Syubbanul Yaum Rijalul Ghad: Hadis atau Sekadar Ungkapan?
- account_circle redaktur
- calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
- visibility 34
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi Syubbanul Yaum Rijalul Ghad tentang pemuda sebagai calon pemimpin masa depan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Syubbanul Yaum Rijalul Ghad sering dimaknai sebagai “pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan”. Ungkapan yang populer dalam pendidikan, pesantren, organisasi kepemudaan, dan forum kebangsaan itu terdengar sederhana. Namun, ada satu pertanyaan yang justru lebih penting: benarkah Syubbanul Yaum Rijalul Ghad merupakan hadis Nabi Muhammad SAW?
Pertanyaan tersebut layak diajukan karena sebuah kalimat tidak otomatis menjadi hadis hanya karena sering disampaikan dalam ceramah atau forum keagamaan. Di sinilah ketelitian diperlukan. Sebab, dalam tradisi keilmuan Islam, menyandarkan sebuah perkataan kepada Rasulullah SAW bukan perkara sepele.
Kadang-kadang, sebuah kalimat terlalu sering dikutip sampai sumber aslinya terlupakan.
Syubbanul Yaum Rijalul Ghad, Hadis atau Pepatah?
شُبَّانُ الْيَوْمِ رِجَالُ الْغَدِ
Secara makna, Syubbanul Yaum Rijalul Ghad membawa pesan tentang pentingnya menyiapkan generasi muda untuk menghadapi tanggung jawab masa depan.
Namun, ungkapan tersebut tidak sepatutnya disebut sebagai hadis Nabi tanpa dasar riwayat yang jelas. Untuk kepentingan penulisan keagamaan, pendidikan, maupun jurnalistik, pilihan redaksional yang lebih aman adalah menyebutnya sebagai ungkapan atau pepatah yang populer di dunia pendidikan dan kepemudaan.
Pembedaan ini penting. Hadis memiliki jalur periwayatan dan standar penelitian tersendiri. Sementara itu, pepatah dapat memiliki pesan yang baik tanpa harus berasal dari Rasulullah SAW.
Dengan demikian, seseorang tetap dapat menggunakan Syubbanul Yaum Rijalul Ghad sebagai semboyan pendidikan pemuda. Yang perlu dihindari adalah memberikan label “sabda Nabi” jika sumbernya tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Justru di sinilah pelajaran pertamanya: anak muda harus dibiasakan menghargai kebenaran, bukan sekadar mengulang sesuatu karena sudah populer.
Islam Memuliakan Pemuda yang Bertumbuh dalam Kebaikan
Menariknya, meskipun ungkapan tersebut tidak perlu disandarkan kepada Nabi, semangatnya memiliki titik temu dengan ajaran Islam.
Rasulullah SAW menyebut seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah sebagai salah satu dari tujuh golongan yang memperoleh naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya.
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Dalam Shahih Bukhari, hadis itu tercatat sebagai nomor 660, sedangkan dalam Shahih Muslim tercantum sebagai 1031a.
Pesannya sangat jelas.
Islam tidak melihat masa muda hanya sebagai periode untuk mengejar kesenangan. Masa muda juga merupakan kesempatan membangun iman, ilmu, karakter, dan tanggung jawab.
Karena itu, pemuda yang dipersiapkan menjadi pemimpin bukan hanya pemuda yang pandai berbicara di depan banyak orang. Ia juga harus mampu mengendalikan diri ketika tidak ada yang melihat.
Itulah ukuran kepemimpinan yang sering luput dari panggung.
Ashabul Kahfi: Ketika Pemuda Memilih Mempertahankan Prinsip
Al-Qur’an bahkan memberikan perhatian khusus kepada sekelompok pemuda dalam kisah Ashabul Kahfi.
Allah SWT berfirman dalam QS Al-Kahfi ayat 13:
“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami menambahkan kepada mereka petunjuk.”
Ayat tersebut menggambarkan Ashabul Kahfi sebagai para pemuda yang memiliki iman dan kemudian memperoleh tambahan petunjuk dari Allah.
Kisah ini menarik jika dibaca dalam konteks kepemudaan.
Para pemuda tersebut tidak digambarkan sebagai generasi yang sekadar mengikuti keadaan. Mereka menghadapi lingkungan yang bertentangan dengan keyakinannya, kemudian mengambil sikap berdasarkan prinsip yang mereka yakini.
Artinya, keberanian pemuda tidak selalu berupa keberanian berbicara paling keras.
Kadang, keberanian justru muncul ketika seseorang mampu mengatakan tidak kepada sesuatu yang salah meskipun pilihan itu tidak populer.
Di sinilah makna Syubbanul Yaum Rijalul Ghad menjadi lebih substantif.
Pemimpin masa depan membutuhkan keberanian moral, bukan sekadar keberanian tampil.
Pemimpin Masa Depan Tidak Lahir dari Popularitas
Ada satu jebakan besar generasi digital: menganggap popularitas sebagai bukti kualitas.
Seorang pemuda bisa viral dalam satu malam. Sebuah video dapat memperoleh ribuan komentar sebelum fakta sebenarnya diperiksa. Bahkan, opini yang paling keras kadang justru mendapatkan perhatian paling besar.
Namun, menjadi terkenal tidak sama dengan menjadi matang.
Pemimpin membutuhkan kemampuan membaca persoalan, mendengar kritik, mengendalikan emosi, menghormati perbedaan, dan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang masuk akal.
Selain itu, kepemimpinan dalam Islam tidak hanya berkaitan dengan jabatan.
Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap orang adalah pemimpin dan setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.
Pesan tersebut membuat konsep kepemimpinan menjadi jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Seorang pemuda belajar memimpin ketika mampu bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Setelah itu, ia belajar mengemban amanah di keluarga, organisasi, masyarakat, hingga ruang publik.
Jadi, calon pemimpin tidak perlu menunggu mendapatkan kursi terlebih dahulu untuk belajar bertanggung jawab.
Dari Slogan Menjadi Tanggung Jawab
Karena itu, Syubbanul Yaum Rijalul Ghad sebaiknya tidak berhenti sebagai slogan yang terdengar bagus di spanduk seminar.
Ungkapan tersebut justru dapat menjadi pertanyaan kepada generasi muda.
Apa yang sedang dipelajari hari ini?
Karakter seperti apa yang sedang dibangun?
Apakah kemampuan menggunakan media sosial sudah diimbangi kemampuan memeriksa informasi?
Apakah keberanian menyampaikan pendapat sudah diikuti kesediaan menerima kritik?
Dan yang paling penting, apakah ambisi menjadi pemimpin sudah diikuti kesiapan memikul amanah?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena masa depan tidak hanya membutuhkan orang pintar. Masa depan membutuhkan orang yang dapat dipercaya.
Pemuda memang akan bertambah usia. Namun, bertambah usia tidak otomatis membuat seseorang bertambah matang.
Kematangan lahir dari proses.
Ia tumbuh melalui ilmu, pengalaman, disiplin, kegagalan, koreksi, pengabdian, dan kesediaan mempertanggungjawabkan pilihan.
Syubbanul Yaum Rijalul Ghad lebih tepat dipahami sebagai ungkapan atau pepatah tentang pentingnya mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depan, bukan sebagai hadis Nabi yang disandarkan tanpa sumber yang jelas.
Pesannya tetap relevan. Bahkan, pesan tersebut dapat diperkuat dengan dalil yang sahih tentang keutamaan pemuda yang tumbuh dalam ibadah serta ayat Al-Qur’an mengenai pemuda Ashabul Kahfi.
Dengan begitu, semangatnya tetap hidup, tetapi ketelitian ilmiahnya juga terjaga.
Sebab, pemuda hari ini memang calon pemimpin masa depan. Namun, waktu hanya membuat seseorang bertambah tua. Ilmu, akhlak, amanah, dan keberanianlah yang membuatnya layak memimpin.
Masa depan tidak membutuhkan pemuda yang sekadar ingin dikenal. Masa depan membutuhkan pemuda yang ketika diberi amanah, tidak bertanya “apa yang saya dapat?”, tetapi “apa yang harus saya pertanggungjawabkan?” (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar