7 Kebakaran Lahan Terjadi di Garut, Api Ancam Rumah
- account_circle redaktur
- calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
- visibility 58
- comment 0 komentar
- print Cetak

Petugas Damkarmat menangani kebakaran lahan di Garut yang sempat mengancam permukiman dan sekolah, Kamis (3/9/26).(Dok. Dmakar Garut).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH — Kebakaran Garut kembali menjadi perhatian setelah Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kabupaten Garut menangani tujuh kebakaran lahan dalam sehari, Kamis, 3 September 2026. Kebakaran lahan Garut itu tersebar di tujuh kecamatan, mulai dari Cisompet hingga Selaawi. Sebagian kejadian berawal dari sisa pembakaran sampah yang kemudian merambat ke vegetasi kering.
Tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam seluruh kejadian tersebut. Meski begitu, api sempat mendekati rumah warga dan bangunan sekolah. Di lokasi lain, asap tebal bahkan mengganggu pengguna jalan.
Rangkaian kejadian ini menjadi perhatian karena muncul ketika kondisi lahan relatif kering dan angin dapat mempercepat penyebaran api.
Api Sempat Mengarah ke Rumah dan Sekolah
Salah satu kejadian berlangsung di kawasan DAS Sungai Cikaso, Kampung Bantar Warung, Kecamatan Cisompet, sekitar pukul 08.30 WIB.
Informasi yang dihimpun Disdamkarmat menyebut api bermula dari pembakaran sampah. Petugas kemudian melakukan penanganan agar api tidak merambat lebih jauh.
Hasilnya, petugas berhasil melokalisir kebakaran sehingga rumah warga dengan nilai sekitar Rp150 juta serta enam jiwa di sekitarnya dapat diselamatkan.
Situasi berbeda muncul di Kecamatan Tarogong Kaler pada siang hari. Sekitar pukul 14.35 WIB, kebakaran melanda kebun bambu di Kampung Lebak Gede, Desa Mekarwangi.
Api sempat mengancam permukiman dan bangunan sekolah dasar (SD). Petugas kemudian melakukan pemadaman hingga kondisi kembali terkendali.
Dua kejadian tersebut memperlihatkan risiko kebakaran lahan ketika material kering berada dekat dengan area yang dihuni masyarakat.
Karena itu, kebakaran di lahan terbuka tidak selalu berhenti di area vegetasi. Jika api bergerak mengikuti arah angin, permukiman atau fasilitas umum di sekitarnya bisa ikut terancam.
Pameungpeuk Butuh Penanganan Sekitar Lima Jam
Kebakaran di Kecamatan Pameungpeuk juga menjadi salah satu kejadian yang membutuhkan perhatian khusus.
Api muncul sekitar pukul 09.26 WIB di kebun warga dan lahan gambut Blok Baru Jati. Angin kencang serta kondisi medan yang terjal membuat proses penanganan berlangsung lebih lama.
Petugas membutuhkan waktu sekitar lima jam untuk menangani kebakaran tersebut.
Penanganannya pun melibatkan berbagai unsur. Selain Disdamkarmat, Satpol PP, Tagana, TNI/Polri, dan warga ikut membantu proses pemadaman.
Kolaborasi tersebut menjadi penting karena kebakaran lahan memiliki karakter berbeda dengan kebakaran bangunan. Petugas harus memperhitungkan medan, arah angin, kondisi tanaman, serta kemungkinan api kembali menyala.
Dengan kondisi seperti itu, titik api yang terlihat kecil tetap membutuhkan respons cepat.
Tujuh Kecamatan Masuk Laporan Kebakaran
Selain Cisompet, Pameungpeuk, dan Tarogong Kaler, laporan kebakaran Garut pada Kamis juga datang dari empat kecamatan lain.
Di Kecamatan Banjarwangi, kebakaran terjadi sekitar pukul 12.30 WIB di lahan pinggir jalan Kampung Terus Gunung, Desa Banjarwangi. Pos Sektor Singajaya menangani kejadian tersebut karena asap tebal mengganggu pengguna jalan.
Sekitar pukul 13.00 WIB, kebakaran berikutnya terjadi di lahan ilalang Kampung Ciawi Kepuh, Desa Majasari, Kecamatan Cibiuk. Area yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 250 meter persegi.
Lima menit kemudian, laporan kebakaran datang dari Kecamatan Banyuresmi. Api membakar kebun bambu di Kampung Serut, Desa Pamekarsari, dan petugas Mako Patriot melakukan penanganan.
Sementara itu, Kecamatan Selaawi menjadi lokasi laporan terakhir. Kebakaran terjadi sekitar pukul 17.33 WIB di kebun Kampung Nagrog, Desa Selaawi.
Dengan demikian, tujuh kecamatan yang masuk dalam rangkaian laporan tersebut adalah Cisompet, Pameungpeuk, Banjarwangi, Cibiuk, Banyuresmi, Tarogong Kaler, dan Selaawi.
Angka Kebakaran Lahan Garut Sudah Tinggi
Tujuh kejadian pada 3 September juga perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas.
Sebelumnya, data Disdamkarmat Kabupaten Garut hingga 13 Agustus 2026 mencatat 155 kejadian kebakaran lahan. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan 21 kejadian sepanjang 2025. Data pemerintah daerah mencatat kenaikan sekitar 638,1 persen jika dibandingkan dengan total kebakaran lahan sepanjang tahun sebelumnya.
Namun, angka tersebut merupakan data kumulatif hingga 13 Agustus dan tidak boleh disamakan dengan tujuh kejadian yang ditangani pada 3 September.
Data tersebut tetap menunjukkan bahwa kebakaran lahan menjadi salah satu risiko yang perlu mendapat perhatian serius di Garut pada 2026.
Terlebih, vegetasi kering dan aktivitas yang menggunakan api di area terbuka dapat meningkatkan risiko ketika kondisi cuaca mendukung penyebaran api.
Pembakaran Sampah Jangan Ditinggalkan
Rangkaian kebakaran lahan Garut pada Kamis juga membawa pesan sederhana bagi masyarakat.
Api yang digunakan untuk membakar sampah atau rumput tidak boleh ditinggalkan begitu saja.
Sisa bara dapat kembali menyala. Ketika berada di dekat ilalang, kebun bambu, semak, atau material kering lainnya, api dapat merambat lebih cepat, terutama saat angin bertiup.
Karena itu, Disdamkarmat mengimbau masyarakat agar tidak membakar sampah maupun rumput secara sembarangan ketika cuaca kering dan berangin.
Jika pembakaran tetap dilakukan sesuai kondisi dan ketentuan setempat, masyarakat harus memastikan seluruh bara benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi.
Warga juga perlu segera melapor apabila menemukan titik api yang mulai sulit dikendalikan. Penanganan sejak awal dapat membantu mencegah api mendekati permukiman atau fasilitas umum.
Tujuh kejadian pada satu hari memang tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka. Namun, beberapa lokasi menunjukkan bahwa jarak antara api di lahan terbuka dan keselamatan warga bisa menjadi sangat dekat.
Tujuh kebakaran dalam sehari tanpa korban bukan alasan untuk lengah. Justru di situlah peringatannya: ketika lahan mengering dan angin menguat, satu bara yang ditinggalkan bisa berubah menjadi api yang mengejar rumah dan sekolah. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar