Omzet Terompet Tahun Baru Turun

Penjualan Tahun Baru Turun, Ekonomi Rumah Tangga Tertekan dan Empati Sosial Menguat
albadarpost.com, HUMANIORA – Menjelang pergantian Tahun Baru 2026, aktivitas perdagangan terompet dan petasan di Kota Depok, Jawa Barat, mengalami penurunan tajam. Pantauan di Pasar Depok Jaya, Kecamatan Pancoran Mas, menunjukkan suasana yang jauh lebih lengang dibanding tahun-tahun sebelumnya. Penurunan penjualan ini tidak sekadar soal dagangan musiman yang sepi. Ia menjadi cermin tekanan ekonomi rumah tangga sekaligus penanda tumbuhnya empati sosial di tengah masyarakat.
Sejumlah pedagang mengakui penurunan penjualan mencapai sekitar 70 persen. Lapak-lapak yang biasanya ramai sejak beberapa hari sebelum malam tahun baru kini lebih banyak menunggu pembeli. Terompet dan petasan sudah dipajang, namun minat beli tidak kunjung datang. Kondisi ini menandai perubahan nyata pada pola konsumsi warga perkotaan.
Dafin Munaf, pedagang terompet dan petasan di Pasar Depok Jaya, mengatakan penjualan tahun ini jauh lebih rendah dibanding tahun lalu. “Penjualan tahun baru kali ini merosot sekali dibanding tahun kemarin,” ujarnya saat ditemui pada Jumat (26/12/2025). Penurunan itu, menurut Dafin, bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan dampak dari kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Tekanan Ekonomi Rumah Tangga
Melemahnya daya beli menjadi faktor utama yang dirasakan pedagang. Dalam situasi biaya hidup yang terus meningkat, banyak keluarga memilih menahan pengeluaran yang bersifat konsumtif. Perayaan Tahun Baru tidak lagi menjadi prioritas belanja, terutama bagi rumah tangga dengan pendapatan terbatas.
Baca juga: Muhammad Jazir dan Warisan Tata Kelola Masjid
Penurunan penjualan Tahun Baru ini memperlihatkan cara keluarga mengatur ulang kebutuhan. Belanja untuk terompet dan petasan, yang bersifat simbolik dan sesaat, menjadi pos yang paling mudah dipangkas. Pilihan ini mencerminkan kehati-hatian warga dalam menjaga stabilitas keuangan keluarga di tengah ketidakpastian ekonomi.
Bagi pedagang musiman, kondisi tersebut berdampak langsung. Mereka berada di lapisan paling rentan dalam struktur ekonomi perkotaan. Ketika konsumsi menurun, kelompok inilah yang pertama merasakan dampaknya. Namun, realitas ini juga menunjukkan bahwa masyarakat tidak sedang apatis, melainkan sedang beradaptasi.
Empati Sosial Menggeser Euforia
Selain faktor ekonomi, turunnya penjualan juga dipengaruhi oleh imbauan kepada masyarakat untuk tidak menyalakan petasan dan terompet. Imbauan ini muncul sebagai bentuk empati terhadap musibah bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera. Ajakan tersebut ikut membentuk sikap publik dalam menyambut pergantian tahun.
Dafin menilai imbauan tersebut berdampak pada minat beli masyarakat dan patut diapresiasi. “Bagus. Karena di sana orang lagi kena musibah, tapi kita di sini senang-senang. Kita menghormati,” katanya. Pernyataan ini mencerminkan adanya kesadaran kolektif untuk menempatkan empati di atas euforia.
Fenomena ini menunjukkan perubahan penting dalam perilaku sosial. Perayaan Tahun Baru tidak lagi dimaknai semata sebagai pesta dan keramaian, tetapi juga sebagai momen refleksi. Sebagian warga memilih merayakan secara sederhana, bahkan menahan diri, sebagai bentuk solidaritas terhadap sesama.
Baca juga: Kisah Keteladanan Nabi Ayub AS
Perubahan Pola Konsumsi Publik
Penurunan penjualan terompet dan petasan di Depok memberi gambaran lebih luas tentang perubahan pola konsumsi masyarakat perkotaan. Tekanan ekonomi rumah tangga mendorong warga untuk lebih selektif, sementara empati sosial membentuk sikap yang lebih peka terhadap konteks kemanusiaan.
Bagi pembuat kebijakan, kondisi ini menjadi sinyal penting. Perlambatan konsumsi di sektor mikro perlu dibaca sebagai indikator kesejahteraan warga. Di saat yang sama, tumbuhnya empati sosial menunjukkan modal sosial masyarakat masih kuat dan perlu dijaga.
Menutup tahun dengan suasana yang lebih sunyi bukan selalu pertanda kemunduran. Dalam konteks ini, penurunan penjualan Tahun Baru justru mencerminkan dua hal sekaligus: tekanan ekonomi yang nyata di tingkat keluarga, dan kedewasaan sosial masyarakat dalam memaknai perayaan. Dua realitas ini berjalan beriringan, membentuk wajah baru Tahun Baru yang lebih sederhana, sadar, dan berempati. (Red/Arrian)




