Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Al Hikam: Mengapa Orang Kaya Tetap Merasa Miskin?

Al Hikam: Mengapa Orang Kaya Tetap Merasa Miskin?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
  • visibility 42
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH — Hampir setiap orang bekerja keras agar penghasilannya terus bertambah. Rekening bertambah, aset meningkat, dan usaha berkembang dianggap sebagai tanda keberhasilan. Namun, Al Hikam karya Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari justru mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat banyak orang terdiam: apakah yang bertambah benar-benar kekayaan, atau hanya angka?

Pertanyaan itu terasa semakin relevan di tengah kehidupan modern. Banyak orang hidup berkecukupan, tetapi tetap dihantui rasa kurang. Sebaliknya, tidak sedikit mereka yang hidup sederhana justru tampak tenang, ringan berbagi, dan selalu merasa cukup. Di sinilah Al Hikam mengajak manusia melihat rezeki menurut Islam dari sudut pandang yang berbeda: kekayaan sejati berawal dari hati yang mengenal Allah, bukan dari dompet yang terus terisi.

Ketika Rekening Penuh, Tetapi Hati Tetap Sempit

Bayangkan dua orang pulang pada hari yang sama.

Yang pertama baru menerima keuntungan ratusan juta rupiah. Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya justru dipenuhi kekhawatiran. Ia takut usahanya merugi bulan depan, takut kehilangan pelanggan, bahkan takut jika harus mengeluarkan sedikit hartanya untuk membantu orang lain.

Di sisi lain, seorang pedagang kecil menutup lapaknya dengan keuntungan yang tidak seberapa. Namun sebelum pulang, ia masih menyisihkan sebagian hasil dagangannya untuk tetangga yang sedang kesulitan.

Lalu, siapa yang sebenarnya lebih kaya?

Pertanyaan seperti inilah yang dijawab Syekh Ibnu Athaillah dalam syarah Al Hikam.

Beliau menulis:

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ (الْوَاصِلُونَ إِلَيْهِ) وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ (السَّائِرُونَ إِلَيْهِ) 

“Hendaknya membelanjakan tiap orang kaya menurut kekayaannya, ialah mereka yang telah sampai kepada Allah. Dan orang yang terbatas rezekinya yaitu orang sedang berjalan menuju kepada Allah.”

Kalimat tersebut tidak sedang berbicara tentang besar kecilnya nominal sedekah. Sebaliknya, Syekh Ibnu Athaillah sedang mengajak pembaca memahami tingkat keluasan jiwa seseorang.

Kaya Bukan Soal Banyak Harta

Menurut penjelasan Syekh Ibnu Athaillah, orang yang telah sampai kepada Allah memiliki pandangan yang luas. Ia tidak lagi memandang harta sebagai miliknya sendiri, melainkan amanah yang suatu saat pasti kembali kepada Pemiliknya.

Karena itu, ia memberi dengan ringan.

Ia menolong tanpa sibuk menghitung untung dan rugi.

Ia berbagi tanpa merasa miskin.

Sebaliknya, orang yang masih berada dalam perjalanan menuju Allah sering kali masih terjebak oleh rasa takut kehilangan. Akibatnya, setiap pengeluaran terasa berat. Bahkan ketika hartanya terus bertambah, hatinya tetap merasa sempit.

Di situlah letak ironi kehidupan.

Semakin besar saldo rekening, belum tentu semakin luas hati pemiliknya.

Kurungan yang Tidak Pernah Terlihat

Syekh Ibnu Athaillah menjelaskan bahwa orang yang telah sampai kepada Allah telah keluar dari “kurungan” melihat selain Allah.

Kurungan itu bukan terbuat dari besi.

Kurungan itu bernama ego.

Dan kurungan itu bernama rasa memiliki.

Serta kurungan itu bernama ketakutan kehilangan.

Selama manusia masih menganggap dirinya sebagai pemilik mutlak atas segala sesuatu, selama itu pula ia akan sulit menikmati ketenangan.

Padahal Allah SWT telah mengingatkan:

“Dan nafkahkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu.”

(QS. Al-Munafiqun: 10)

Ayat tersebut mengingatkan bahwa kesempatan berbagi tidak berlangsung selamanya. Hari ini seseorang mampu bersedekah. Esok belum tentu kesempatan itu masih ada.

Satir untuk Zaman yang Gemar Pamer

Inilah ironi yang sering terlihat pada era digital.

Banyak orang rela menghabiskan jutaan rupiah demi terlihat sukses di media sosial.

Namun ketika Allah meminta sebagian kecil dari hartanya melalui sedekah, tangan itu mendadak terasa berat.

Ada yang berlomba membeli barang mewah agar dipuji manusia.

Akan tetapi, ketika diminta membantu kerabat yang kesulitan, alasan pun bermunculan.

Lebih ironis lagi, sebagian orang lebih senang memamerkan bukti transfer donasi daripada menyembunyikan amalnya.

Padahal, Islam mengajarkan bahwa keikhlasan jauh lebih mahal daripada tepuk tangan manusia.

Allah SWT berfirman:

“Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari apa yang Allah berikan kepadanya.”

(QS. At-Talaq: 7)

Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah tidak pernah membandingkan nominal pemberian setiap hamba. Yang Allah lihat ialah kemampuan dan keikhlasannya.

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Sedekah yang paling utama adalah ketika engkau bersedekah dalam keadaan sehat, masih mengharap kaya, dan takut miskin.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa perjuangan terbesar bukan mengeluarkan uang, melainkan mengalahkan rasa takut yang bersembunyi di dalam hati.

Barangkali yang Kurang Bukan Rezeki

Banyak doa dipanjatkan agar rezeki bertambah.

Itu baik.

Namun, ada doa yang sering terlupakan.

Yaitu memohon agar hati dilapangkan.

Sebab ketika hati telah lapang, seseorang tidak akan sibuk menghitung apa yang keluar dari tangannya. Ia justru yakin bahwa setiap sedekah adalah investasi yang tidak pernah merugi di sisi Allah.

Rasa cukup tidak lahir dari banyaknya harta.

Rasa cukup lahir dari hati yang mengenal Pemilik seluruh harta.

Di situlah pesan Al Hikam terasa begitu hidup hingga hari ini.

Pada akhirnya, rekening hanyalah tempat menyimpan angka. Hati adalah tempat menyimpan iman. Ketika ajal tiba, angka akan tetap tinggal di dunia, sedangkan setiap rupiah yang pernah keluar karena Allah akan lebih dahulu menunggu pemiliknya di akhirat. Itulah kekayaan yang sesungguhnya. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • rujukan BPJS

    Tekan Mobilitas Pasien, Kemenkes Percepat Reformasi Rujukan BPJS

    • calendar_month Sabtu, 22 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 102
    • 0Komentar

    Kemenkes ubah sistem rujukan BPJS agar pasien cukup pindah satu kali dengan klasifikasi kompetensi rumah sakit. albadarpost.com, HUMANIORA – Kementerian Kesehatan menegaskan akan memperbaiki sistem rujukan BPJS agar pasien tidak lagi harus berpindah-pindah rumah sakit sebelum mendapatkan layanan yang tepat. Kebijakan baru ini diproyeksikan mempercepat penanganan medis, meningkatkan peluang kesembuhan, serta menekan biaya yang selama […]

  • Final Piala Dunia 2026

    Final Piala Dunia 2026: Messi Tantang Yamal dan Rodri

    • calendar_month Sabtu, 18 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 39
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Final Piala Dunia 2026 akan mempertemukan Spanyol dan Argentina di Stadion New York New Jersey pada Senin (20/7/2026) dini hari WIB. Laga puncak Piala Dunia 2026 ini diperkirakan berlangsung ketat karena mempertemukan dua tim yang tampil konsisten sejak fase grup hingga semifinal. Berdasarkan performa sepanjang turnamen dan statistik resmi kompetisi, sejumlah pertarungan […]

  • Gus Yaqut tahanan rumah

    Gus Yaqut Jadi Tahanan Rumah: Apa Kata KUHAP?

    • calendar_month Minggu, 22 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 144
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Isu Gus Yaqut jadi tahanan rumah tidak hanya ramai secara politik, tetapi juga menarik jika dilihat dari perspektif hukum. Banyak yang bertanya, apakah pengalihan penahanan Gus Yaqut dari rutan ke rumah sesuai dengan aturan? Dalam konteks ini, tahanan rumah Gus Yaqut sebenarnya telah diatur dalam KUHAP dan regulasi hukum pidana Indonesia. […]

  • Pekerja rumah tangga menggunakan smartphone untuk mendaftar BPJS Ketenagakerjaan melalui aplikasi JMO secara online dengan mudah

    PRT Kini Bisa Daftar BPJS dari HP, Begini Cara Mudahnya

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 135
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – BPJS PRT kini menjadi pintu masuk baru bagi jutaan pekerja rumah tangga untuk mendapatkan perlindungan kerja. Program BPJS Ketenagakerjaan untuk Pembantu Rumah Tangga (PRT)—yang juga dikenal sebagai jaminan sosial pekerja informal—membuka akses yang sebelumnya terasa jauh dan rumit. Kini, proses itu berubah drastis. Pendaftaran bisa dilakukan langsung dari ponsel. Tanpa antre, tanpa […]

  • beban manusia

    Al-Baqarah 286 Menjadi Rujukan Batas Beban Kerja dan Mental

    • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 159
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Tekanan kerja dan persoalan kesehatan mental semakin sering muncul dalam kehidupan masyarakat modern. Jam kerja panjang, target berlapis, dan tuntutan produktivitas tinggi menjadi realitas harian. Dalam konteks ini, Al-Qur’an telah lebih dulu menetapkan prinsip dasar: manusia tidak dibebani di luar kemampuannya. Prinsip itu termaktub jelas dalam QS Al-Baqarah ayat 286. Ayat tersebut […]

  • Dana BUMDes Sukamukti

    Kasus Dana BUMDes Sukamukti Masuki Babak Baru

    • calendar_month Sabtu, 11 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 68
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Dana BUMDes Sukamukti menjadi fokus pembahasan setelah Inspektorat Kota Banjar menyelesaikan pemeriksaan dugaan kerugian keuangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Sukamukti, Kecamatan Pataruman. Menindaklanjuti hasil pemeriksaan tersebut, Pemerintah Desa Sukamukti menggelar Musyawarah Desa (Musdes) khusus yang memutuskan memberi kesempatan kepada mantan Direktur BUMDes berinisial S untuk mengembalikan dana yang tercantum […]

expand_less