Prediksi Skor Piala Dunia, Bolehkah Menurut Syariat?
- account_circle redaktur
- calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
- visibility 14
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi orang tua mendampingi anak nonton pertandingan sepakbola.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Judi bola menurut Islam kembali menjadi topik yang ramai diperbincangkan seiring berlangsungnya Piala Dunia 2026. Bersamaan dengan euforia sepak bola terbesar di dunia tersebut, aktivitas taruhan olahraga, prediksi skor berhadiah, hingga permainan fantasy league ikut menjadi bahan obrolan di berbagai tempat. Karena itu, tidak sedikit orang yang bertanya, apakah semua bentuk hiburan tersebut termasuk maysir atau perjudian yang dilarang dalam syariat?
Forbes memperkirakan transaksi taruhan selama Piala Dunia dapat mencapai puluhan miliar dolar. Di tengah perkembangan teknologi digital, batas antara hiburan dan perjudian pun kembali menjadi pembahasan menarik dalam fikih kontemporer.
Menjelang tengah malam, suasana di sejumlah warung kopi masih terlihat ramai. Suara komentator pertandingan bercampur dengan dentingan sendok yang beradu dengan gelas kopi. Sebagian penonton sibuk membahas peluang tim favorit mereka. Ada yang saling menebak skor akhir pertandingan, sementara beberapa lainnya terlihat membuka aplikasi fantasy league di telepon genggamnya. Sesekali terdengar candaan mengenai taruhan kecil antar teman yang dianggap sekadar hiburan.
Padahal, dari sudut pandang fikih, persoalan tersebut tidak sesederhana yang dibayangkan.
Islam Melarang Maysir atau Perjudian
Islam secara tegas melarang segala bentuk perjudian atau maysir.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, perjudian, berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah agar kamu beruntung.”
(QS. Al-Maidah: 90)
Selanjutnya, Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ
Artinya:
“Sesungguhnya setan bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu melalui khamar dan perjudian, serta menghalangi kamu dari mengingat Allah dan salat. Maka tidakkah kamu berhenti?”
(QS. Al-Maidah: 91)
Karena itu, para ulama sepakat bahwa maysir merupakan perbuatan yang diharamkan.
Apakah Prediksi Skor Termasuk Judi?
Selama Piala Dunia berlangsung, tradisi menebak skor pertandingan memang semakin marak. Bahkan, di antara sesama teman atau anggota komunitas, aktivitas tersebut sering dilakukan sekadar untuk menambah keseruan saat menyaksikan pertandingan.
Pada dasarnya, memprediksi hasil pertandingan tanpa adanya taruhan uang tidak termasuk perjudian.
Namun, keadaan akan berbeda ketika seluruh peserta mengumpulkan sejumlah uang, lalu pemenangnya mengambil hadiah yang berasal dari dana para peserta tersebut.
Dalam kondisi seperti itu, terdapat unsur untung dan rugi yang bergantung pada spekulasi. Karena itulah, mayoritas ulama memasukkannya ke dalam kategori maysir.
Bagaimana Hukum Fantasy League?
Fenomena fantasy league menjadi salah satu tren yang ikut berkembang selama Piala Dunia.
Sebagian orang memainkan permainan tersebut hanya untuk hiburan. Mereka menyusun tim virtual dan bersaing dengan teman-teman tanpa melibatkan uang sama sekali.
Dalam kondisi seperti itu, para ulama umumnya memandang aktivitas tersebut sebagai sesuatu yang diperbolehkan selama tidak melalaikan kewajiban.
Akan tetapi, hukum tersebut dapat berubah apabila peserta diwajibkan membayar sejumlah uang dan hadiah bagi pemenang berasal dari kumpulan dana peserta.
Pada kondisi inilah unsur perjudian mulai muncul.
Para ulama juga memiliki kaidah penting:
اَلضَّرَرُ يُزَالُ
Artinya:
“Bahaya harus dihilangkan.”
Kaidah tersebut menjadi salah satu dasar dalam menjaga kemaslahatan dan mencegah kerugian di tengah masyarakat.
Islam Membolehkan Hiburan, Tetapi Melarang Jalan Menuju Kemudaratan
Pada dasarnya, Islam tidak memusuhi hiburan. Rasulullah SAW pun memberikan ruang bagi umatnya untuk menikmati perkara-perkara yang mubah.
Namun, Islam juga mengingatkan agar kesenangan tidak berubah menjadi pintu menuju sesuatu yang diharamkan.
Rasulullah SAW bersabda:
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
Artinya:
“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.”
(HR. Ibnu Majah)
Selain itu, Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
Artinya:
“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu.”
(HR. Bukhari)
Hadis tersebut mengandung pesan bahwa seorang muslim tidak boleh larut dalam kesenangan hingga melupakan kewajiban kepada Allah SWT.
Piala Dunia Akan Berlalu, Tetapi Setiap Harta Akan Dimintai Pertanggungjawaban
Di banyak tempat, sorak-sorai para suporter masih terdengar hingga dini hari. Ada yang tertawa karena tim jagoannya menang. Ada pula yang hanya bisa terdiam setelah tim favoritnya harus tersingkir.
Euforia seperti itu memang akan selalu menjadi bagian dari sepak bola.
Namun, kemeriahan tersebut pada akhirnya akan berlalu. Trofi akan berpindah tangan. Nama juara baru akan menghiasi catatan sejarah.
Yang sering terlupakan justru sesuatu yang jauh lebih penting.
Setiap harta yang dimiliki manusia akan dimintai pertanggungjawaban. Dari mana ia diperoleh dan untuk apa ia digunakan.
Karena itu, Piala Dunia seharusnya menjadi sarana menikmati hiburan yang sehat dan mempererat persaudaraan, bukan membuka jalan menuju sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT.
Sebab, kemenangan sejati bukanlah ketika prediksi skor kita tepat atau ketika tim favorit berhasil mengangkat trofi.
Kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika seseorang mampu menjaga hati, menjaga hartanya, dan tetap berada di jalan yang diridhai Allah SWT.
Suatu hari, sorak kemenangan akan berhenti, layar televisi akan padam, dan nama juara baru hanya tinggal catatan sejarah. Namun, setiap rupiah yang pernah masuk ke dalam genggaman manusia akan tetap dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Pada saat itulah, yang paling berharga bukan lagi kemenangan di lapangan, melainkan keselamatan amal yang dibawa pulang menuju kehidupan yang kekal. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar