Breaking News
light_mode
Beranda » Editorial » Ketika Murid Tak Lagi Hormati Guru: Apa yang Sebenarnya Terjadi di Sekolah?

Ketika Murid Tak Lagi Hormati Guru: Apa yang Sebenarnya Terjadi di Sekolah?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
  • visibility 141
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, EDITORIAL — Kasus bullying siswa ke guru di Purwakarta bukan sekadar video viral yang lewat di timeline. Ini lebih dari itu. Ini cermin. Dan yang terlihat di dalamnya tidak nyaman.

Fenomena siswa lawan guru, krisis etika di sekolah, hingga sorotan pada lingkungan pendidikan seperti SMAN 1 Purwakarta—semuanya seperti potongan puzzle yang akhirnya membentuk satu gambar besar: ada yang sedang tidak baik-baik saja dalam sistem pendidikan kita.

Dan jujur saja, kita semua sebenarnya sudah lama merasakannya.

Rasa Hormat Itu Hilang Pelan-Pelan

Dulu, hubungan guru dan murid punya jarak yang jelas—bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk menjaga wibawa.

Sekarang? Batas itu makin kabur.

Media sosial mengubah cara pandang. Semua terasa setara. Kini, semua orang bebas mengomentari apa saja. Bahkan, sebagian mulai menganggap otoritas sebagai sesuatu yang sah untuk ditantang kapan saja.

Ini bukan sepenuhnya salah siswa. Tapi juga bukan sesuatu yang bisa dimaklumi.

Karena ketika rasa hormat hilang, yang runtuh bukan cuma aturan—tapi juga makna pendidikan itu sendiri.

Kita Terlalu Lama Fokus pada Nilai, Bukan Nilai

Ada ironi yang jarang dibicarakan.

Sekolah makin sibuk mengejar angka—ranking, nilai ujian, prestasi akademik. Tapi di saat yang sama, hal yang paling mendasar justru terlewat: karakter.

Program seperti Panca Waluya dengan nilai cageur, bageur, bener, pinter, dan singer terdengar ideal. Bahkan sangat ideal.

Masalahnya bukan di konsep.
Masalahnya di praktik.

Sekolah mengajarkan kebenaran, tetapi gagal membiasakan siswa menjalaninya. Sistem menuntut guru membentuk karakter, namun justru minim memberi dukungan.

Akhirnya? Pendidikan jadi timpang. Pintar, tapi rapuh.

Viral Itu Pedang Bermata Dua

Kasus bullying siswa ke guru di Purwakarta meledak cepat. Seperti biasa, media sosial bekerja tanpa rem.

Di satu sisi, ini bagus. Publik jadi tahu. Ada tekanan. Ada respons.

Tapi di sisi lain, ada efek yang lebih halus—dan lebih berbahaya.

Ketika sesuatu terlalu sering muncul di layar, ia perlahan terasa biasa.

Dan di situlah masalahnya.

Perilaku yang seharusnya jadi alarm, bisa berubah jadi tontonan.
Tontonan yang diulang.
Lalu ditiru.

Ini Bukan Sekadar Ulah Siswa

Mudah untuk menunjuk satu pihak. Menyalahkan siswa. Selesai.

Tapi realitasnya tidak sesederhana itu.

Kasus ini adalah hasil dari banyak hal yang bertemu di satu titik:

  • Sekolah yang kadang ragu bersikap tegas
  • Orang tua yang terlalu melepas atau justru abai
  • Sistem pendidikan yang terlalu lama memuja angka

Dan di tengah semua itu, guru sering berdiri sendirian.

Bukan karena mereka lemah.
Tapi karena sistem tidak selalu memberi ruang untuk kuat.

Kalau Bukan Sekarang, Kapan Lagi?

Peristiwa ini seharusnya jadi titik balik. Bukan sekadar bahan diskusi lalu hilang.

Perubahan tidak butuh teori baru. Kita sudah punya banyak.

Kita butuh keberanian untuk benar-benar menjalankan:

Guru perlu dilindungi—secara nyata, bukan sekadar wacana.
Sekolah perlu tegas—tanpa takut tekanan.
Orang tua perlu hadir—bukan hanya saat masalah muncul.
Dan siswa perlu dibimbing—bukan hanya dinilai.

Sederhana diucapkan. Sulit dijalankan. Tapi bukan berarti tidak mungkin.

Ini Bukan Kasus Biasa

Kasus di Purwakarta bukan sekadar berita hari ini. Ini peringatan.

Bukan tentang satu siswa. Bukan tentang satu guru.

Ini tentang arah.

Kalau ruang kelas tak lagi punya rasa hormat, maka yang hilang bukan hanya ketertiban. Tapi masa depan itu sendiri.

Dan pertanyaannya sekarang bukan lagi “siapa yang salah”.

Tapi:
kita mau membiarkan ini terus terjadi, atau mulai memperbaiki? (Red)


 

 

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • kajian Isra Mikraj

    Majelis Taklim Hegarmanah: Spirit Keumatan lewat Kajian Isra Mikraj

    • calendar_month Kamis, 15 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 154
    • 0Komentar

    albadarpost.com, KOLABORASI – Di tengah situasi umat yang dihadapkan pada tantangan sosial dan kemanusiaan, Majelis Taklim Hegarmanah menyelenggarakan kajian Isra Mi’raj sebagai ikhtiar memperkuat kesadaran keumatan. Kegiatan ini tidak hanya mengajak jamaah memahami makna spiritual perjalanan Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menautkannya dengan tanggung jawab sosial antar sesama Muslim. Kajian akan berlangsung pada Jumat, 16 […]

  • Pengendalian Inflasi Garut

    Garut Cetak Prestasi Nasional, Pengendalian Inflasi Terbaik Se-Jawa Bali

    • calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 74
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Garut kembali mencatat prestasi di tingkat nasional. Pengendalian Inflasi Garut menjadi sorotan setelah Pemerintah Kabupaten Garut meraih Penghargaan Pengendalian Inflasi Terbaik I tingkat Kabupaten untuk Regional Jawa-Bali dalam ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi yang digelar Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Republik Indonesia di Yogyakarta, Kamis (4/6/2026). Penghargaan tersebut bukan sekadar simbol keberhasilan […]

  • Ilustrasi pesawat siluman di langit sebagai metafora tipuan dunia yang tampak indah namun menyimpan bahaya tersembunyi.

    Dunia Itu Manis, Tapi Diam-Diam Mematikan

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 199
    • 0Komentar

    albadarpost.com, OPINI – Di tengah hiruk pikuk ambisi modern, tipuan dunia semakin tampak normal. Tipuan dunia, godaan kehidupan fana, dan ilusi kenikmatan materi hadir seolah sahabat setia manusia. Padahal sejak dahulu para ulama telah mengingatkan bahwa dunia bukan tempat tinggal, melainkan ruang ujian. Anehnya, manusia justru memperlakukan dunia seperti rumah permanen lengkap dengan renovasi mimpi […]

  • Anggota DPRD Banjar Ditangkap

    Buronan DPRD Banjar Ditangkap, Polisi Ungkap Modus Pinjam Uang

    • calendar_month Kamis, 16 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 37
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kasus anggota DPRD Banjar ditangkap menjadi sorotan setelah Kepolisian Resor Banjar berhasil mengamankan seorang legislator yang sebelumnya masuk Daftar Pencarian Orang (DPO). Polisi menduga tersangka melakukan penipuan dan penggelapan dengan modus meminjam uang serta menjanjikan keuntungan 10 persen untuk pendanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Nilai kerugian yang dilaporkan korban mencapai […]

  • Ilustrasi seseorang merenung dengan tenang saat matahari terbit, menggambarkan makna syukur dan ketenangan hidup

    Kenapa Hidup Terasa Kurang? Ini Makna Syukur yang Terlupakan

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 171
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Pernah merasa hidup kurang, padahal sebenarnya tidak? Makna syukur, arti bersyukur, dan hakikat syukur dalam kehidupan sering kali kabur di tengah rutinitas yang melelahkan. Kita sibuk mengejar lebih banyak, tetapi lupa menghargai apa yang sudah ada. Di titik inilah makna syukur sering terlupakan—bukan karena tidak punya alasan untuk bersyukur, tetapi karena kita […]

  • Ilustrasi edukasi hukum publik tentang perbedaan tindak pidana pencurian, penganiayaan, dan kepemilikan senjata tajam yang diproses terpisah

    Korban Pencurian Jadi Tersangka, Publik Perlu Paham Hukumnya

    • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 154
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Kasus korban pencurian jadi tersangka kembali menyulut emosi publik. Banyak orang merasa hukum kehilangan nurani ketika korban (pemilik toko HP) justru diproses pidana. Namun, kemarahan itu sering lahir bukan dari fakta hukum, melainkan dari cara pandang yang keliru terhadap mekanisme hukum pidana. Di sinilah persoalan utama bermula. Publik kerap mengira hukum […]

expand_less