Berangkat ke Pesantren, Dua Santriwati asal Garut Tak Kunjung Tiba
- account_circle redaktur
- calendar_month 0 menit yang lalu
- visibility 1
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ana Rahma Farihan dan Ani Rahmi Syaidah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kabar mengenai dua santriwati hilang asal Garut menjadi perhatian warga media sosial sejak Sabtu (23/5/2026). Informasi tentang santriwati hilang Garut tersebut menyebar luas melalui Facebook dan grup percakapan warga setelah keluarga membuat laporan resmi ke Polsek Bayongbong.
Redaksi albadarpost.com telah melakukan klarifikasi langsung kepada pihak keluarga terkait kebenaran informasi tersebut. Selain itu, redaksi juga telah memperoleh izin untuk merilis identitas dan informasi pencarian kedua santriwati tersebut demi membantu proses penelusuran.
Kedua remaja yang dilaporkan belum sampai ke pondok pesantren itu diketahui bernama Ana Rahma Farihan dan Ani Rahmi Syaidah. Keduanya merupakan anak kembar asal Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut.
Berdasarkan surat tanda penerimaan laporan orang hilang dari Polsek Bayongbong, kedua santriwati tersebut berangkat dari rumah pada Rabu, 20 Mei 2026 sekitar pukul 10.00 WIB. Dan informasi terakhir yang didapatkan keluarga, keduanya sudah sampai di terminal Singaparna pada hari keberangkatan.
Keluarga mengantar keduanya hingga Terminal Guntur Garut sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan bus Primajasa jurusan Singaparna Tasikmalaya. Setelah itu, keduanya direncanakan melanjutkan perjalanan menuju Pondok Pesantren Darul Huda Banjar.
Namun hingga laporan dibuat pihak keluarga, kedua santriwati tersebut belum tiba di pondok tujuan.
Keluarga Mulai Khawatir Setelah Tak Ada Kabar
Ibu kedua santriwati, Erwin Winarti, kemudian mendatangi Polsek Bayongbong untuk membuat laporan resmi terkait keberadaan anaknya.
Dalam laporan tersebut, keluarga menyebut sebelum keberangkatan keduanya sempat menyampaikan keberatan untuk kembali mengikuti aktivitas pondok pesantren karena akan menghadapi ujian.
Sejak saat itu, keluarga mulai kehilangan komunikasi dengan keduanya.
Sejumlah warga di sekitar rumah keluarga turut membantu menyebarkan informasi pencarian melalui media sosial. Selain itu, beberapa warga juga mencoba mencari informasi terkait kemungkinan jalur perjalanan yang dilalui kedua santriwati tersebut.
Ciri-Ciri Dua Santriwati asal Garut
Ana Rahma Farihan memiliki tinggi badan sekitar 160 sentimeter dengan rambut panjang bergelombang, kulit sawo matang, dan mata bulat. Saat terakhir terlihat, ia mengenakan gamis hitam, kerudung hitam, dan sepatu putih.
Sementara Ani Rahmi Syaidah memiliki tinggi badan sekitar 165 sentimeter dengan rambut bergelombang panjang, kulit sawo matang, dan mata bulat. Saat berangkat, ia memakai pakaian dominan putih lengkap dengan kerudung putih dan sandal putih.
Pihak keluarga berharap masyarakat yang melihat atau mengetahui keberadaan keduanya segera menghubungi keluarga maupun kepolisian terdekat.
Nomor keluarga yang dapat dihubungi yakni 081320660887 atas nama Ibu Erwin Winarti.
Polisi dan Warga Ikut Membantu Penelusuran
Kasus orang hilang seperti ini biasanya cepat menyebar karena memunculkan empati publik, terutama ketika melibatkan anak dan keluarga.
Meski demikian, redaksi albadarpost.com juga mengimbau masyarakat agar tetap bijak saat membagikan informasi di media sosial serta tidak menambahkan narasi yang belum terverifikasi.
Hingga berita ini ditulis, pihak keluarga bersama kepolisian masih melakukan penelusuran terkait keberadaan kedua santriwati tersebut.
Warga sekitar berharap keduanya segera ditemukan dalam keadaan selamat.
Di tengah derasnya arus informasi digital, kabar kehilangan memang dapat menyebar hanya dalam hitungan menit. Namun bagi keluarga, situasi ini bukan sekadar unggahan viral di media sosial.
Ada kecemasan yang terus menunggu jawaban.
Ada doa yang terus dipanjatkan setiap malam.
Dan ada harapan sederhana agar keduanya bisa segera pulang dengan selamat.
Di balik ribuan unggahan dan tombol “bagikan” di media sosial, ada dua orang tua yang masih berharap anak-anak mereka pulang dan kembali mengetuk pintu rumahnya sendiri. (Redaksi)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar