Breaking News
light_mode
Beranda » Humaniora » 14 Guru Masuk 14 SD, Model Baru untuk Pendidikan Berkualitas

14 Guru Masuk 14 SD, Model Baru untuk Pendidikan Berkualitas

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
  • visibility 63
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HUMANIORA — Sebanyak 14 guru dari program fellowship Teach First Indonesia (TFI) mulai mengajar di 14 sekolah dasar (SD) di Kota Serang, Banten. Para guru SD tersebut akan menjalankan tugas selama dua tahun, terutama di sekolah-sekolah kawasan pinggiran yang membutuhkan penguatan tenaga pendidik. Kehadiran mereka bukan hanya menambah tenaga pengajar, tetapi juga membawa pengalaman dan pendekatan pembelajaran baru ke lingkungan sekolah.

Program yang mulai berjalan pada Agustus 2026 itu merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kota Serang dan Teach First Indonesia. Kerja sama keduanya sebelumnya dituangkan dalam nota kesepahaman pada Desember 2025. Kini, 14 fellow tersebut mulai menjalankan tugas sebagai guru kelas di sekolah dasar.

Namun, ada pertanyaan yang lebih menarik daripada sekadar berapa jumlah guru yang datang.

Bisakah satu guru di satu sekolah membawa perubahan yang lebih luas terhadap kualitas pendidikan?

Jawabannya belum bisa diketahui sekarang. Program tersebut baru memasuki tahap pelaksanaan. Karena itu, dampaknya terhadap mutu pembelajaran masih membutuhkan waktu dan evaluasi.

Bukan Sekadar Menambah Guru

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Serang Ahmad Nuri mengatakan kehadiran para fellow menjadi tambahan tenaga pendidik sekaligus membawa energi baru bagi sekolah.

Para peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Beberapa di antaranya memiliki pengalaman mengajar di wilayah seperti Papua, Sulawesi Tengah, dan Ambon. Latar pengalaman yang beragam tersebut diharapkan dapat memperkaya perspektif pembelajaran di sekolah tempat mereka bertugas.

Karena itu, program ini menarik jika dilihat dari sisi kolaborasi.

Sekolah tidak hanya menerima guru tambahan. Pada saat yang sama, para fellow membawa pengalaman, gagasan, dan praktik pembelajaran yang mereka peroleh dari lingkungan pendidikan lain.

Jika pertukaran tersebut berjalan baik, manfaatnya berpotensi melampaui satu ruang kelas.

Guru dapat saling berdiskusi. Metode mengajar bisa dibandingkan. Praktik yang dianggap efektif dapat dicoba kembali sesuai kondisi sekolah.

Dengan demikian, kehadiran satu guru berpotensi menjadi pemicu pembelajaran bagi guru lainnya.

Mengapa Model Satu Guru Satu Sekolah Menarik?

Ada alasan mengapa penempatan langsung di sekolah patut diperhatikan.

Guru yang berada di sekolah selama dua tahun memiliki kesempatan untuk memahami kondisi peserta didik, karakter lingkungan, kebiasaan belajar, hingga tantangan yang dihadapi tenaga pendidik setempat.

Situasi tersebut berbeda dengan pelatihan singkat.

Dalam pelatihan, guru memperoleh materi dan kemudian kembali ke sekolah. Sementara itu, penempatan langsung memberi kesempatan untuk menguji pendekatan pembelajaran dalam situasi nyata.

Para fellow TFI juga tidak hanya diarahkan mengajar. Mereka diharapkan membantu membangun karakter siswa serta memperkenalkan praktik baik di sekolah. Pemerintah Kota Serang berharap pengalaman tersebut dapat menularkan pendekatan baru kepada lingkungan pendidikan setempat.

Di sinilah nilai kolaborasinya.

Satu guru tidak harus bekerja sendirian. Ia dapat berdiskusi dengan guru lain, kepala sekolah, serta pihak yang terlibat dalam pengelolaan pendidikan.

Namun, keberhasilan model tersebut tetap harus dibuktikan melalui hasil.

Kota Serang Masih Menghadapi Kebutuhan Guru

Program ini juga hadir ketika Kota Serang masih membutuhkan tenaga pendidik.

Menurut keterangan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Serang, pemetaan kebutuhan menunjukkan masih terdapat kekurangan guru di sejumlah sekolah. Kekurangan itu mencakup jenjang SD hingga SMP.

Dalam konteks tersebut, tambahan 14 guru tentu memberikan dukungan.

Akan tetapi, 14 orang tentu bukan jawaban untuk seluruh kebutuhan tenaga pendidik.

Karena itu, program TFI lebih tepat dipandang sebagai bagian dari upaya penguatan pendidikan, bukan sebagai solusi tunggal atas persoalan kekurangan guru.

Justru di sinilah evaluasi menjadi penting.

Pemerintah perlu melihat apakah kehadiran para fellow mampu memperkuat proses pembelajaran, membantu sekolah mengembangkan praktik baik, serta memberi manfaat nyata bagi siswa.

Bukan Hanya Siswa yang Belajar

Sekolah pada dasarnya merupakan ruang belajar bagi semua orang.

Siswa belajar dari guru. Namun, guru juga dapat belajar dari sesama guru.

Karena itu, salah satu dampak yang menarik untuk diamati dari program ini adalah apakah pengalaman 14 fellow dapat menyebar kepada tenaga pendidik lain.

Misalnya, seorang fellow memperkenalkan metode pembelajaran tertentu.

Guru lain kemudian mengadaptasinya.

Sekolah melakukan evaluasi.

Jika pendekatan tersebut cocok, praktiknya dapat berkembang menjadi kebiasaan baru.

Proses seperti itulah yang dapat membuat program memiliki dampak lebih luas daripada jumlah peserta yang terlibat.

Dengan kata lain, 14 guru tidak harus menghasilkan dampak hanya kepada 14 kelas.

Jika pengetahuan dan praktik baik mereka menyebar, pengaruhnya bisa menjangkau lebih banyak guru dan siswa.

Bisakah Daerah Lain Meniru?

Pertanyaan ini menarik, tetapi jawabannya tidak sesederhana menyalin program Kota Serang.

Setiap daerah mempunyai persoalan pendidikan yang berbeda.

Ada wilayah yang menghadapi kekurangan guru. Ada daerah yang lebih membutuhkan penguatan literasi. Wilayah lain mungkin membutuhkan perhatian lebih besar terhadap numerasi, karakter, atau kualitas pembelajaran.

Karena itu, daerah lain tidak harus meniru bentuk programnya secara persis.

Yang lebih penting adalah mengambil prinsip kolaborasinya.

Pemerintah daerah dapat menggandeng organisasi pendidikan, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, atau mitra lainnya untuk memperkuat sekolah sesuai kebutuhan.

Model tersebut juga membutuhkan target yang jelas.

Berapa perubahan yang ingin dicapai?

Bagaimana kualitas pembelajaran diukur?

Apa indikator perkembangan siswa?

Bagaimana guru lain memperoleh manfaat dari pengalaman fellow?

Pertanyaan tersebut penting karena program pendidikan tidak cukup dinilai dari seremoni peluncuran.

Ujian Sesungguhnya Dimulai Setelah Guru Masuk Kelas

Peluncuran program memang menarik perhatian.

Namun, ujian sesungguhnya baru dimulai ketika para guru berada di sekolah.

Mereka harus beradaptasi dengan karakter siswa. Sekolah perlu membuka ruang kolaborasi. Guru yang sudah ada juga perlu mendapatkan kesempatan berbagi dan belajar.

Selain itu, pemerintah dan mitra program perlu memantau perkembangannya selama dua tahun penugasan.

Jika proses tersebut menghasilkan pembelajaran yang lebih baik, praktik mengajar yang semakin kuat, dan pengalaman yang dapat diterapkan oleh guru lain, maka model kolaborasi ini memiliki alasan untuk dikembangkan.

Sebaliknya, jika hasilnya tidak sesuai harapan, evaluasi harus menjadi bagian dari perjalanan program.

Itulah cara sehat melihat sebuah inovasi pendidikan.

Bukan dengan langsung menyebutnya berhasil.

Bukan pula dengan buru-buru menganggapnya gagal.

Melainkan dengan mengukur apa yang benar-benar berubah.

Pelajaran Penting untuk Pendidikan Dasar

Program 14 fellow di 14 SD Kota Serang memberikan satu pelajaran awal: persoalan pendidikan tidak selalu dapat diselesaikan sekolah seorang diri.

Kolaborasi dapat membuka jalan baru.

Pemerintah memiliki kewenangan dan sumber daya. Sekolah memahami persoalan sehari-hari. Sementara itu, organisasi pendidikan membawa pengalaman dan pendekatan yang berbeda.

Jika ketiganya bergerak dalam tujuan yang sama, ruang inovasi pendidikan menjadi lebih terbuka.

Namun, kolaborasi membutuhkan konsistensi.

Target harus jelas. Peran masing-masing pihak perlu dipahami. Evaluasi harus berjalan. Hasilnya pun perlu menjadi bahan perbaikan.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan program bukan jumlah guru yang datang.

Ukuran yang lebih penting adalah apa yang berubah setelah mereka datang.

Apakah siswa lebih bersemangat belajar?

Apakah guru memperoleh metode baru?

Dan apakah sekolah menjadi lebih kuat?

Dan apakah praktik baik itu tetap hidup setelah masa penugasan selesai?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan menentukan apakah model tersebut benar-benar layak diperluas ke daerah lain.

14 guru di 14 sekolah memang bukan angka besar untuk menyelesaikan persoalan pendidikan. Namun, jika satu guru mampu mengubah cara satu kelas belajar, lalu perubahan itu menular kepada guru lain, 14 orang bisa menjadi awal dari perubahan yang jauh lebih besar.

Sebab, pendidikan tidak berubah hanya karena jumlah gurunya bertambah. Pendidikan berubah ketika pengetahuan, kepedulian, dan praktik baik seorang guru mampu membuat satu sekolah ikut bergerak. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kecelakaan Anggota Polres Ciamis

    Kecelakaan Tragis, Dua Polisi Ciamis Meninggal Dunia

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 135
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kecelakaan anggota Polres Ciamis kembali menjadi sorotan setelah dua personel Polri meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas di Jalan Raya Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (14/7/2026) sekitar pukul 22.30 WIB. Insiden kecelakaan polisi yang melibatkan motor dinas dan sebuah bus pariwisata itu kini masih dalam penyelidikan aparat kepolisian untuk memastikan penyebab pastinya. Peristiwa […]

  • Keluhan Kesehatan Tasikmalaya

    Sepertiga Warga Tasikmalaya Mengalami Keluhan Kesehatan pada 2025

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 123
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF – Bagaimana jika satu dari tiga warga di kota Anda mengaku mengalami gangguan kesehatan dalam sebulan terakhir? Pertanyaan itu mungkin terdengar mengkhawatirkan. Namun, itulah gambaran yang muncul dari data terbaru mengenai keluhan kesehatan Tasikmalaya. Menariknya, kondisi tersebut terjadi ketika usia harapan hidup masyarakat juga terus meningkat. Dua fakta ini menghadirkan sebuah paradoks yang […]

  • Peluncuran aplikasi Asisten Desa Garut oleh FKRWG di Gedung Pemuda Tarogong Kidul disambut antusias pengurus RW dan pemerintah daerah.

    Asisten Desa Diluncurkan, Pelayanan Warga Garut Masuk Babak Baru

    • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 143
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Semangat transformasi digital mulai terasa hingga tingkat Rukun Warga di Kabupaten Garut. Melalui momentum Milangkala ke-1 Forum Komunikasi Rukun Warga Garut (FKRWG), inovasi bertajuk Asisten Desa Garut atau Asdes resmi diperkenalkan sebagai sistem pelayanan publik berbasis internet yang dirancang untuk mempermudah kebutuhan masyarakat. Peluncuran aplikasi pelayanan digital itu berlangsung di Gedung […]

  • lagu erika itb

    Kontroversi Lagu Erika ITB, Publik Tak Lagi Diam Soal Etika Kampus

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 196
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF – Jagat media sosial mendadak riuh. Lagu Erika Institut Teknologi Bandung (ITB) viral dan memantik reaksi yang tidak sedikit. Lagu yang juga dikenal sebagai lagu Erika mahasiswa ITB atau lagu Erika viral kampus itu langsung menyebar luas, memunculkan perdebatan yang nyaris tak terbendung. Di satu sisi, ada yang menganggapnya bagian dari tradisi lama. Namun di sisi lain, tidak sedikit […]

  • Insentif Guru Honorer

    Insentif Guru Honorer Naik Mulai 2026, Pemerintah Siapkan Beasiswa dan PPG Massal

    • calendar_month Kamis, 23 Okt 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 294
    • 0Komentar

    Kenaikan insentif guru honorer jadi Rp400 ribu serta beasiswa dan perluasan PPG dimulai 2026. albadarpost.com, CENDIKIA – Insentif Guru Honorer menjadi salah satu kebijakan yang kembali disorot publik setelah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan adanya peningkatan dukungan kesejahteraan bagi tenaga pengajar non-PNS mulai tahun 2026. Pemerintah menyatakan komitmennya untuk memperluas akses pendidikan tinggi […]

  • Clash of Legends Jakarta

    Clash of Legends Jakarta di Momentum 500 Tahun Ibu Kota

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 187
    • 0Komentar

    Clash of Legends Jakarta jadi bagian HUT ke-500 Jakarta, hadirkan pengalaman sepak bola dunia dan citra kota global. albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Jakarta terus memperkuat posisinya sebagai kota global. Momentum perayaan 500 tahun Jakarta dimanfaatkan untuk menghadirkan ajang olahraga berkelas dunia melalui Clash of Legends Jakarta, pertandingan antara Real Madrid Legends dan Barcelona Legends yang […]

expand_less