Orangutan Sempurna Mati, Nekropsi Ungkap Perubahan pada Paru-paru
- account_circle redaktur
- calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
- visibility 47
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi orangutan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HUMANIORA — Kabar duka datang dari Kalimantan Barat. Orangutan Sempurna, orangutan jantan dewasa yang ditemukan dalam kondisi sangat lemah di Kabupaten Ketapang, akhirnya mati setelah sempat mendapat penanganan medis. Hasil pemeriksaan setelah kematiannya menemukan perubahan patologis pada paru-paru, jantung, dan ginjal yang kemudian menjadi bagian penting dalam penelusuran dugaan penyebab kematiannya.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat mengonfirmasi Sempurna mati pada Minggu, 30 Agustus 2026. Sebelumnya, warga menemukan satwa tersebut di Dusun Sempurna, Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang.
Nama Sempurna sendiri diambil dari lokasi tempat orangutan itu ditemukan. Saat pertama kali dilaporkan, kondisinya sudah mengkhawatirkan. Ia berada di dalam parit kering di kawasan perkebunan kelapa sawit milik warga dan tidak mampu berdiri.
Gangguan pernapasan juga terlihat ketika tim tiba di lokasi.
Warga Menemukan Sempurna dalam Kondisi Lemah
Laporan masyarakat menjadi awal dari upaya penyelamatan. Sekitar pukul 07.00 WIB pada 30 Agustus, warga melaporkan keberadaan orangutan tersebut kepada petugas.
BKSDA Kalimantan Barat bersama Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI) kemudian mendatangi lokasi. Tim menemukan Sempurna hanya mampu bergerak secara terbatas.
Pertolongan pun segera diberikan.
Tim memasang terapi oksigen dan memberikan cairan melalui infus. Setelah itu, petugas membawa Sempurna ke pusat rehabilitasi YIARI sekitar pukul 11.30 WIB agar mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Namun, kondisi orangutan tersebut justru terus memburuk.
Sekitar pukul 14.00 WIB, pernapasan Sempurna semakin dangkal. Saturasi oksigen juga tidak terdeteksi. Tim medis kemudian melakukan resusitasi jantung dan paru atau cardiopulmonary resuscitation (CPR).
Upaya tersebut belum berhasil.
Sempurna akhirnya dinyatakan mati sekitar pukul 15.20 WIB pada hari yang sama.
Nekropsi Menunjukkan Perubahan pada Paru-paru
Kematian Sempurna tidak langsung mengakhiri pemeriksaan. Tim melakukan nekropsi pada 1 September 2026 untuk mengetahui kondisi kesehatan sekaligus faktor yang kemungkinan berkontribusi terhadap kematiannya.
Hasil pemeriksaan menemukan perubahan patologis pada sejumlah organ. Paru-paru menjadi salah satu bagian yang mendapat perhatian, selain jantung dan ginjal.
Pada paru-paru, pemeriksa menemukan kongesti serta atelektasis parsial, terutama pada bagian kaudoventral kedua lobus paru-paru.
Dalam konteks kasus Sempurna, temuan tersebut penting karena sejak ditemukan satwa ini sudah mengalami gangguan pernapasan.
Berdasarkan riwayat kondisi klinis dan hasil pemeriksaan, BKSDA menyebut perubahan patologis pada paru-paru diduga berkaitan dengan paparan asap. Paparan tersebut berpotensi mengganggu fungsi paru-paru dan menyebabkan hipoksia akut, yakni kondisi ketika tubuh mengalami kekurangan oksigen.
Kondisi itu selanjutnya diduga berkontribusi terhadap gangguan fungsi kardiovaskular hingga menyebabkan kematian Sempurna.
Artinya, hubungan antara asap karhutla dan kematian Sempurna perlu disampaikan secara hati-hati. Sumber resmi menggunakan istilah “diduga”, sehingga tidak tepat jika kematian tersebut diberitakan sebagai akibat tunggal asap karhutla tanpa atribusi.
Sempurna dan Sisi Lain Dampak Karhutla
Kasus Sempurna memperlihatkan sisi lain dari kebakaran hutan dan lahan. Dampaknya bukan hanya persoalan api, lahan terbakar, atau gangguan aktivitas manusia.
Satwa liar juga menghadapi risiko ketika kondisi lingkungan berubah drastis.
Sempurna ditemukan dalam keadaan kritis di kawasan perkebunan. Ia kemudian mendapatkan pertolongan dari tim penyelamat, tetapi kondisi fisiknya tidak mampu bertahan hingga proses perawatan selesai.
Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane menyampaikan duka atas kematian Sempurna. Ia sekaligus mengapresiasi warga yang melaporkan keberadaan orangutan tersebut kepada petugas.
Menurut Murlan, laporan masyarakat memiliki peran penting dalam penyelamatan satwa liar, terutama ketika satwa ditemukan sakit, terluka, atau terdampak kebakaran hutan dan lahan.
Karena itu, BKSDA Kalbar meminta masyarakat tidak mencoba menangani sendiri satwa liar yang berada dalam kondisi darurat. Warga diminta segera menghubungi petugas agar satwa dapat memperoleh penanganan yang sesuai.
Untuk wilayah Kabupaten Ketapang, BKSDA Kalbar mencantumkan Call Center 08115776767 dan 08115670041 sebagai saluran pelaporan.
Sempurna memang tidak berhasil diselamatkan. Namun, kasus ini memperlihatkan betapa pentingnya respons cepat ketika satwa liar ditemukan dalam kondisi kritis.
Ada satu hal yang juga tidak boleh hilang dari cerita tersebut: warga yang menemukan dan melaporkan Sempurna telah membuka kesempatan bagi petugas untuk memberikan pertolongan.
Sayangnya, kesempatan itu akhirnya tidak cukup untuk menyelamatkan nyawanya.
Sempurna pergi tanpa sempat kembali ke hutan. Tetapi kematiannya meninggalkan pesan yang jauh lebih besar: ketika karhutla membakar lingkungan, yang hilang bukan hanya pepohonan—ada kehidupan yang ikut kehilangan udara untuk bernapas. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar