuk istrinya.
Untuk mendapatkan bahan baku, ia mencari kedelai hingga ke Conggeang, Sumedang. Setelah itu, tahu tersebut mulai dicoba untuk dijual kepada masyarakat.
Namun, usaha tersebut belum langsung berhasil.
Respons pasar ternyata tidak seperti yang diharapkan. Bahkan, pada 1917, Ong Ki No dan istrinya disebut sempat berencana kembali ke Tiongkok.
Di sinilah cerita asal usul Tahu Sumedang menjadi menarik. Sebuah makanan yang sekarang begitu mudah ditemukan ternyata memiliki perjalanan awal yang tidak selalu mulus.
Ada usaha yang hampir berhenti. Ada pula pilihan untuk bertahan.
Kemudian, generasi berikutnya mengambil peran.
Ong Bung Keng Membawa Perubahan
Putra Ong Ki No, Ong Bung Keng, kemudian meneruskan usaha keluarganya.
Alih-alih sekadar mempertahankan cara lama, ia mencoba pendekatan berbeda. Tahu putih yang sebelumnya dibuat untuk dijual kemudian diolah dengan cara digoreng.
Hasilnya memberikan karakter baru.
Bagian luar tahu menjadi renyah. Rasanya gurih. Aromanya juga lebih kuat. Perubahan sederhana tersebut akhirnya membuat tahu semakin menarik bagi masyarakat.
Inovasi itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Tahu Bungkeng.
Jadi, ketika orang membicarakan kenapa Tahu Sumedang terkenal, jawabannya tidak hanya berkaitan dengan rasa. Ada proses mencoba, gagal, memperbaiki, kemudian menemukan bentuk produk yang lebih diterima masyarakat.
Menariknya, inovasi tersebut lahir dari situasi yang sangat sederhana.
Bukan dari mesin canggih.
Bukan pula dari kampanye pemasaran besar.
Melainkan dari keberanian mengubah cara mengolah makanan.
Aroma Tahu Goreng Menarik Perhatian Bupati
Cerita kemudian membawa kita sekitar 1928.
Dalam materi Humas Jabar, Pangeran Soeriaatmadja disebut mencicipi tahu goreng Ong Bung Keng ketika melintas menuju Situraja.
Aroma tahu goreng menarik perhatiannya. Setelah mencicipinya, ia menyebut tahu tersebut lezat dan meyakini makanan itu akan laku jika terus dijual.
Kisah mengenai momen tersebut juga muncul dalam sejumlah tulisan sejarah kuliner mengenai Tahu Sumedang. Salah satunya menyebut 1928 sebagai titik penting ketika Pangeran Soeriaatmadja mencicipi tahu milik Bung Keng.
Namun, AlbadarPost tidak menempatkan cerita tersebut sebagai satu-satunya bukti sejarah.
Sebab, materi yang menjadi sumber utama artikel ini sendiri menyebut “berbagai sumber”. Karena itu, pembaca perlu membedakan antara fakta yang memiliki dokumentasi sejarah kuat dan kisah yang berkembang melalui penuturan masyarakat.
Pendekatan tersebut penting agar cerita kuliner tetap menarik tanpa mengorbankan ketelitian.
Dari Tahu Bungkeng hingga Ikon Sumedang
Nama Ong Bung Keng kemudian melekat kuat dengan perkembangan Tahu Bungkeng.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana makanan sederhana dapat membangun identitas sebuah daerah. Bahkan, pemerintah Jawa Barat pada 2026 juga menempatkan Tahu Sumedang sebagai salah satu produk lokal unggulan yang perlu diperkuat dari sisi branding dan standar produk.
Artinya, Tahu Sumedang bukan hanya soal makanan yang dijual di warung atau pusat oleh-oleh.
Ada identitas daerah yang ikut menempel di dalamnya.
Ada pula potensi ekonomi masyarakat yang bisa tumbuh ketika produk lokal memiliki kualitas dan citra yang konsisten.
Karena itu, menjaga Tahu Sumedang tidak cukup hanya dengan mempertahankan resep.
Pelaku usaha juga perlu menjaga kualitas bahan baku, kebersihan produksi, kemasan, pelayanan, serta identitas produk.
Pelajaran dari Sejarah Tahu Sumedang
Jika dirunut, perjalanan asal mula Tahu Sumedang memiliki satu pola yang menarik.
Ong Ki No memulai dari kebutuhan keluarga. Usaha kemudian menghadapi hambatan. Setelah itu, Ong Bung Keng mengambil risiko dengan mengubah cara pengolahan.
Dari sana, produk berkembang.
Inilah bagian yang sebenarnya lebih penting daripada sekadar pertanyaan siapa yang pertama membuat Tahu Sumedang.
Sejarah tersebut menunjukkan bahwa inovasi sering muncul ketika cara lama tidak lagi cukup.
Hal itu juga relevan bagi pelaku UMKM sekarang. Produk tradisional memang membutuhkan akar yang kuat, tetapi pada saat yang sama harus mampu mengikuti kebutuhan zaman.
Sumedang sendiri terus mendorong masyarakat untuk bangga terhadap produk daerahnya. Dalam pemberitaan resmi Pemprov Jabar pada April 2026, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi juga menyebut Tahu Sumedang sebagai salah satu produk yang lahir dari kreativitas masyarakat Sumedang.
Bukan Sekadar Tahu Goreng
Pada akhirnya, sepotong Tahu Sumedang mungkin terlihat sederhana.
Namun, sejarahnya menyimpan perjalanan yang panjang: kasih sayang dalam keluarga, usaha yang belum berhasil, keberanian berinovasi, hingga lahirnya sebuah identitas kuliner daerah.
Itulah sebabnya Tahu Sumedang tidak cukup hanya dinilai dari renyahnya kulit atau gurihnya rasa.
Di balik tahu yang sederhana, ada cerita tentang orang-orang yang tidak menyerah ketika cara lama belum berhasil. Dan mungkin, di situlah rahasia sebenarnya sebuah kuliner bisa berubah dari makanan biasa menjadi legenda. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar