Rajin Ibadah, Mengapa Hati Masih Dipenuhi Dengki?
- account_circle redaktur
- calendar_month Sabtu, 25 Jul 2026
- visibility 25
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seorang sedang berjalan sambil menundukkan kepala dengan tangan di dada sebagai simbol muhasabah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Penyakit hati sering menjadi penyebab seseorang sulit merasakan nikmat ibadah. Membersihkan hati, memahami sifat ubudiyah, dan memperkuat kehambaan kepada Allah merupakan jalan yang diajarkan Al-Qur’an dan Rasulullah SAW agar seorang muslim benar-benar dekat dengan Tuhannya. Ironisnya, di zaman ketika ceramah agama dapat ditonton hanya dalam hitungan detik, penyakit hati justru semakin mudah tumbuh tanpa disadari.
Mengapa seseorang bisa rajin salat, tetapi tetap mudah marah? Mengapa ada yang fasih mengutip ayat, namun sulit menerima nasihat? Dan mengapa media sosial dipenuhi kalimat bijak, sementara kolom komentarnya sering berubah menjadi arena saling menghina?
Pertanyaan-pertanyaan itu ternyata sudah dijawab para ulama jauh sebelum internet, bahkan sebelum manusia mengenal istilah viral.
Mereka mengingatkan bahwa musuh terbesar seorang hamba sering kali bukan kemiskinan, bukan fitnah manusia, bahkan bukan kekurangan ilmu. Musuh itu justru bersembunyi di dalam dada: penyakit hati.
Ketika Hati Tidak Ikut Bersujud
Seorang ulama yang bernama Syeikh Athaillah dalam kitab Al-Hikam menulis:
اُخْرُجْ مِنْ أَوْصَافِ بَشَرِيَّتِكَ عَنْ كُلِّ وَصْفٍ يُنَاقِضُ لِعُبُودِيَّتِكَ لِتَكُونَ لِنِدَاءِ الْحَقِّ مُجِيبًا وَمِنْ حَضْرَتِهِ قَرِيبًا
Artinya:
“Keluarlah dari sifat-sifat kemanusiaanmu yang bertentangan dengan kehambaanmu agar engkau mudah memenuhi panggilan Allah dan dekat kepada-Nya.”
Kalimat ini tidak mengajak manusia meninggalkan fitrahnya. Yang diminta adalah meninggalkan tabiat rendah yang menghalangi perjalanan menuju Allah.
Kesombongan.
Hasad.
Dengki.
Tamak.
Cinta dunia yang berlebihan.
Semuanya tampak kecil ketika muncul. Namun, jika terus dipelihara, sifat-sifat itu berubah menjadi tembok yang menghalangi cahaya hidayah.
Masalahnya bukan kurang ibadah. Masalahnya, hati belum ikut sujud.
Allah SWT berfirman:
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
(QS. Asy-Syams: 9-10)
Ayat ini menunjukkan bahwa kemenangan seorang mukmin bukan sekadar diukur dari banyaknya amal, melainkan dari keberhasilannya menjaga kebersihan hati.
Penyakit Hati Tidak Pernah Datang Sendirian
Setiap penyakit hati selalu membawa “teman”.
Hasad melahirkan permusuhan.
Kesombongan melahirkan penghinaan.
Tamak melahirkan kezaliman.
Riya melahirkan kepalsuan.
Sementara cinta dunia membuat seseorang rela mengorbankan prinsip demi kepentingan sesaat.
Fenomena ini mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Orang rela memutus persaudaraan karena jabatan. Persaingan berubah menjadi saling menjatuhkan. Bahkan, tidak sedikit yang lebih takut kehilangan popularitas daripada kehilangan keikhlasan.
Satirnya, sebagian orang menghapus komentar yang dianggap merusak citra, tetapi membiarkan iri hati tinggal bertahun-tahun di dalam dadanya.
Rasulullah SAW mengingatkan:
“Ketahuilah, dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini semakin relevan pada era digital. Sebab, teknologi hanya mempercepat apa yang sudah ada di dalam hati. Jika hati dipenuhi kasih sayang, teknologi menjadi sarana kebaikan. Sebaliknya, jika hati dikuasai kebencian, teknologi berubah menjadi alat menyebarkan permusuhan.
Sifat Ubudiyah Bukan Sekadar Taat Lahiriah
Para ulama menjelaskan bahwa manusia memiliki dua sisi, yaitu lahir dan batin.
Lahir berkaitan dengan perbuatan yang tampak, seperti salat, puasa, zakat, dan amal saleh lainnya.
Batin berkaitan dengan iman, ilmu, niat, serta kebersihan hati.
Keduanya harus berjalan beriringan.
Salat mengajarkan disiplin.
Puasa melatih pengendalian diri.
Zakat membersihkan jiwa dari sifat kikir.
Namun, seluruh ibadah itu akan kehilangan ruh jika hati tetap dipenuhi kesombongan.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)
Karena itu, seseorang tidak cukup hanya menghitung jumlah rakaat. Ia juga perlu menghitung berapa banyak kesombongan yang berhasil ditinggalkan setelah salatnya.
Dunia Boleh Digenggam, Jangan Sampai Menggenggam Hati
Islam tidak melarang seorang muslim memiliki harta, jabatan, atau kedudukan.
Yang dilarang adalah ketika semua itu menguasai hati.
Hari ini, banyak orang sibuk mempercantik profil media sosial. Namun, hanya sedikit yang benar-benar mempercantik akhlaknya.
Banyak yang berlomba terlihat sukses.
Sedikit yang berlomba menjadi ikhlas.
Padahal Allah tidak menilai seberapa sering nama seseorang disebut manusia, melainkan seberapa bersih hatinya ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Rasulullah SAW pun selalu berdoa:
“Yā Muqallibal qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.”
“Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
(HR. Tirmidzi)
Jika Rasulullah SAW yang maksum terus memohon keteguhan hati, apalagi kita yang setiap hari berhadapan dengan godaan dunia.
Sebelum Tidur, Coba Tanyakan Ini kepada Diri Sendiri
Muhasabah tidak memerlukan panggung.
Tidak membutuhkan kamera.
Tidak menunggu bulan Ramadan.
Cukup bertanya dengan jujur kepada diri sendiri.
- Apakah hari ini saya iri kepada keberhasilan orang lain?
- Apakah saya merasa lebih baik daripada saudara saya?
- Dan apakah saya pernah menyakiti orang demi menjaga gengsi?
- Serta apakah saya lebih sibuk memperbaiki citra daripada memperbaiki hati?
Jika salah satu jawabannya adalah “ya”, berarti pekerjaan terbesar kita belum selesai.
Bukan memperbaiki orang lain.
Melainkan memperbaiki diri sendiri.
Kita mungkin tidak mampu menjadi manusia tanpa dosa. Namun, kita selalu bisa menjadi hamba yang mau membersihkan hati sebelum Allah membersihkannya melalui ujian. Sebab pada Hari Kiamat nanti, yang menyelamatkan bukan banyaknya tepuk tangan manusia, melainkan hati yang datang menghadap Allah dalam keadaan bersih. Sebagaimana firman-Nya: “Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih (qalbun salim).” (QS. Asy-Syu’ara: 88–89). (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar