Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Jangan Tinggalkan Dzikir Hanya Karena Hati Belum Khusyuk

Jangan Tinggalkan Dzikir Hanya Karena Hati Belum Khusyuk

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Rabu, 19 Agt 2026
  • visibility 48
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Ada ironi dalam kehidupan kita: untuk mengingat banyak hal duniawi, kita tidak membutuhkan suasana hati yang sempurna. Kita bisa mengingat tagihan, pekerjaan, pesan WhatsApp, jadwal rapat, bahkan komentar orang yang membuat kesal. Namun, ketika hendak dzikir atau mengingat Allah, sebagian dari kita justru merasa harus menunggu hati benar-benar tenang dan khusyuk.

Pesan Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam menawarkan cara pandang yang berbeda. Jangan meninggalkan dzikir hanya karena hati belum sepenuhnya hadir. Sebab, perjalanan mendekat kepada Allah memang tidak selalu dimulai dari keadaan batin yang sempurna.

Pesannya sederhana, tetapi cukup menampar: jangan berhenti mengingat Allah hanya karena merasa belum menjadi orang yang baik.

Dzikir Tidak Harus Menunggu Hati Sempurna

Dalam salah satu hikmah yang dinisbatkan kepada Ibnu Athaillah, terdapat nasihat agar seorang hamba tidak meninggalkan dzikir hanya karena belum mampu menghadirkan hati secara sempurna.

Nasihat ini bukan berarti kelalaian dalam berdzikir merupakan sesuatu yang ideal. Justru sebaliknya. Dzikir dapat menjadi latihan untuk membawa hati perlahan-lahan menuju kesadaran yang lebih dalam.

Pada awalnya, seseorang mungkin menggerakkan lisan sementara pikirannya masih ke mana-mana. Beberapa saat kemudian, ia mulai memahami makna yang diucapkan. Setelah terbiasa, hatinya dapat semakin hadir. Dari sanalah dzikir tidak lagi sekadar rangkaian kata, tetapi menjadi pengingat tentang hubungan manusia dengan Allah.

Karena itu, keutamaan dzikir tidak hanya terletak pada banyaknya lafaz yang terucap. Ada proses pembentukan kesadaran di dalamnya.

Maka, jangan menunggu hati sempurna untuk mulai berdzikir.

Justru berdzikirlah sambil belajar memperbaiki hati.

Al-Qur’an Memerintahkan Mengingat Allah

Al-Qur’an memberikan landasan yang sangat jelas tentang pentingnya mengingat Allah.

Allah berfirman:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.”

(QS. Al-Baqarah: 152)

Ayat tersebut menunjukkan hubungan yang sangat kuat antara dzikir dan kedekatan seorang hamba kepada Allah. Perintah itu juga tidak membatasi manusia hanya mengingat Allah ketika sedang berada dalam kondisi tertentu.

Al-Qur’an bahkan menggambarkan orang-orang yang menggunakan akalnya sebagai mereka yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring.

Allah berfirman:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan dalam keadaan berbaring.”

(QS. Ali ‘Imran: 191)

Pesannya jelas. Mengingat Allah bukan aktivitas yang hanya berlangsung ketika seseorang berada di masjid, majelis ilmu, atau sedang memegang tasbih.

Dzikir dapat hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Saat bekerja, seseorang dapat mengingat Allah. Ketika menunggu, ia dapat memperbanyak istighfar. Ketika memperoleh nikmat, ia dapat mengucapkan hamdalah. Bahkan ketika menghadapi masalah, ia tetap dapat menyebut nama Allah dan memohon pertolongan-Nya.

Hadis Qudsi Menggambarkan Kedekatan Allah

Pesan tersebut juga sejalan dengan hadis qudsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra.

Dalam hadis tersebut, Allah berfirman:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي

“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku.”

Hadis tersebut kemudian menggambarkan kedekatan seorang hamba kepada Allah dengan perumpamaan yang kuat: ketika seorang hamba mendekat kepada Allah sejengkal, Allah mendekat kepadanya sehasta; ketika ia mendekat sehasta, Allah mendekat kepadanya sedepa; dan ketika ia datang kepada Allah dengan berjalan, Allah datang kepadanya dengan cepat.

Makna hadis ini tentu bukan jarak fisik sebagaimana hubungan antara manusia. Para ulama menjelaskan bahwa ungkapan tersebut menggambarkan keluasan rahmat, pertolongan, penerimaan, dan kedekatan Allah kepada hamba yang berusaha mendekat kepada-Nya.

Dengan demikian, langkah kecil tidak layak diremehkan.

Satu istighfar mungkin terdengar sederhana. Satu tasbih mungkin terasa biasa. Namun, kebiasaan mengingat Allah dapat menjadi jalan untuk menjaga hati tetap terhubung kepada-Nya.

Jangan Jadikan “Belum Khusyuk” Sebagai Alasan Berhenti

Di sinilah pesan Al-Hikam terasa sangat dekat dengan kehidupan modern.

Kita sering menunda sesuatu karena menunggu kondisi ideal. “Nanti kalau sudah tenang.” “Nanti kalau masalah selesai.” “Nanti kalau hati sudah benar-benar ikhlas.”

Masalahnya, kondisi ideal itu sering tidak pernah datang.

Hari ini pekerjaan menumpuk. Besok ada persoalan keluarga. Lusa muncul urusan lain. Setelah satu masalah selesai, masalah berikutnya datang. Jika dzikir harus menunggu hidup benar-benar tenang, kapan kita akan mulai mengingat Allah?

Karena itu, berdzikir kepada Allah seharusnya tidak menjadi aktivitas yang hanya muncul ketika suasana hati sedang nyaman.

Justru ketika pikiran berantakan, dzikir dapat menjadi pengingat agar manusia tidak kehilangan arah.

Namun, ada satu catatan penting: dzikir bukan sekadar gerakan lisan. Seseorang tetap perlu belajar memahami maknanya, menjaga adabnya, dan menghadirkan kesadaran sedikit demi sedikit.

Tujuannya bukan sekadar banyak menyebut nama Allah, tetapi agar ingatan kepada Allah memberi pengaruh pada perilaku.

Lisan berdzikir, tetapi perkataan juga harus dijaga.

Hati mengingat Allah, tetapi hati juga perlu belajar menjauhi kesombongan.

Tangan terbiasa mengangkat tasbih, tetapi tangan yang sama semestinya tidak ringan menyakiti orang lain.

Di situlah dzikir menemukan buahnya dalam kehidupan.

Dzikir Sepanjang Hari, Bukan Hanya Setelah Masalah Datang

Allah juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ۝ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”

(QS. Al-Ahzab: 41–42)

Ayat tersebut menunjukkan luasnya ruang untuk berdzikir. Pagi dan petang disebutkan sebagai bagian dari waktu yang dapat diisi dengan mengingat Allah.

Karena itu, dzikir tidak perlu menunggu seseorang masuk ke dalam situasi krisis.

Jangan baru mencari istighfar ketika masalah datang. Jangan baru mengingat Allah ketika semua pintu terasa tertutup. Jangan baru membuka tasbih ketika hati sudah tidak menemukan tempat untuk mengadu.

Biasakan sebelum keadaan memaksa.

Sebab hati yang terbiasa mengingat Allah akan memiliki pegangan ketika kehidupan berubah arah.

Pesan Ibnu Athaillah untuk Manusia yang Sering Menunda

Pada akhirnya, nasihat Ibnu Athaillah bukan sekadar tentang berapa banyak kalimat dzikir yang keluar dari lisan.

Pesannya lebih dalam: jangan menjadikan ketidaksempurnaan sebagai alasan untuk menjauh dari Allah.

Jika hati belum khusyuk, teruslah belajar khusyuk.

Jika pikiran masih sering berkelana, kembalikan perlahan.

Jika dzikir masih terasa hambar, jangan buru-buru meninggalkannya.

Sebab manusia memang tidak selalu datang kepada Allah dalam keadaan sempurna. Ada yang datang dengan hati tenang. Ada yang datang sambil menangis. Ada pula yang datang dengan pikiran penuh kekacauan.

Yang penting, ia tetap datang.

Dan mungkin, justru di situlah rahasia nasihat Al-Hikam: jangan menunggu menjadi sempurna untuk berdzikir, karena bisa jadi dzikir itulah yang sedang Allah jadikan jalan untuk memperbaiki kita.

Jangan menunggu hati bersih untuk mengingat Allah. Bisa jadi, hati yang kotor itulah alasan mengapa kita harus lebih banyak berdzikir. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kartu Kredit Indonesia

    Kartu Kredit Indonesia Resmi Meluncur, Apa Bedanya dengan Visa?

    • calendar_month Jumat, 21 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 42
    • 0Komentar

    AlbadarPost.com, BERITA NASIONAL — Kartu Kredit Indonesia (KKI) resmi diluncurkan Bank Indonesia (BI) pada 17 Agustus 2026. Instrumen pembayaran ini membawa konsep berbeda karena transaksi KKI menggunakan infrastruktur pembayaran nasional, sementara kartu berprinsipal internasional seperti Visa dan Mastercard memanfaatkan jaringan pembayaran global. Namun, kehadiran KKI bukan berarti Visa dan Mastercard akan ditinggalkan. BI menempatkan KKI […]

  • Nabi Ayub AS

    Kisah Keteladanan Nabi Ayub AS

    • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 219
    • 0Komentar

    Kisah Nabi Ayub AS mengajarkan keteguhan iman saat kehilangan harta, keluarga, dan kesehatan. albadarpost.com, LIFESTYLE – Kisah Nabi Ayub AS kembali relevan dibaca di tengah kehidupan modern yang rentan guncangan. Dalam sejarah kenabian, Nabi Ayub AS dikenal sebagai simbol keteguhan iman ketika kehilangan harta, keluarga, dan kesehatan secara berlapis. Cerita ini penting bukan sebagai romantisasi […]

  • Ilustrasi reflektif La Tahzan sebagai pesan Allah dalam Surah At-Taubah untuk menenangkan hati dan mengelola kecemasan hidup

    La Tahzan: Ini Pesan Allah untuk Hati yang Cemas

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 202
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Ada masa ketika cemas datang tanpa suara. Dada terasa sesak, pikiran berisik, dan hati lelah menahan beban yang tak terlihat. La Tahzan —jangan bersedih— hadir bukan sebagai nasihat kosong, melainkan sebagai pelukan ilahi yang menenangkan jiwa. Dalam Surah At-Taubah, pesan ini menjadi jawaban bagi mereka yang sedang berjuang mengelola cemas dan mencari […]

  • Ilustrasi gedung Baznas RI sebagai simbol penetapan dan penyesuaian zakat fitrah berdasarkan harga beras di daerah Indonesia

    Harga Beras Naik, Zakat Fitrah Menyesuaikan? Ini Penjelasan Baznas RI

    • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 197
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Badan Amil Zakat Nasional Republik Indonesia (Baznas RI) kembali menegaskan bahwa zakat fitrah tidak harus diseragamkan secara kaku di seluruh wilayah Indonesia. Meski secara nasional Baznas RI menetapkan nilai zakat fitrah sebesar Rp50.000 per jiwa pada Ramadhan 1447 Hijriah, pelaksanaannya tetap memperhatikan kondisi harga beras di masing-masing daerah. Pendekatan ini dinilai lebih […]

  • doa ilmu bermanfaat

    Kenapa Ilmu Tidak Mengubah Hidup? Ini Doa yang Sering Dilupakan

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 173
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Doa ilmu bermanfaat sering dibaca, tetapi tidak semua orang merasakan dampaknya. Banyak yang rajin belajar, menghafal, bahkan mengikuti berbagai kajian. Namun anehnya, ilmu itu terasa “tidak hidup”. Tidak menenangkan, tidak membimbing, bahkan tidak mengubah perilaku. Di sinilah kita perlu memahami doa agar diberi ilmu bermanfaat, bukan sekadar membacanya, tetapi menjadikannya kunci agar […]

  • Larangan ASN Bandung

    Pemkot Bandung Tunda Perjalanan ASN demi Stabilitas Layanan Nataru

    • calendar_month Senin, 8 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 222
    • 0Komentar

    Pemkot Bandung menerapkan larangan ASN Bandung ke luar negeri untuk menjaga layanan publik selama Nataru 2025–2026. albadarpost.com, LENSA – Larangan ASN Bandung diberlakukan Pemerintah Kota Bandung selama periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Kebijakan ini menentukan bagaimana pelayanan publik tetap stabil di tengah lonjakan aktivitas warga pada masa libur panjang. Wali Kota Bandung […]

expand_less