Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Jika Rasulullah Menjadi Ayah Hari Ini, Apa yang Beliau Ajarkan?

Jika Rasulullah Menjadi Ayah Hari Ini, Apa yang Beliau Ajarkan?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
  • visibility 89
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Tidak ada ayah atau ibu yang benar-benar sempurna. Setiap hari, jutaan orang tua berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Mereka bekerja keras, menyekolahkan anak, memenuhi kebutuhan, bahkan rela mengorbankan banyak hal demi masa depan keluarga.

Namun, pada Hari Anak Nasional 2026, ada satu pertanyaan yang layak direnungkan bersama.

Bagaimana jika Rasulullah SAW menjadi ayah di rumah kita hari ini? Apa yang pertama kali akan beliau ajarkan kepada anak-anak kita?

Pertanyaan itu terasa sederhana, tetapi menyimpan makna yang sangat dalam. Sebab, cara Rasulullah mendidik anak tidak bertumpu pada kemewahan, teknologi, atau fasilitas terbaik. Sebaliknya, beliau membangun karakter melalui kasih sayang, adab, tauhid, kejujuran, keberanian, tanggung jawab, dan kemampuan menjaga lisan. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi pendidikan anak dalam Islam sekaligus teladan parenting Islami yang tetap relevan di era digital.

Kasih Sayang Selalu Datang Lebih Dulu

Bayangkan sebuah pagi di Madinah.

Hasan dan Husain kecil berlari menuju Rasulullah. Beliau tidak meminta mereka diam. Tidak pula menyuruh mereka menjaga pakaian agar tetap bersih.

Beliau justru membentangkan kedua tangan.

Kedua cucunya dipeluk dengan penuh cinta.

Pemandangan itu menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu dimulai dari nasihat. Sering kali, pendidikan lahir dari rasa aman yang diterima seorang anak.

Rasulullah SAW bersabda,

“Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Di zaman sekarang, ketika banyak orang tua sibuk dengan pekerjaan dan telepon genggam, pelukan sering kali menjadi hal yang terlupakan. Padahal, anak tidak hanya membutuhkan makanan dan sekolah. Mereka juga membutuhkan perhatian yang tulus.

Kasih sayang bukan sekadar ekspresi. Kasih sayang adalah bahasa pertama yang dipahami setiap anak.

Adab Lebih Penting daripada Kepintaran

Suatu hari, seorang anak makan bersama Rasulullah.

Tangannya bergerak ke berbagai arah mengambil makanan.

Rasulullah tidak membentaknya.

Beliau tersenyum, lalu berkata dengan lembut,

“Wahai anak kecil, bacalah basmalah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang dekat darimu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hanya beberapa kalimat.

Namun, di situlah letak keindahan pendidikan Islam.

Rasulullah tidak mempermalukan anak di depan orang lain. Beliau memperbaiki perilaku tanpa melukai harga dirinya.

Hari ini, banyak orang tua mengejar nilai akademik setinggi mungkin. Akan tetapi, kecerdasan tanpa adab justru melahirkan generasi yang mudah merendahkan orang lain.

Karena itu, cara Rasulullah mendidik anak selalu mendahulukan akhlak sebelum prestasi.

Tauhid Menjadi Pondasi yang Tidak Boleh Goyah

Anak-anak hidup di zaman yang penuh distraksi.

Media sosial, permainan digital, hingga kecerdasan buatan menawarkan begitu banyak jawaban. Namun, Rasulullah mengajarkan bahwa jawaban terpenting tetap datang dari hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.

Kepada Abdullah bin Abbas yang masih belia, Rasulullah berpesan,

“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.”
(HR. Tirmidzi)

Pesan singkat itu mengajarkan tauhid dengan bahasa yang sederhana.

Anak yang mengenal Allah akan belajar jujur meski tidak diawasi. Ia memilih berbuat baik bukan karena takut dimarahi orang tua, melainkan karena yakin Allah selalu melihat setiap perbuatannya.

Kejujuran Dimulai dari Hal-hal Kecil

Pernah seorang ibu memanggil anaknya sambil berkata akan memberinya sesuatu.

Rasulullah bertanya,

“Apa yang akan engkau berikan kepadanya?”

Ketika sang ibu menjawab bahwa ia akan memberikan kurma, Rasulullah bersabda,

“Jika engkau tidak memberinya sesuatu, niscaya akan dicatat sebagai sebuah kebohongan.”
(HR. Abu Dawud)

Hadis ini mengajarkan bahwa pendidikan karakter tidak dimulai dari ruang kelas.

Ia dimulai dari ruang keluarga.

Dari janji yang ditepati.

Dari ucapan yang selaras dengan tindakan.

Sebab, anak belajar lebih banyak dari teladan dibandingkan nasihat.

Keberanian Berasal dari Kebenaran

Banyak orang mengira keberanian identik dengan kekuatan fisik.

Rasulullah justru mengajarkan hal yang berbeda.

Keberanian berarti tetap berkata benar ketika semua orang memilih diam.

Keberanian berarti berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan.

Keberanian juga berarti mampu menolak ajakan buruk meski datang dari teman sendiri.

Nilai inilah yang sangat dibutuhkan anak-anak di tengah maraknya perundungan, tekanan pergaulan, dan derasnya arus informasi digital.

Tanggung Jawab Dibangun Setahap demi Setahap

Rasulullah tidak pernah membentuk karakter secara instan.

Beliau membiasakan anak bertanggung jawab melalui hal-hal sederhana.

Merapikan barang.

Menjaga kebersihan.

Menghormati waktu.

Membantu orang tua.

Menjaga amanah.

Semua kebiasaan kecil itu kemudian tumbuh menjadi karakter yang kuat.

Allah SWT berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)

Ayat tersebut menegaskan bahwa mendidik keluarga merupakan amanah yang harus dijaga sepanjang hayat.

Menjaga Lisan di Era Media Sosial

Barangkali inilah pelajaran Rasulullah yang paling relevan pada Hari Anak Nasional 2026.

Hari ini, lisan tidak hanya keluar dari mulut.

Ia juga hadir dalam komentar media sosial, pesan singkat, unggahan video, hingga ruang percakapan digital.

Rasulullah bersabda,

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mengajarkan anak menjaga lisan kini berarti pula mengajarkan etika bermedia digital.

Sebelum menulis komentar, mereka perlu belajar bertanya:

Apakah ini benar?

Apakah ini baik?

Apakah ini bermanfaat?

Jika jawabannya tidak, diam sering kali menjadi pilihan yang paling bijaksana.

Hari Anak Nasional Bukan Sekadar Seremoni

Lomba akan selesai.

Panggung hiburan akan dibongkar.

Balon-balon akan mengempis.

Unggahan media sosial perlahan tenggelam oleh berita baru.

Namun, satu hal akan tetap tinggal di hati seorang anak: bagaimana ayah dan ibunya memperlakukannya setiap hari.

Mungkin Rasulullah tidak akan memulai pendidikan anak dari sekolah paling mahal atau gawai paling canggih.

Beliau kemungkinan besar akan memulai dari doa sebelum tidur.

Dari pelukan ketika anak kecewa.

Dari makan bersama.

Dari salat berjamaah.

Dari kejujuran dalam hal-hal kecil.

Dari akhlak yang dicontohkan setiap hari.

Karena sejatinya, anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka membutuhkan orang tua yang terus belajar memperbaiki diri.

Refleksi

Hari Anak Nasional 2026 seharusnya tidak berhenti sebagai perayaan tahunan. Momentum ini mengingatkan bahwa masa depan bangsa dibangun dari rumah-rumah yang dipenuhi kasih sayang, adab, dan keteladanan.

Warisan terbesar yang dapat diberikan kepada anak bukanlah rumah yang megah atau tabungan yang melimpah, melainkan iman yang kokoh, akhlak yang mulia, serta keberanian untuk tetap berada di jalan yang benar.

Anak mungkin lupa hadiah yang pernah kita berikan. Namun, mereka tidak akan lupa siapa yang pertama kali mengajarkan mereka mencintai Allah, berkata jujur, meminta maaf, menghormati sesama, dan memeluk mereka saat dunia terasa tidak ramah. Di situlah warisan Rasulullah dimulai—bukan dari kemewahan, melainkan dari akhlak yang hidup dalam setiap langkah kehidupan. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • oknum wartawan Sukabumi

    Oknum Wartawan Sukabumi Disorot, Kepsek SDN 2 Sukaraja Buka Suara

    • calendar_month Rabu, 2 Sep 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 58
    • 0Komentar

    AlbadarPost.com, HUMANIORA — Dugaan intimidasi terhadap kepala sekolah kembali menjadi perhatian di Kabupaten Sukabumi. Kepala SDN 2 Sukaraja, Siti Jualaeha, menyampaikan keluhannya kepada Bupati Sukabumi Asep Japar setelah mengaku menghadapi tekanan dari seorang pria yang disebut mengaku sebagai wartawan. Siti menceritakan persoalan tersebut saat bertemu Bupati Sukabumi. Menurut keterangannya, kedatangan pria berinisial AG ke lingkungan […]

  • Jamaah haji melakukan sa'i, antara Shafa Marwah.

    Siti Hajar dan Nabi Ismail: Kisah Sunyi yang Melahirkan Kota Makkah

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 211
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Kisah Siti Hajar dan Nabi Ismail selama ini sering hanya muncul sekilas saat membahas sejarah kurban atau asal-usul air Zamzam. Padahal di balik perjalanan itu, tersimpan salah satu kisah paling emosional dalam sejarah Islam: tentang seorang ibu yang bertahan di padang tandus, seorang anak kecil yang menangis kehausan, dan sebuah kota suci yang […]

  • Macan Papandayan

    Fakta Terungkap! Video Macan Papandayan Ternyata Hoaks

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 115
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Macan Papandayan kembali menjadi perbincangan setelah sebuah video yang beredar luas melalui WhatsApp mengklaim seekor macan turun gunung dan menerkam tiga warga di kawasan Gunung Papandayan, Kabupaten Garut. Narasi tersebut menyebar dengan cepat, memicu kekhawatiran masyarakat, bahkan membuat sebagian warga mempertanyakan keamanan kawasan wisata alam itu. Namun, hasil penelusuran menunjukkan fakta […]

  • doa hari jumat

    Jangan Terlewat! Ini Doa Mustajab di Malam dan Hari Jumat

    • calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 236
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Doa hari Jumat menjadi salah satu amalan penting yang dianjurkan dalam Islam, terutama pada malam dan hari Jumat. Banyak umat Muslim mencari doa malam Jumat, doa mustajab hari Jumat, serta amalan yang dapat mendatangkan keberkahan. Menariknya, hari Jumat bukan sekadar hari biasa, melainkan waktu istimewa yang penuh peluang dikabulkannya doa. Oleh karena […]

  • Panggilan Haji

    Makna QS Al-Hajj 27, Rahasia Kerinduan Jutaan Orang Menuju Makkah

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 257
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Panggilan haji dalam Islam bukan sekadar perjalanan menuju Tanah Suci. Lebih dari itu, haji adalah perjalanan hati, perjalanan spiritual, dan bentuk kepasrahan manusia kepada Allah SWT. Karena itulah, jutaan umat Muslim terus datang memenuhi seruan Nabi Ibrahim AS dari berbagai penjuru dunia hingga hari ini. Allah SWT berfirman: “Dan serulah manusia untuk […]

  • Laziiz Tasikmalaya

    Laziiz Tasikmalaya Dorong Camilan Desa Naik Kelas

    • calendar_month Selasa, 23 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 281
    • 0Komentar

    Laziiz Tasikmalaya mengembangkan camilan desa berstandar halal dan PIRT dengan dampak ekonomi lokal. albadarpost.com, BERITA DAERAH – Di tengah persaingan industri makanan ringan yang semakin padat, konsumen kini tidak hanya mencari rasa. Mereka menuntut keamanan pangan, konsistensi mutu, dan dampak sosial yang nyata. Di Tasikmalaya, Laziiz Tasikmalaya hadir menjawab kebutuhan itu melalui camilan berbasis desa […]

expand_less