14 Guru Masuk 14 SD, Model Baru untuk Pendidikan Berkualitas
- account_circle redaktur
- calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
- visibility 65
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi Guru SD Teach First Indonesia mengajar di sekolah dasar Kota Serang.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HUMANIORA — Sebanyak 14 guru dari program fellowship Teach First Indonesia (TFI) mulai mengajar di 14 sekolah dasar (SD) di Kota Serang, Banten. Para guru SD tersebut akan menjalankan tugas selama dua tahun, terutama di sekolah-sekolah kawasan pinggiran yang membutuhkan penguatan tenaga pendidik. Kehadiran mereka bukan hanya menambah tenaga pengajar, tetapi juga membawa pengalaman dan pendekatan pembelajaran baru ke lingkungan sekolah.
Program yang mulai berjalan pada Agustus 2026 itu merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kota Serang dan Teach First Indonesia. Kerja sama keduanya sebelumnya dituangkan dalam nota kesepahaman pada Desember 2025. Kini, 14 fellow tersebut mulai menjalankan tugas sebagai guru kelas di sekolah dasar.
Namun, ada pertanyaan yang lebih menarik daripada sekadar berapa jumlah guru yang datang.
Bisakah satu guru di satu sekolah membawa perubahan yang lebih luas terhadap kualitas pendidikan?
Jawabannya belum bisa diketahui sekarang. Program tersebut baru memasuki tahap pelaksanaan. Karena itu, dampaknya terhadap mutu pembelajaran masih membutuhkan waktu dan evaluasi.
Bukan Sekadar Menambah Guru
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Serang Ahmad Nuri mengatakan kehadiran para fellow menjadi tambahan tenaga pendidik sekaligus membawa energi baru bagi sekolah.
Para peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Beberapa di antaranya memiliki pengalaman mengajar di wilayah seperti Papua, Sulawesi Tengah, dan Ambon. Latar pengalaman yang beragam tersebut diharapkan dapat memperkaya perspektif pembelajaran di sekolah tempat mereka bertugas.
Karena itu, program ini menarik jika dilihat dari sisi kolaborasi.
Sekolah tidak hanya menerima guru tambahan. Pada saat yang sama, para fellow membawa pengalaman, gagasan, dan praktik pembelajaran yang mereka peroleh dari lingkungan pendidikan lain.
Jika pertukaran tersebut berjalan baik, manfaatnya berpotensi melampaui satu ruang kelas.
Guru dapat saling berdiskusi. Metode mengajar bisa dibandingkan. Praktik yang dianggap efektif dapat dicoba kembali sesuai kondisi sekolah.
Dengan demikian, kehadiran satu guru berpotensi menjadi pemicu pembelajaran bagi guru lainnya.
Mengapa Model Satu Guru Satu Sekolah Menarik?
Ada alasan mengapa penempatan langsung di sekolah patut diperhatikan.
Guru yang berada di sekolah selama dua tahun memiliki kesempatan untuk memahami kondisi peserta didik, karakter lingkungan, kebiasaan belajar, hingga tantangan yang dihadapi tenaga pendidik setempat.
Situasi tersebut berbeda dengan pelatihan singkat.
Dalam pelatihan, guru memperoleh materi dan kemudian kembali ke sekolah. Sementara itu, penempatan langsung memberi kesempatan untuk menguji pendekatan pembelajaran dalam situasi nyata.
Para fellow TFI juga tidak hanya diarahkan mengajar. Mereka diharapkan membantu membangun karakter siswa serta memperkenalkan praktik baik di sekolah. Pemerintah Kota Serang berharap pengalaman tersebut dapat menularkan pendekatan baru kepada lingkungan pendidikan setempat.
Di sinilah nilai kolaborasinya.
Satu guru tidak harus bekerja sendirian. Ia dapat berdiskusi dengan guru lain, kepala sekolah, serta pihak yang terlibat dalam pengelolaan pendidikan.
Namun, keberhasilan model tersebut tetap harus dibuktikan melalui hasil.
Kota Serang Masih Menghadapi Kebutuhan Guru
Program ini juga hadir ketika Kota Serang masih membutuhkan tenaga pendidik.
Menurut keterangan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Serang, pemetaan kebutuhan menunjukkan masih terdapat kekurangan guru di sejumlah sekolah. Kekurangan itu mencakup jenjang SD hingga SMP.
Dalam konteks tersebut, tambahan 14 guru tentu memberikan dukungan.
Akan tetapi, 14 orang tentu bukan jawaban untuk seluruh kebutuhan tenaga pendidik.
Karena itu, program TFI lebih tepat dipandang sebagai bagian dari upaya penguatan pendidikan, bukan sebagai solusi tunggal atas persoalan kekurangan guru.
Justru di sinilah evaluasi menjadi penting.
Pemerintah perlu melihat apakah kehadiran para fellow mampu memperkuat proses pembelajaran, membantu sekolah mengembangkan praktik baik, serta memberi manfaat nyata bagi siswa.
Bukan Hanya Siswa yang Belajar
Sekolah pada dasarnya merupakan ruang belajar bagi semua orang.
Siswa belajar dari guru. Namun, guru juga dapat belajar dari sesama guru.
Karena itu, salah satu dampak yang menarik untuk diamati dari program ini adalah apakah pengalaman 14 fellow dapat menyebar kepada tenaga pendidik lain.
Misalnya, seorang fellow memperkenalkan metode pembelajaran tertentu.
Guru lain kemudian mengadaptasinya.
Sekolah melakukan evaluasi.
Jika pendekatan tersebut cocok, praktiknya dapat berkembang menjadi kebiasaan baru.
Proses seperti itulah yang dapat membuat program memiliki dampak lebih luas daripada jumlah peserta yang terlibat.
Dengan kata lain, 14 guru tidak harus menghasilkan dampak hanya kepada 14 kelas.
Jika pengetahuan dan praktik baik mereka menyebar, pengaruhnya bisa menjangkau lebih banyak guru dan siswa.
Bisakah Daerah Lain Meniru?
Pertanyaan ini menarik, tetapi jawabannya tidak sesederhana menyalin program Kota Serang.
Setiap daerah mempunyai persoalan pendidikan yang berbeda.
Ada wilayah yang menghadapi kekurangan guru. Ada daerah yang lebih membutuhkan penguatan literasi. Wilayah lain mungkin membutuhkan perhatian lebih besar terhadap numerasi, karakter, atau kualitas pembelajaran.
Karena itu, daerah lain tidak harus meniru bentuk programnya secara persis.
Yang lebih penting adalah mengambil prinsip kolaborasinya.
Pemerintah daerah dapat menggandeng organisasi pendidikan, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, atau mitra lainnya untuk memperkuat sekolah sesuai kebutuhan.
Model tersebut juga membutuhkan target yang jelas.
Berapa perubahan yang ingin dicapai?
Bagaimana kualitas pembelajaran diukur?
Apa indikator perkembangan siswa?
Bagaimana guru lain memperoleh manfaat dari pengalaman fellow?
Pertanyaan tersebut penting karena program pendidikan tidak cukup dinilai dari seremoni peluncuran.
Ujian Sesungguhnya Dimulai Setelah Guru Masuk Kelas
Peluncuran program memang menarik perhatian.
Namun, ujian sesungguhnya baru dimulai ketika para guru berada di sekolah.
Mereka harus beradaptasi dengan karakter siswa. Sekolah perlu membuka ruang kolaborasi. Guru yang sudah ada juga perlu mendapatkan kesempatan berbagi dan belajar.
Selain itu, pemerintah dan mitra program perlu memantau perkembangannya selama dua tahun penugasan.
Jika proses tersebut menghasilkan pembelajaran yang lebih baik, praktik mengajar yang semakin kuat, dan pengalaman yang dapat diterapkan oleh guru lain, maka model kolaborasi ini memiliki alasan untuk dikembangkan.
Sebaliknya, jika hasilnya tidak sesuai harapan, evaluasi harus menjadi bagian dari perjalanan program.
Itulah cara sehat melihat sebuah inovasi pendidikan.
Bukan dengan langsung menyebutnya berhasil.
Bukan pula dengan buru-buru menganggapnya gagal.
Melainkan dengan mengukur apa yang benar-benar berubah.
Pelajaran Penting untuk Pendidikan Dasar
Program 14 fellow di 14 SD Kota Serang memberikan satu pelajaran awal: persoalan pendidikan tidak selalu dapat diselesaikan sekolah seorang diri.
Kolaborasi dapat membuka jalan baru.
Pemerintah memiliki kewenangan dan sumber daya. Sekolah memahami persoalan sehari-hari. Sementara itu, organisasi pendidikan membawa pengalaman dan pendekatan yang berbeda.
Jika ketiganya bergerak dalam tujuan yang sama, ruang inovasi pendidikan menjadi lebih terbuka.
Namun, kolaborasi membutuhkan konsistensi.
Target harus jelas. Peran masing-masing pihak perlu dipahami. Evaluasi harus berjalan. Hasilnya pun perlu menjadi bahan perbaikan.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan program bukan jumlah guru yang datang.
Ukuran yang lebih penting adalah apa yang berubah setelah mereka datang.
Apakah siswa lebih bersemangat belajar?
Apakah guru memperoleh metode baru?
Dan apakah sekolah menjadi lebih kuat?
Dan apakah praktik baik itu tetap hidup setelah masa penugasan selesai?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan menentukan apakah model tersebut benar-benar layak diperluas ke daerah lain.
14 guru di 14 sekolah memang bukan angka besar untuk menyelesaikan persoalan pendidikan. Namun, jika satu guru mampu mengubah cara satu kelas belajar, lalu perubahan itu menular kepada guru lain, 14 orang bisa menjadi awal dari perubahan yang jauh lebih besar.
Sebab, pendidikan tidak berubah hanya karena jumlah gurunya bertambah. Pendidikan berubah ketika pengetahuan, kepedulian, dan praktik baik seorang guru mampu membuat satu sekolah ikut bergerak. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar