Al-A’raf 179: Mengapa Manusia Disebut Lebih Sesat?
- account_circle redaktur
- calendar_month Minggu, 16 Agt 2026
- visibility 53
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi makna kal-an’am bal hum adhall dalam QS Al-A’raf 179 tentang hati, mata, telinga, dan kelalaian manusia.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Ada satu ungkapan dalam Al-Qur’an yang terdengar sangat keras: kal-an’am bal hum adhall. Potongan QS Al-A’raf ayat 179 ini berarti “seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi”. Namun, ayat tersebut bukan sekadar perbandingan yang merendahkan manusia. Di dalamnya terdapat peringatan tentang hati yang tidak mau memahami, mata yang tidak digunakan untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah, serta telinga yang tidak digunakan untuk menerima petunjuk.
Pesannya terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Manusia bisa melihat banyak hal, mendengar banyak nasihat, dan memiliki pengetahuan yang luas. Akan tetapi, semua itu belum tentu membuat seseorang semakin dekat kepada kebenaran.
Lantas, apa sebenarnya makna kal-an’am bal hum adhall dalam QS Al-A’raf 179?
Kal-An’am Bal Hum Adhall dalam QS Al-A’raf 179
Allah SWT berfirman:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Artinya:
“Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) Jahanam. Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.”
Ayat tersebut menyebut tiga hal penting: hati, mata, dan telinga.
Ketiganya merupakan nikmat sekaligus amanah. Manusia tidak hanya diminta memiliki kemampuan untuk melihat dan mendengar. Ia juga dituntut menggunakan kemampuan tersebut untuk memahami petunjuk Allah.
Karena itu, persoalannya bukan semata-mata apakah seseorang memiliki mata, telinga, dan hati.
Persoalannya adalah untuk apa semua itu digunakan.
Mengapa Manusia Disebut Seperti Hewan Ternak?
Ungkapan kal-an’am bal hum adhall sering dipahami secara terpotong. Padahal, ayat tersebut memberikan alasan sebelum sampai pada perumpamaan itu.
Manusia dalam ayat tersebut digambarkan memiliki hati, mata, dan telinga, tetapi tidak menggunakannya untuk memahami ayat Allah, melihat tanda-tanda kekuasaan-Nya, dan mendengar petunjuk. Karena itu, mereka disebut seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat, kemudian ditutup dengan istilah al-ghafilun, yakni orang-orang yang lalai.
Dalam penjelasan tafsir, perumpamaan tersebut berkaitan dengan manusia yang tidak mengambil pelajaran dari apa yang mereka lihat dan dengar. Dengan kata lain, masalahnya bukan terletak pada kemampuan inderawi, melainkan pada kegagalan menggunakan karunia tersebut untuk mencari dan mengikuti kebenaran.
Di sinilah ayat itu menjadi sangat kuat.
Hewan hidup dengan naluri yang Allah berikan. Manusia mendapat tambahan berupa akal, kemampuan memahami, dan tanggung jawab moral. Maka, ketika manusia mengetahui jalan yang benar tetapi sengaja berpaling, Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat tegas.
Bukan Ayat untuk Sibuk Menghakimi Orang Lain
Ada satu hal yang perlu diperhatikan ketika membaca Al-A’raf 179.
Ayat ini jangan dijadikan senjata untuk mudah menyebut orang lain sebagai “lebih sesat”. Al-Qur’an seharusnya pertama-tama menjadi cermin untuk memperbaiki diri.
Sebab, seseorang bisa saja rajin membaca Al-Qur’an, mendengar ceramah, dan mengetahui banyak nasihat agama. Namun, pengetahuan itu belum tentu membentuk akhlaknya.
Begitu pula seseorang bisa melihat kemiskinan, ketidakadilan, atau penderitaan di sekelilingnya. Tetapi jika semua itu tidak membuat hatinya tergerak untuk berbuat baik, maka penglihatannya belum menghasilkan pelajaran.
Begitu juga dengan telinga.
Mendengar nasihat tidak otomatis berarti mengambil nasihat. Ada orang yang berkali-kali mendengar peringatan tentang dosa, tetapi tetap mengulanginya tanpa rasa takut.
Karena itu, kal-an’am bal hum adhall lebih baik dibaca sebagai pertanyaan kepada diri sendiri:
Apakah hati saya masih mau menerima kebenaran?
Hati, Mata, dan Telinga Adalah Amanah
QS Al-A’raf 179 memperlihatkan hubungan yang menarik antara indera manusia dan hati.
Mata menerima apa yang terlihat. Telinga menerima apa yang terdengar. Namun, manusia tetap membutuhkan hati dan akal untuk mengambil pelajaran.
Karena itu, memiliki banyak informasi belum tentu membuat seseorang bijaksana.
Di zaman ketika informasi datang tanpa henti, seseorang dapat melihat ribuan gambar dan membaca ribuan berita dalam waktu singkat. Ia juga dapat mendengar nasihat agama melalui berbagai platform.
Namun, pertanyaan terpenting tetap sama:
Apakah semua yang dilihat dan didengar itu membuat hati semakin dekat kepada Allah?
Jika jawabannya tidak, mungkin yang perlu diperbaiki bukan jumlah informasi, melainkan cara manusia menyikapinya.
Hadis tentang Hati Memperkuat Pesan Ayat
Peringatan tentang hati juga sejalan dengan hadis Rasulullah SAW tentang pentingnya menjaga hati.
Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika bagian itu baik, baik pula seluruh tubuh; jika rusak, rusak pula seluruh tubuh. Rasulullah SAW kemudian menjelaskan bahwa bagian tersebut adalah hati. Hadis ini tercatat dalam Shahih Bukhari nomor 52 dan Shahih Muslim nomor 1599.
Pesannya sangat jelas.
Perubahan manusia tidak cukup berhenti pada penampilan luar. Hati juga harus mendapatkan perhatian.
Sebab, dari hati lahir sikap, pilihan, dan tindakan. Ketika hati terbiasa menerima kebenaran, seseorang lebih mudah memperbaiki diri. Sebaliknya, hati yang keras dapat membuat nasihat hanya lewat sebentar tanpa meninggalkan bekas.
Apa Pelajaran Al-A’raf 179 untuk Kehidupan Hari Ini?
Pesan kal-an’am bal hum adhall masih relevan dalam kehidupan modern.
Manusia hari ini memiliki akses pengetahuan yang jauh lebih luas. Namun, kemudahan mendapatkan informasi tidak selalu sejalan dengan kedalaman kesadaran.
Karena itu, QS Al-A’raf 179 mengajak manusia berhenti sejenak dan mengevaluasi tiga hal.
Pertama, periksa hati.
Apakah hati masih lembut ketika menerima nasihat?
Kedua, periksa mata.
Apakah penglihatan digunakan untuk mengambil pelajaran atau justru mengejar sesuatu yang menjauhkan dari kebaikan?
Ketiga, periksa telinga.
Apakah kita hanya mendengar sesuatu yang menyenangkan, atau juga bersedia mendengar kebenaran yang terasa pahit?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat ayat ini terasa personal.
Bukan lagi tentang siapa yang disebut “lebih sesat”, melainkan tentang bagaimana agar diri sendiri tidak menjadi orang yang lalai.
Jangan Sampai Nasihat Hanya Berhenti di Telinga
Pada akhirnya, kal-an’am bal hum adhall bukan sekadar potongan ayat yang menarik untuk dicari artinya. Ia adalah peringatan tentang bahaya kehilangan fungsi batiniah dari nikmat yang telah Allah berikan.
Mata seharusnya membawa manusia kepada kesadaran.
Telinga seharusnya membuka jalan menuju nasihat.
Hati seharusnya menjadi tempat manusia memahami kebenaran dan mengambil pelajaran.
Ketika ketiganya bekerja bersama, ilmu tidak berhenti sebagai informasi. Nasihat berubah menjadi tindakan. Dan pengetahuan agama perlahan membentuk akhlak.
Yang paling mengkhawatirkan bukan ketika seseorang tidak melihat kebenaran. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika kebenaran sudah terlihat, nasihat sudah terdengar, hati sudah memahami—tetapi manusia tetap memilih berpaling. Di situlah QS Al-A’raf 179 berubah dari sekadar ayat yang dibaca menjadi cermin yang menuntut kita bercermin. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar