Humaniora

BBKSDA Jabar Perkuat Reintroduksi Banteng Jawa di Pangandaran

BBKSDA Jawa Barat memperkuat reintroduksi banteng jawa di Pangandaran guna menekan ancaman kepunahan.

albadarpost.com, HUMANIORA — Program reintroduksi banteng jawa kembali menjadi fokus konservasi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat. Langkah ini dilakukan untuk mengatasi ancaman kepunahan banteng jawa (Bos javanicus) yang statusnya meningkat menjadi “sangat terancam punah”. Intervensi dilakukan di Pusat Reintroduksi Banteng Jawa Pangandaran, kawasan konservasi yang menjadi laboratorium hidup upaya penyelamatan spesies.

Kepala Bidang Wilayah III Ciamis BBKSDA Jawa Barat, Achmad Arifin, menyampaikan tujuan utama program ini: meningkatkan populasi banteng jawa dengan kualitas genetik yang lebih baik. Ia menegaskan, pendekatan konservasi tidak bisa dilakukan sendiri. “Program reintroduksi di Cagar Alam Pananjung Pangandaran bertujuan untuk meningkatkan populasi banteng jawa dengan keragaman genetik lebih baik,” kata Achmad di Bandung.

Upaya reintroduksi merupakan kerja lintas pihak. BBKSDA menggandeng Kementerian Kehutanan, Taman Safari Indonesia, Star Energy Geothermal Darajat II Limited, Pemerintah Kabupaten Pangandaran, serta masyarakat. Menurut Achmad, dukungan lintas sektor menjadi penentu karena konservasi menghadapi spektrum tantangan yang melibatkan kebijakan, budaya lokal, hingga faktor ekonomi.

Edukasi publik juga menjadi strategi utama. Konservasi satwa liar memerlukan pemahaman masyarakat untuk tidak menjinakkan, memperdagangkan, ataupun memindahkan satwa dari habitat asal. “Edukasi publik merupakan poin penting untuk menyelamatkan dan melestarikan satwa liar dengan membiarkan mereka hidup di habitat alaminya,” ujar Achmad.


Tantangan Reintroduksi dan Tekanan Ekologi

BBKSDA Jawa Barat tidak menutup fakta bahwa reintroduksi banteng jawa merupakan proses panjang. Kesehatan satwa, daya hidup, perilaku, pakan, dan habitat menjadi prioritas. Di lapangan, sembilan petugas bertugas menjaga satwa mulai dari pemberian nutrisi tambahan, pemeliharaan kandang, pengecekan masa birahi, hingga keberlanjutan padang gembala.

Untuk memperkuat tata kelola, BBKSDA menyusun standar operasional reintroduksi dari sisi kesehatan, perilaku, habitat, serta sarana prasarana. Sistem ini ditopang pengembangan prototipe laporan digital sehingga kondisi satwa diketahui secara cepat. “Kami kembangkan laporan digital yang lebih ter-update untuk mengetahui kondisi satwa sehingga penanganannya cepat dan terukur,” kata Achmad.

Laporan International Union for Conservation of Nature (IUCN) pada 2024 memperburuk urgensi. Status banteng jawa naik ke tingkat critically endangered. Populasi globalnya menurun lebih dari 80 persen dalam dua dekade terakhir. Penyebab utamanya berlapis: perburuan liar untuk tanduk dan daging, hilangnya habitat akibat degradasi hutan, serta dampak bencana alam. Saat ini, populasi global diperkirakan sekitar 3.300 ekor.

Baca juga: Polisi Dalami Penemuan Jasad Bayi di Toilet Stasiun Citayam

Pangandaran dipilih sebagai lokasi reintroduksi karena merupakan habitat yang historis terbukti mendukung reproduksi banteng jawa. Program ini merupakan intervensi hilir: memperkuat populasi sebelum kehabisan basis genetik. Reintroduksi tidak hanya menambah jumlah, tetapi memastikan kualitas jangka panjang.


Sejarah Populasi dan Perkembangan Terbaru

Program reintroduksi banteng di Cagar Alam Pananjung punya riwayat panjang. Upaya pertama dilakukan pada 1922 oleh Y. Eycken yang menghadirkan empat banteng untuk dijadikan taman buru. Pada 1934, introduksi meningkat menjadi 60 hingga 80 ekor. Puncaknya, pada 1979 populasi sempat mencapai 90 ekor.

Namun letusan Gunung Galunggung pada 1982 menghapus seluruh fondasi konservasi. Dampaknya drastis: tahun 2003 populasi banteng menyusut hingga hanya satu ekor jantan tersisa. Situasi tersebut menjadi catatan kelam konservasi Jabar. Baru pada Desember 2024, Menteri Kehutanan melepasliarkan empat banteng dewasa — dua jantan dan dua betina — ke kawasan Pangandaran.

Empat indukan itu berasal dari tiga lembaga konservasi terpisah: satu betina dari Taman Safari Indonesia Bogor bernama Uchi, satu betina dari Taman Safari Indonesia Prigen bernama Bindi, serta dua jantan dari Bali bernama Bejo dan Senta. Strategi ini bertujuan memperlebar variasi genetik, menghindari inbreeding (perkawinan sedarah), dan memastikan daya hidup generasi berikutnya.

Perkembangan mulai terlihat. Hingga akhir 2025, dua kelahiran dicatat. Anakan pertama lahir pada Minggu, 27 Juli 2025 dari induk Uchi dan dinamai Eksploitasia. Anakan kedua lahir pada Kamis, 7 Agustus 2025 dari induk Bindi dan diberi nama Haruni. Dua kelahiran tersebut menunjukkan keberhasilan fase awal reintroduksi.


Reintroduksi Banteng Jawa sebagai Investasi Ekologi

Program reintroduksi banteng jawa di Pangandaran bukan sekadar proyek konservasi, melainkan koreksi atas sejarah eksploitasi satwa liar. Peningkatan status keterancaman menegaskan bahwa tekanan global terhadap satwa endemik semakin besar. Keberhasilan dua kelahiran baru memberi indikator penting: habitat yang pulih dan stabil mampu mengembalikan fungsi ekologis hewan pemakan rumput ini.

BBKSDA menargetkan keberlanjutan program melalui tata kelola berbasis data dan kolaborasi sektor publik-swasta. Seluruh proses reintroduksi dievaluasi secara berkala untuk memastikan kelangsungan populasi tanpa ketergantungan manusia.

BBKSDA Jawa Barat memperkuat reintroduksi banteng jawa di Pangandaran, menekan ancaman kepunahan melalui tata kelola berbasis data dan kolaborasi lintas pihak. (Red/Arrian)


Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button