Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Bukan Karena Lemah, Ini Alasan Nabi Melarang Umat Mendekati Dajjal

Bukan Karena Lemah, Ini Alasan Nabi Melarang Umat Mendekati Dajjal

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
  • visibility 177
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Suasana masjid mulai lengang selepas salat Magrib. Sebagian jamaah sudah pulang. Beberapa anak masih duduk di serambi sambil mengaji. Di sudut ruangan, seorang pemuda mengangkat tangan ketika pengajian membahas tentang Dajjal.

Pertanyaannya sederhana.

“Kalau iman kita kuat, kenapa Rasulullah tidak menyuruh umat Islam menghadapi Dajjal? Mengapa justru disuruh menjauh?”

Pertanyaan itu membuat sebagian jamaah terdiam.

Sebab selama ini banyak orang membayangkan bahwa keberanian adalah cara terbaik menghadapi fitnah. Semakin kuat iman seseorang, semakin dekat ia bisa mendekati sumber godaan tanpa terpengaruh.

Namun hadis Rasulullah ﷺ justru menunjukkan hal yang berbeda.

Ketika berbicara tentang fitnah Dajjal, Rasulullah tidak memerintahkan umatnya untuk berdebat, membuktikan diri paling kuat, atau menguji keteguhan iman dengan mendekatinya.

Sebaliknya, beliau memerintahkan umat Islam untuk menjauhinya.

Di balik perintah itu tersimpan pelajaran psikologis dan spiritual yang sangat dalam. Bahkan, pelajaran tersebut terasa semakin relevan di zaman sekarang.

Rasulullah Menyuruh Umat Menjauh dari Dajjal

Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa mendengar tentang Dajjal maka hendaklah ia menjauhinya. Demi Allah, sesungguhnya seseorang datang kepadanya dengan mengira dirinya beriman, lalu ia mengikutinya karena syubhat yang dibawanya.”

(HR. Abu Dawud)

Perhatikan kalimat dalam hadis tersebut.

“Seseorang datang kepadanya dengan mengira dirinya beriman.”

Artinya, orang yang terpengaruh Dajjal bukan selalu mereka yang lemah.

Bukan selalu mereka yang tidak berilmu.

Bahkan bisa jadi seseorang yang merasa dirinya kuat.

Di sinilah letak bahaya yang sering tidak disadari.

Kadang-kadang yang menjatuhkan manusia bukan kebodohan.

Melainkan rasa terlalu percaya diri.

Mengapa Orang Pintar Pun Bisa Tersesat?

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat fenomena yang menarik.

Ada orang yang berhasil menempuh pendidikan tinggi tetapi tertipu investasi bodong.

Ada yang berpengalaman puluhan tahun dalam bisnis namun masih menjadi korban penipuan.

Dan ada pula yang rajin membaca tetapi tetap termakan berita palsu.

Di warung kopi, di grup WhatsApp keluarga, atau di media sosial, kalimat seperti ini sering terdengar:

“Saya mah tidak mungkin tertipu.”

Ironisnya, tidak lama kemudian orang yang sama ikut menyebarkan informasi yang ternyata tidak benar.

Manusia memang memiliki keterbatasan.

Karena itu Allah SWT mengingatkan:

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.”

(QS. Al-Isra: 36)

Ayat ini tidak hanya berbicara tentang ilmu.

Ayat ini juga berbicara tentang kerendahan hati.

Sebab orang yang sadar akan keterbatasannya biasanya lebih berhati-hati sebelum percaya, sebelum berbicara, dan sebelum mengambil keputusan.

Bahaya Merasa Diri Paling Benar

Salah satu pelajaran besar dari hadis tentang Dajjal adalah pentingnya sikap tawadhu.

Semakin seseorang merasa dirinya kebal terhadap kesalahan, semakin besar risiko ia lengah.

Hal itu bukan hanya berlaku dalam urusan agama.

Dalam kehidupan sosial pun demikian.

Tidak sedikit konflik bermula karena masing-masing pihak merasa paling benar. Tidak sedikit perselisihan berkepanjangan terjadi karena seseorang lebih sibuk mempertahankan gengsi daripada mencari kebenaran.

Padahal Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh.”

(QS. Luqman: 18)

Kesombongan sering datang dengan wajah yang halus.

Kadang tidak berupa ucapan.

Kadang berupa keyakinan bahwa diri sendiri tidak mungkin salah.

Mengapa Nabi Tidak Menyuruh Umat Mendebat Dajjal?

Pertanyaan ini sering muncul.

Bukankah kebenaran seharusnya diperjuangkan?

Bukankah kebatilan harus dilawan?

Tentu saja.

Namun Rasulullah ﷺ memahami bahwa fitnah Dajjal berada di luar ukuran fitnah biasa.

Beliau bersabda:

“Tidak ada fitnah yang lebih besar antara penciptaan Adam hingga hari kiamat selain fitnah Dajjal.”

(HR. Muslim)

Karena itulah Nabi tidak mengajarkan sikap nekat.

Beliau mengajarkan kewaspadaan.

Sama seperti seseorang tidak perlu membuktikan keberanian dengan berjalan ke tengah kobaran api, seorang Muslim juga tidak perlu menguji imannya dengan mendekati sumber fitnah.

Ada peperangan yang dimenangkan dengan maju.

Tetapi ada pula peperangan yang dimenangkan dengan menjauh.

Pelajaran untuk Zaman Media Sosial

Pelajaran ini terasa sangat dekat dengan kehidupan modern.

Hari ini banyak orang masuk ke ruang perdebatan yang penuh emosi. Banyak yang sengaja mendatangi konten yang merusak akidah hanya untuk membuktikan dirinya kuat. Banyak pula yang merasa mampu menyaring semuanya sendiri.

Padahal tidak semua orang keluar dari tempat itu dengan kondisi yang sama ketika masuk.

Sebagian membawa keraguan.

Sebagian kehilangan ketenangan.

Dan sebagian lagi kehilangan arah.

Karena itu, menjaga hati kadang lebih penting daripada memenangkan perdebatan.

Menjaga iman kadang lebih penting daripada membuktikan diri paling pintar.

Cara Menjaga Diri dari Fitnah Dajjal

Rasulullah ﷺ mengajarkan beberapa benteng perlindungan.

Salah satunya membaca dan memahami Surah Al-Kahfi.

Beliau bersabda:

“Barang siapa menghafal sepuluh ayat pertama dari Surah Al-Kahfi, maka ia akan terlindungi dari Dajjal.”

(HR. Muslim)

Selain itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa perlindungan dari fitnah Dajjal, memperkuat tauhid, memperdalam ilmu agama, dan membiasakan diri melakukan muhasabah.

Sebab iman tidak hanya dijaga dengan pengetahuan.

Iman juga dijaga dengan kerendahan hati.

Pelajaran yang Sering Terlupakan

Mungkin itulah sebabnya Rasulullah tidak memerintahkan umat untuk mendekati Dajjal.

Beliau memahami tabiat manusia.

Beliau memahami bahwa hati bisa berubah.

Dan beliau memahami bahwa akal bisa tergelincir.

Serta beliau memahami bahwa orang yang paling berbahaya bukan selalu yang paling lemah.

Terkadang justru yang paling berbahaya adalah mereka yang merasa dirinya tidak mungkin jatuh.

Dajjal tidak akan menipu manusia dengan mengatakan bahwa dirinya pendusta. Ia akan datang dengan keyakinan, pesona, dan janji yang tampak meyakinkan. Karena itu, benteng pertama dari fitnah bukanlah keberanian untuk mendekat, melainkan kerendahan hati untuk mengakui bahwa tanpa pertolongan Allah, siapa pun bisa tersesat. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • literasi Al-Qur’an guru PAI

    Kementerian Agama: Masa Depan Literasi Al-Qur’an Dipertaruhkan

    • calendar_month Rabu, 31 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 220
    • 0Komentar

    Editorial Albadarpost menilai rendahnya literasi Al-Qur’an guru PAI sebagai masalah serius kebijakan pendidikan agama. albadarpost.com, EDITORIAL – Temuan Kementerian Agama tentang rendahnya literasi Al-Qur’an guru Pendidikan Agama Islam (PAI) tingkat sekolah dasar seharusnya menggugah nurani kebijakan publik. Data resmi menunjukkan bahwa lebih dari separuh guru PAI SD di Indonesia belum fasih membaca Al-Qur’an. Ini bukan […]

  • toko Sen Sen Tasikmalaya

    Pedagang Cikurubuk Terjepit, Toko Sen Sen Tasikmalaya Jadi Sorotan

    • calendar_month Senin, 9 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 196
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Polemik mengenai toko Sen Sen Tasikmalaya kembali menjadi sorotan setelah pedagang Pasar Cikurubuk menyuarakan protes pada Senin (9/3/2026). Mereka menilai aktivitas usaha toko tersebut memicu persaingan yang tidak seimbang. Selain dikenal sebagai toko grosir, sejumlah pedagang juga menilai toko tersebut ikut menjual barang secara eceran, sehingga membuat pedagang kecil kehilangan pelanggan. […]

  • Santriwati Hilang Garut

    Berangkat ke Pesantren, Dua Santriwati asal Garut Tak Kunjung Tiba

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 267
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kabar mengenai dua santriwati hilang asal Garut menjadi perhatian warga media sosial sejak Sabtu (23/5/2026). Informasi tentang santriwati hilang Garut tersebut menyebar luas melalui Facebook dan grup percakapan warga setelah keluarga membuat laporan resmi ke Polsek Bayongbong. Redaksi albadarpost.com telah melakukan klarifikasi langsung kepada pihak keluarga terkait kebenaran informasi tersebut. Selain […]

  • Tradisi lebaran Nusantara dengan masyarakat mengenakan pakaian adat dan berkumpul dalam perayaan budaya daerah

    Jarang Diketahui! Tradisi Lebaran Unik dari Berbagai Daerah

    • calendar_month Minggu, 22 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 205
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, termasuk dalam perayaan Idulfitri. Tradisi Lebaran Nusantara menyimpan banyak cerita menarik yang belum banyak diketahui. Tradisi Lebaran ini, atau yang sering disebut budaya Lebaran daerah dan kebiasaan Idulfitri unik, menunjukkan bagaimana masyarakat merayakan hari kemenangan dengan cara yang khas dan penuh makna. Pertama, Indonesia terdiri […]

  • Kereta Khusus Petani-Pedagang

    Kereta Khusus Petani-Pedagang Beroperasi 14 Kali per Hari di Merak

    • calendar_month Senin, 1 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 257
    • 0Komentar

    Kereta Khusus Petani-Pedagang mulai beroperasi di rute Rangkasbitung–Merak, memberi ruang aman tanpa berebut. albadarpost.com, LENSA – Mulai Senin, 1 Desember 2025, PT Kereta Api Indonesia (KAI) resmi menjalankan Kereta Khusus Petani-Pedagang di lintas Rangkasbitung–Merak. Layanan ini menyertakan satu gerbong khusus yang ditempel pada rangkaian Commuter Line Merak atau KA Lokal Merak. Kebijakan ini lahir untuk […]

  • Kapolres Cup 2026

    Kapolres Cup 2026 Guncang Tasik, Peserta dari Bali Datang

    • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 286
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH — Sejak Minggu pagi (28/6/2026), suasana di Lapangan Upacara Mapolresta Tasikmalaya, Jalan Letnan Harun, sudah berbeda dari biasanya. Deretan kendaraan peserta memenuhi area parkir. Ratusan sangkar burung berjajar rapi di bawah tenda. Di beberapa sudut, para peserta tampak sibuk memeriksa kondisi burung andalannya. Tak lama kemudian, ribuan suara burung berkicau bersamaan memecah […]

expand_less