Kampanye 24 Jam Demi Anak, Tasikmalaya Bidik Rekor MURI
- account_circle redaktur
- calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
- visibility 21
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya berdiskusi dengan Pangdam III Siliwangi membahas kampanye Hari Anak Nasional 2026 untuk perlindungan anak.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HUMANIORA – Hari Anak Nasional 2026 di Kabupaten Tasikmalaya tidak akan berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. KPAID Kabupaten Tasikmalaya bersama Kodam III Siliwangi justru memilih langkah yang lebih berani dengan menggelar kampanye anti kekerasan terhadap anak selama 24 jam tanpa henti pada 22–23 Juli 2026 di Gedung Islamic Center Kabupaten Tasikmalaya. Program tersebut bahkan menarik perhatian Museum Rekor Indonesia (MURI) karena dinilai menjadi pelopor kampanye perlindungan anak secara estafet dengan durasi terpanjang di Indonesia.
Keputusan itu lahir di tengah kenyataan yang masih memprihatinkan. Kasus kekerasan terhadap anak masih menjadi perhatian berbagai pihak. Oleh karena itu, Hari Anak Nasional tahun ini tidak hanya dimaknai sebagai perayaan, tetapi juga dijadikan momentum untuk menggerakkan seluruh elemen masyarakat agar ikut menjaga hak-hak anak.
Berbeda dengan peringatan yang identik dengan panggung hiburan dan seremoni simbolis, Tasikmalaya memilih menyampaikan pesan sederhana tetapi kuat: melindungi anak tidak cukup dilakukan sehari dalam setahun.
Karena itu, selama 24 jam penuh, suara tentang perlindungan anak akan terus bergema tanpa jeda.
Secangkir Kopi yang Melahirkan Gerakan Besar
Ide besar tersebut bermula dari pertemuan hangat di taman Markas Kodam III Siliwangi pada Selasa (14/7/2026).
Di bawah rindangnya pepohonan, Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya Ato Rinanto berdiskusi dengan Pangdam III Siliwangi Mayjen TNI Kosasih. Pertemuan itu berlangsung sederhana. Tidak ada panggung megah ataupun seremoni resmi. Hanya secangkir kopi yang menemani pembicaraan mengenai masa depan anak-anak Jawa Barat, khususnya di Kabupaten Tasikmalaya.
Namun, dari suasana santai itulah lahir sebuah komitmen besar.
Mayjen TNI Kosasih menegaskan bahwa keluarga tetap menjadi benteng pertama dalam melindungi anak.
“Hari Anak Nasional adalah momentum yang tepat untuk menyadarkan kita sebagai orang tua. Tugas kita bukan hanya memberi makan, tetapi memastikan anak tumbuh tanpa diskriminasi, tanpa rasa takut, dan seluruh haknya terpenuhi. Benteng pertahanan pertama mereka adalah keluarga,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan perlindungan anak bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga tertentu. Sebaliknya, perubahan justru dimulai dari lingkungan yang paling dekat, yakni rumah.
Ironisnya, banyak orang tua berusaha memberikan sekolah terbaik, gawai terbaru, bahkan berbagai fasilitas modern. Akan tetapi, sebagian masih lupa menghadirkan rasa aman, perhatian, dan ruang dialog yang sehat di dalam keluarga. Padahal, anak lebih membutuhkan pelukan yang tulus daripada hadiah yang mahal.
Kampanye 24 Jam, Anak Menjadi Pemeran Utama
Semangat itulah yang kemudian diterjemahkan ke dalam rangkaian kegiatan Hari Anak Nasional 2026.
Selama satu hari penuh tanpa jeda, Gedung Islamic Center Kabupaten Tasikmalaya akan menjadi ruang ekspresi bagi anak-anak.
Mereka bukan sekadar menjadi penonton.
Mereka justru tampil sebagai pemeran utama melalui pentas seni, pertunjukan musik, teater, pembacaan puisi, hingga stand-up comedy.
Selain itu, panitia juga menyiapkan dialog budaya yang mempertemukan orang tua, tokoh masyarakat, media, akademisi, dan pemangku kebijakan. Tujuannya sederhana, tetapi sangat penting, yaitu membangun kesadaran bersama bahwa perlindungan anak harus menjadi budaya, bukan sekadar slogan.
Kehadiran pemerhati anak nasional Kak Seto semakin menguatkan pesan tersebut. Dukungan tokoh nasional diharapkan mampu memperluas gaung kampanye hingga melampaui batas Kabupaten Tasikmalaya.
Lebih dari Sekadar Perayaan, Ada Tiga Target Besar yang Ingin Dicapai
Bagi Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rinanto, Hari Anak Nasional tahun ini bukan hanya tentang menggelar acara yang ramai dikunjungi masyarakat. Ada tujuan yang jauh lebih besar, yakni mengembalikan makna Hari Anak Nasional sebagaimana semangat Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1984, yaitu menghadirkan kepedulian nyata terhadap hak-hak anak.
Menurutnya, anak-anak tidak membutuhkan janji yang indah. Mereka membutuhkan lingkungan yang membuat mereka merasa aman ketika berada di rumah, nyaman saat belajar di sekolah, dan terlindungi ketika berinteraksi di tengah masyarakat.
Atas dasar itulah, KPAID Kabupaten Tasikmalaya menetapkan tiga fokus utama dalam peringatan Hari Anak Nasional 2026.
1. Membangun Kepedulian Seluruh Elemen Masyarakat
Perlindungan anak tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan satu lembaga. Sebaliknya, keberhasilan sangat bergantung pada keterlibatan semua pihak.
Karena itu, KPAID menggandeng pemerintah daerah, TNI, kepolisian, dunia usaha, media massa, organisasi kemasyarakatan, komunitas, akademisi, hingga keluarga sebagai bagian dari gerakan bersama.
Pendekatan tersebut lahir dari keyakinan bahwa karakter anak dibentuk oleh lingkungan yang mereka lihat setiap hari. Ketika lingkungan memberi teladan yang baik, anak akan tumbuh dengan rasa percaya diri, empati, dan keberanian.
Namun sebaliknya, ketika lingkungan membiarkan kekerasan menjadi sesuatu yang dianggap biasa, anak berisiko membawa luka itu hingga dewasa.
2. Memperkuat Jejaring Perlindungan Anak
Gerakan ini juga diarahkan untuk memperkuat koordinasi antarlembaga.
KPAID ingin memastikan bahwa setiap laporan dugaan kekerasan terhadap anak dapat ditangani lebih cepat melalui sinergi bersama pemerintah, aparat penegak hukum, organisasi masyarakat, lembaga pendidikan, dan media.
Langkah tersebut menjadi penting karena perlindungan anak tidak berhenti pada penanganan kasus. Pencegahan jauh lebih bernilai daripada sekadar menyelesaikan persoalan setelah korban bertambah.
Semakin cepat masyarakat berani melapor, semakin besar peluang anak-anak memperoleh perlindungan sejak dini.
3. Menguatkan Budaya Positive Parenting
Selain pengawasan, edukasi kepada orang tua juga menjadi perhatian utama.
Melalui berbagai dialog interaktif selama rangkaian Hari Anak Nasional, masyarakat akan diajak memahami pentingnya Positive Parenting, yaitu pola pengasuhan yang mengedepankan kasih sayang, komunikasi, penghargaan terhadap anak, dan disiplin tanpa kekerasan.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, tantangan orang tua memang semakin kompleks. Anak-anak tumbuh di era digital dengan akses informasi yang nyaris tanpa batas. Karena itu, kehadiran orang tua tidak cukup hanya secara fisik. Anak membutuhkan pendampingan emosional, ruang untuk bercerita, dan rasa aman ketika menghadapi berbagai persoalan.
Ato Rinanto mengingatkan bahwa amanat Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak menegaskan tanggung jawab melindungi anak berada di tangan seluruh komponen bangsa.
“Anak-anak tidak bisa memilih lahir di keluarga seperti apa. Tetapi kita sebagai orang dewasa selalu memiliki pilihan untuk menghadirkan lingkungan terbaik bagi tumbuh kembang mereka,” tegasnya.
Saat Daerah Lain Menggelar Seremoni, Tasikmalaya Memilih Menggerakkan Hati
Di banyak tempat, Hari Anak Nasional identik dengan panggung hiburan, perlombaan, atau kegiatan seremonial yang selesai dalam hitungan jam.
Tasikmalaya mencoba menghadirkan pendekatan yang berbeda.
Kampanye selama 24 jam bukan sekadar mengejar rekor atau menciptakan kegiatan yang viral. Lebih dari itu, gerakan ini ingin memastikan bahwa pesan tentang perlindungan anak terus terdengar, bahkan ketika lampu panggung mulai dipadamkan.
Keberhasilan sebuah peringatan bukan diukur dari banyaknya tamu undangan atau meriahnya dekorasi. Ukurannya justru terlihat beberapa bulan kemudian: apakah semakin banyak orang tua yang memilih berdialog daripada membentak, semakin banyak guru yang mengedepankan pembinaan daripada hukuman, dan semakin banyak warga yang berani melaporkan kekerasan terhadap anak.
Jika perubahan kecil itu mulai tumbuh, maka Hari Anak Nasional telah menemukan makna yang sesungguhnya.
Masa depan Indonesia tidak lahir di ruang sidang atau gedung-gedung megah. Masa depan itu sedang bermain di halaman rumah, belajar di ruang kelas, dan menggenggam tangan orang tuanya. Ketika satu anak berhasil diselamatkan dari kekerasan hari ini, sesungguhnya satu masa depan bangsa sedang ikut diselamatkan. Sebab, bangsa yang benar-benar maju bukan hanya mampu membangun infrastruktur, tetapi juga mampu menjaga senyum anak-anaknya tetap utuh. (GZ)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar