Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Teman yang Salah Bisa Menjauhkan Kita dari Allah

Teman yang Salah Bisa Menjauhkan Kita dari Allah

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Senin, 10 Agt 2026
  • visibility 84
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Teman yang baik bukan sekadar orang yang menyenangkan diajak bercanda. Dalam memilih teman, seorang Muslim juga perlu memperhatikan apakah pertemanan tersebut membuatnya semakin dekat kepada Allah atau justru perlahan menjauh dari kebaikan.

Pesan tentang pertemanan dalam Islam itu disampaikan dengan sangat singkat oleh Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam:

لَا تَصْحَبْ مَنْ لَا يُنْهَضُكَ حَالُهُ، وَلَا يَدُلُّكَ عَلَى اللَّهِ مَقَالُهُ

Maknanya kurang lebih: “Jangan berkawan dengan orang yang keadaannya tidak membangkitkan semangatmu untuk taat kepada Allah dan perkataannya tidak menunjukkanmu kepada Allah.” Teks hikmah tersebut tercantum dalam pembahasan Al-Hikam karya Ibnu Athaillah beserta penjelasannya.

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun, coba terapkan pada kehidupan sehari-hari.

Kita mungkin punya banyak teman. Ada teman kerja, teman sekolah, teman nongkrong, teman di media sosial, sampai teman yang hanya muncul ketika ada sesuatu yang sedang viral.

Tetapi, siapa yang benar-benar membuat kita menjadi manusia yang lebih baik?

Pertanyaan itu jauh lebih penting.

Ibnu Athaillah Tidak Mengajarkan Kita Membenci Orang

Pesan Ibnu Athaillah tidak tepat jika dipahami sebagai perintah untuk menjauhi semua orang yang memiliki kekurangan.

Sebab kita sendiri juga bukan manusia sempurna.

Seorang teman bisa saja memiliki masa lalu yang buruk, tetapi sedang berusaha memperbaiki diri. Ada pula orang yang belum banyak mengetahui ilmu agama, tetapi memiliki kejujuran, kerendahan hati, dan kemauan untuk belajar.

Karena itu, ukuran teman yang baik bukan sekadar penampilan, status sosial, banyaknya pengetahuan agama, atau seberapa sering seseorang berbicara tentang kebaikan.

Yang lebih penting adalah arah pengaruhnya.

Apakah setelah berteman dengannya kita terdorong memperbaiki salat?

Apakah kita lebih malu melakukan keburukan?

Apakah kita semakin senang berbuat baik?

Atau justru sebaliknya?

Kalau setiap pertemuan membuat hati semakin berat melakukan kebaikan, mungkin ada sesuatu yang perlu dievaluasi.

Bukan untuk merasa lebih suci.

Melainkan untuk menjaga diri.

Penjelasan atas hikmah tersebut juga menekankan gagasan bahwa keadaan dan karakter seseorang dapat memengaruhi orang yang berada di dekatnya. Karena itu, Ibnu Athaillah mendorong seseorang memilih lingkungan pergaulan yang dapat membangkitkan semangat menuju Allah.

Nabi Mengingatkan: Perhatikan Siapa Teman Dekat Kita

Pesan tersebut memiliki dasar yang kuat dalam hadis.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Artinya, “Seseorang berada di atas agama atau kebiasaan teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang menjadi teman dekatnya.”

Hadis ini diriwayatkan Abu Hurairah dan tercantum dalam Sunan Abi Dawud nomor 4833 serta Jami’ at-Tirmidzi nomor 2378. Keduanya mencantumkan penilaian hadis tersebut sebagai hasan.

Perhatikan satu kata penting: teman dekat.

Sebab tidak semua orang yang kita kenal otomatis mempunyai pengaruh yang sama.

Ada orang yang hanya kita sapa sesekali.

Ada pula orang yang pendapatnya selalu kita dengarkan.

Ada yang sekadar menjadi rekan kerja.

Ada juga yang menjadi tempat kita meminta nasihat ketika sedang bingung.

Nah, orang-orang yang paling dekat inilah yang perlu kita evaluasi.

Sebab secara perlahan, kebiasaan teman dapat menjadi kebiasaan kita.

Cara berbicaranya bisa ikut memengaruhi cara bicara kita.

Cara melihat masalah bisa memengaruhi cara kita mengambil keputusan.

Bahkan, standar tentang sesuatu yang dianggap benar atau salah pun bisa berubah tanpa terasa.

Teman Buruk Tidak Selalu Terlihat Buruk

Di sinilah nasihat tentang memilih teman menjadi menarik.

Kita sering membayangkan teman buruk sebagai orang yang kasar, suka membuat masalah, atau terang-terangan mengajak kepada keburukan.

Padahal kenyataannya tidak selalu begitu.

Ada orang yang sangat menyenangkan, tetapi terus mendorong kita melakukan sesuatu yang sebenarnya kita tahu tidak baik.

Ada pula yang pintar berbicara, tetapi selalu punya alasan untuk membenarkan kesalahan.

Ada juga yang membuat kita tertawa sepanjang malam, tetapi setelah pertemuan selesai, tidak ada sedikit pun dorongan untuk menjadi lebih baik.

Yang lebih lucu, kita kadang menyebut semua itu sebagai “pertemanan yang sehat.”

Sehat dari mana?

Kalau hati semakin jauh dari Allah, setidaknya kita perlu melakukan pemeriksaan ulang.

Rasulullah ﷺ memberikan perumpamaan yang sangat mudah dipahami. Beliau menggambarkan teman yang baik seperti penjual minyak kasturi, sedangkan teman yang buruk seperti pandai besi. Dari penjual minyak wangi, seseorang bisa mendapatkan aroma harum; sementara dari pandai besi, ia bisa terkena percikan atau mendapatkan bau yang tidak menyenangkan. Hadis ini tercantum dalam Shahih al-Bukhari nomor 2101.

Perumpamaan tersebut menunjukkan bahwa pengaruh pergaulan dapat bekerja tanpa kita sadari.

Kita tidak harus berniat menjadi seperti teman kita.

Cukup terlalu lama berada di lingkungan tertentu, standar kita bisa berubah.

Yang dulu terasa aneh mulai terasa biasa.

Yang dulu membuat malu mulai dianggap lucu.

Yang dulu kita hindari perlahan mulai kita toleransi.

Al-Qur’an Mengingatkan Ada Persahabatan yang Berujung Penyesalan

Al-Qur’an juga memberikan peringatan tentang hubungan pertemanan.

Allah berfirman dalam QS Az-Zukhruf ayat 67:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

Artinya, “Teman-teman karib pada hari itu sebagian mereka menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.”

Ayat tersebut tidak berarti semua hubungan pertemanan pasti berakhir menjadi permusuhan.

Pesannya lebih spesifik: persahabatan yang dibangun di atas keburukan dapat berubah menjadi penyesalan, sedangkan hubungan yang dibangun dalam ketakwaan memiliki nilai yang berbeda.

Karena itu, memilih teman bukan berarti merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Kita tetap diperintahkan berbuat baik kepada sesama.

Namun, ketika menentukan siapa yang paling dekat dengan hati, siapa yang paling sering didengar nasihatnya, dan siapa yang paling besar pengaruhnya terhadap kehidupan kita, kehati-hatian menjadi penting.

Ukuran Teman yang Baik: Setelah Bertemu, Kita Jadi Apa?

Mungkin inilah cara paling sederhana untuk menguji sebuah pertemanan.

Setelah bertemu dengannya, kita menjadi manusia seperti apa?

Apakah kita semakin jujur?

Apakah kita semakin menghargai orang tua?

Apakah kita semakin menjaga ibadah?

Apakah kita lebih mudah meminta maaf?

Apakah kita lebih ringan membantu orang lain?

Atau justru kita semakin mudah meremehkan dosa?

Jawabannya mungkin tidak langsung terlihat.

Namun, perubahan kecil yang terjadi berulang kali pada akhirnya membentuk kebiasaan.

Karena itu, pesan Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam bukan sekadar nasihat tentang mencari teman yang saleh. Pesan tersebut juga mengajak kita melakukan introspeksi terhadap pengaruh lingkungan terhadap hati dan perilaku.

Dan ada satu pertanyaan yang lebih tajam lagi:

Apakah kita sendiri sudah menjadi teman yang baik bagi orang lain?

Sebab jangan sampai kita sibuk mencari sahabat yang dapat membawa kita mendekat kepada Allah, sementara kehadiran kita justru membuat orang lain semakin jauh.

Itulah bagian yang sering luput.

Kita ingin punya teman baik.

Tetapi kita juga harus berusaha menjadi teman yang baik.

Jangan Putus Silaturahmi, Tetapi Bijak Menentukan Kedekatan

Memahami nasihat ini juga membutuhkan keseimbangan.

Tidak semua orang yang berbeda dengan kita harus dijauhi.

Tidak semua orang yang pernah melakukan kesalahan harus ditinggalkan.

Dan tidak semua pergaulan harus diakhiri secara dramatis.

Ada kalanya yang diperlukan bukan memutus hubungan, melainkan mengatur batas kedekatan.

Tetap menyapa.

Tetap menghormati.

Tetap membantu ketika diperlukan.

Namun, kita tidak harus menjadikan semua orang sebagai tempat utama untuk mencari pengaruh, nasihat, dan arah kehidupan.

Dengan begitu, pesan Al-Hikam tentang memilih teman dapat dipahami secara lebih proporsional.

Bukan tentang mencari manusia sempurna.

Melainkan mencari lingkungan yang membantu kita terus memperbaiki diri.

Sebab pada akhirnya, teman yang baik bukan orang yang selalu membenarkan kita.

Kadang justru dia orang yang berani berkata, “Jangan lakukan itu. Kamu bisa menjadi lebih baik.”

Dan kalimat seperti itu mungkin tidak selalu enak didengar.

Tetapi bisa jadi, itulah bentuk pertemanan yang paling berharga.

Jangan hanya bertanya, “Siapa teman yang membuat saya bahagia?” Tanyakan juga, “Setelah berteman dengannya, apakah saya semakin dekat kepada Allah?” Sebab teman bukan cuma orang yang menemani perjalanan hidup—ia bisa ikut menentukan arah perjalanan itu. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Iman Islam Ihsan

    Tiga Fondasi Etika Publik Umat

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 194
    • 0Komentar

    Iman Islam Ihsan membentuk fondasi moral umat, memengaruhi perilaku sosial, ibadah, dan etika publik. albadarpost.com, HUMANIORA – Di tengah meningkatnya krisis kepercayaan publik, konflik sosial, dan banalitas ibadah yang kerap terjebak rutinitas, konsep Iman Islam Ihsan kembali mengemuka sebagai fondasi etika umat. Tiga pilar ini bukan sekadar istilah teologis, melainkan kerangka nilai yang menentukan arah […]

  • Portugal VS Uzbekistan

    Portugal Terancam? Uzbekistan Siap Bikin Kejutan di Piala Dunia 2026

    • calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 72
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Portugal vs Uzbekistan menjadi salah satu pertandingan yang paling dinantikan pada lanjutan Piala Dunia 2026. Duel ini menarik perhatian karena Timnas Portugal, yang berstatus unggulan dan favorit juara, masih memburu kemenangan pertama mereka. Di sisi lain, Uzbekistan datang dengan kepercayaan diri tinggi dan berpeluang menciptakan kejutan besar di panggung dunia. Pertandingan […]

  • Biawak di Dapur

    Heboh Biawak 60 Cm Muncul di Dapur, Begini Aksi Damkar Ciamis

    • calendar_month Selasa, 9 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 153
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH — Biawak di dapur membuat suasana siang yang semula tenang mendadak berubah tegang di Kabupaten Ciamis, Selasa (9/6/2026). Kemunculan reptil liar tersebut mengejutkan seorang ibu rumah tangga yang tengah memasak. Dalam hitungan menit, laporan masuk ke petugas Damkar Pos WMK Kawali dan proses evakuasi pun segera dilakukan. Peristiwa itu terjadi di Dusun […]

  • Kejurprov Karate Jabar 2026

    Kejurprov Karate Jabar 2026 di Tasikmalaya, Banyak Atlet Membawa Mimpi Besar

    • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 136
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH — Kejurprov Karate Jabar 2026 bukan hanya soal medali dan kemenangan di atas tatami. Di balik tendangan, pukulan, dan teriakan semangat yang menggema di GOR Siliwangi Kota Tasikmalaya, ratusan atlet muda datang membawa harapan yang lebih besar: masa depan. Kejuaraan Provinsi Jawa Barat Satria Tama Karate 2026 yang berlangsung pada Minggu, 7 […]

  • Fun Walk Tasikmalaya

    Bhayangkara Fun Walk Pecah, 10 Ribu Peserta Hadir

    • calendar_month Sabtu, 13 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 96
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH — Bhayangkara Galunggung Fun Walk 2026 berubah menjadi lautan manusia pada Sabtu (13/6/2026). Sekitar 10 ribu peserta Fun Walk Tasikmalaya memadati kawasan Mapolresta Tasikmalaya sejak pagi hari. Jalan Letnan Harun yang biasanya dipenuhi lalu lintas kendaraan berubah menjadi lautan kaos peserta dengan warna-warni yang bergerak serentak mengikuti rute jalan santai. Bahkan sebelum matahari […]

  • Paskibra Sukaratu

    Tiga Minggu Berlatih, 80 Paskibra Sukaratu Kibarkan Merah Putih

    • calendar_month Selasa, 18 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 17
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH — Paskibra Sukaratu sukses menjalankan tugas pengibaran Bendera Merah Putih dalam upacara peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 tingkat Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya. Sebanyak 80 anggota Paskibra dari perwakilan 11 sekolah mengikuti tugas tersebut setelah menjalani latihan bersama selama sekitar tiga minggu. Upacara HUT RI Sukaratu berlangsung khidmat dan lancar. Sejumlah unsur […]

expand_less