Kemarau Panjang? Inilah Tuntunan Lengkap Salat Istisqa
- account_circle redaktur
- calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
- visibility 32
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi salat istisqa di tengah terik matahari.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Musim kemarau yang berkepanjangan sering membawa dampak bagi kehidupan masyarakat, mulai dari berkurangnya ketersediaan air bersih hingga terganggunya sektor pertanian. Dalam ajaran Islam, salah satu bentuk ikhtiar spiritual yang dianjurkan ketika terjadi kekeringan adalah Salat Istisqa, yaitu salat sunnah untuk memohon turunnya hujan kepada Allah SWT. Namun, ibadah ini tidak menggantikan ikhtiar nyata seperti menjaga lingkungan, mengelola sumber daya air, dan membantu masyarakat yang terdampak.
Dengan demikian, Islam mengajarkan keseimbangan antara doa, usaha, dan tawakal. Ketiganya saling melengkapi dalam menghadapi setiap ujian kehidupan.
Apa Itu Salat Istisqa?
Salat Istisqa merupakan salat sunnah dua rakaat yang dikerjakan untuk memohon hujan ketika suatu daerah mengalami kemarau atau kekeringan.
Tuntunan ini dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW. Hadis mengenai pelaksanaan Salat Istisqa diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, ketika Nabi Muhammad SAW memimpin kaum Muslimin berdoa memohon hujan di Madinah. Atas izin Allah SWT, hujan pun turun sebagai rahmat bagi masyarakat.
Ibadah tersebut mengajarkan bahwa manusia memiliki keterbatasan, sedangkan Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Mengatur alam semesta.
Persiapan Sebelum Salat Istisqa
Para ulama menjelaskan bahwa sebelum melaksanakan Salat Istisqa, seorang Muslim dianjurkan mempersiapkan diri lahir dan batin. Beberapa amalan yang dianjurkan antara lain memperbanyak istigfar, bertaubat, memperbanyak sedekah, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta memperbanyak doa.
Anjuran tersebut memiliki landasan dalam firman Allah SWT:
“Maka aku berkata kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.'”
(QS. Nuh: 10–11).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa istigfar dan taubat menjadi bagian penting dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Tata Cara Salat Istisqa Sesuai Sunnah
Salat Istisqa dilaksanakan sebanyak dua rakaat, umumnya di lapangan terbuka pada waktu pagi, sebagaimana waktu pelaksanaan Salat Id.
Rakaat pertama dimulai dengan niat, takbiratul ihram, takbir sebanyak 7 kali sebelum membaca surat Al-Fatihah, membaca Surah Al-Fatihah, kemudian dianjurkan membaca Surah Al-A’la atau surah lain yang mudah.
Rakaat kedua dilanjutkan dengan membaca takbir sebanyak 7 kali sebelum membaca surat Al-Fatihah, membaca Surah Al-Fatihah, kemudian dianjurkan membaca Surah Al-Ghasyiyah atau surah lain yang dikuasai. Setelah itu salat diakhiri dengan salam.
Selanjutnya setelah salam, imam menyampaikan khutbah yang berisi ajakan untuk bertakwa, memperbanyak istigfar, memperbanyak amal saleh, dan memohon hujan kepada Allah SWT.
Kemudian setelah setelah selesai khutbah, khatib memimpin jamaah membaca:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّاراً فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَاراً
“Ya Allah, sungguh kami memohon ampun kepada-Mu, karena Kau adalah Maha Pengampun. Maka turunkanlah hujan yang lebat dari langit-Mu untuk kami.”
Sebagian ulama juga menjelaskan bahwa imam dianjurkan membalik selendang atau pakaian bagian atas ketika berdoa sebagai simbol harapan agar Allah SWT mengubah keadaan dari kekeringan menjadi turunnya hujan. Dalam masalah khutbah maupun beberapa rincian pelaksanaan Salat Istisqa, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama fikih. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari khazanah keilmuan Islam dan sama-sama memiliki dasar ijtihad yang dihormati.
Doa Memohon Hujan
Di antara doa yang diajarkan Rasulullah SAW ialah:
اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا
Allahumma aghitsna.
Artinya:
“Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.”
Selain itu, Allah SWT berfirman:
“Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa, lalu Dia menyebarkan rahmat-Nya. Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.”
(QS. Asy-Syura: 28).
Ayat tersebut mengajarkan bahwa seorang Muslim tidak boleh kehilangan harapan terhadap rahmat Allah SWT.
Ikhtiar Spiritual dan Ikhtiar Nyata Harus Berjalan Bersama
Salat Istisqa merupakan bagian dari ikhtiar spiritual. Namun, Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga sebab-sebab yang mendukung keberlangsungan hidup. Oleh karena itu, menghemat penggunaan air, melestarikan hutan, menjaga daerah resapan, serta membantu masyarakat yang mengalami kekeringan merupakan bentuk tanggung jawab yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.
Rasulullah SAW bersabda:
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung itu pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”
(HR. Tirmidzi).
Hadis tersebut menegaskan bahwa tawakal selalu disertai usaha, bukan hanya menunggu tanpa berikhtiar.
Pelajaran yang Tetap Relevan
Di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya risiko kekeringan di berbagai daerah, Salat Istisqa mengingatkan bahwa manusia perlu menjaga keseimbangan antara hubungan dengan Allah SWT dan tanggung jawab terhadap alam.
Tata cara yang dijelaskan dalam artikel ini merupakan panduan umum berdasarkan hadis-hadis sahih serta pendapat mayoritas ulama. Dalam praktiknya, pelaksanaan Salat Istisqa dapat mengikuti tuntunan ulama, imam, atau lembaga keagamaan setempat.
Salat Istisqa bukan sekadar memohon turunnya hujan dari langit. Lebih dari itu, ibadah ini mengajarkan agar hati kembali tunduk kepada Allah, tangan tetap bekerja menjaga bumi, dan harapan tidak pernah kering meski kemarau terasa panjang. Ketika doa dan ikhtiar berjalan beriringan, seorang Muslim telah menapaki jalan yang dicontohkan Rasulullah SAW. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar