Saat Hati Gelap, Siapa yang Sebenarnya Sedang Menang?
- account_circle redaktur
- calendar_month Kamis, 27 Agt 2026
- visibility 44
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi cahaya menerangi hati dalam refleksi Hikam tentang nur, iman, hidayah, dan hawa nafsu
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Ada perang yang tidak pernah masuk berita pagi. Tidak ada sirene, tidak ada garis polisi, bahkan tidak ada seorang pun yang tahu siapa pemenangnya. Perang itu berlangsung diam-diam di dalam diri manusia: antara cahaya hati, atau nur hati, dengan kegelapan hawa nafsu, keraguan, dan berbagai dorongan yang menjauhkan manusia dari hidayah.
Syekh Ibnu Athaillah al-Iskandari, dalam Al-Hikam, menggambarkan pertarungan batin tersebut dengan bahasa yang kuat:
النُّورُ جُنْدُ الْقَلْبِ، كَأَنَّ الظُّلْمَةَ جُنْدُ النَّفْسِ، فَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَنْصُرَ عَبْدَهُ مَدَّهُ بِجُنُودِ الْأَنْوَارِ وَقَطَعَ عَنْهُ مَدَدَ الظُّلْمِ وَالْأَغْيَارِ
Secara makna, ungkapan tersebut menjelaskan bahwa nur merupakan tentara bagi hati, sedangkan kegelapan merupakan tentara bagi hawa nafsu. Apabila Allah hendak menolong seorang hamba, Dia menguatkannya dengan pasukan cahaya dan memutus bantuan kegelapan serta berbagai hal yang membuatnya berpaling.
Ini bukan sekadar kalimat indah dalam kitab tasawuf.
Jika direnungkan, pesannya justru sangat dekat dengan kehidupan manusia hari ini.
Sebab seseorang kadang merasa sedang mengambil keputusan dengan pertimbangan matang. Padahal, bisa saja hawa nafsu sedang memegang kemudi, sementara akal hanya diminta mencari alasan pembenar.
Cahaya Hati Bukan Sekadar Perasaan Tenang
Dalam penjelasan yang menyertai hikmah tersebut, nur dikaitkan dengan tauhid, iman, keyakinan, dan hidayah. Sebaliknya, kegelapan berkaitan dengan syirik, keraguan, dan dorongan hawa nafsu.
Karena itu, cahaya hati tidak cukup dipahami sebagai perasaan nyaman atau suasana batin yang menyenangkan.
Nur memiliki konsekuensi moral.
Ketika iman menerangi hati, seseorang terdorong membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Ia tidak hanya mengetahui kebaikan, tetapi berusaha menjalankannya.
Sebaliknya, hati yang dikuasai hawa nafsu dapat mengetahui sesuatu itu keliru, tetapi tetap mencari pembenaran.
Di sinilah kehidupan modern terkadang terasa lucu sekaligus getir.
Kita ingin hati mendapat cahaya, tetapi masih senang memelihara iri. Kita meminta ketenangan, tetapi setiap hari memberi makan kemarahan. Kita berharap mendapat hidayah, tetapi ketika nasihat datang, kita sibuk mencari alasan untuk menolaknya.
Bahkan, manusia zaman sekarang bisa membuat pembenaran terdengar sangat intelektual.
Dosa diberi nama “kebutuhan”.
Kesombongan disebut “percaya diri”.
Dendam dikemas sebagai “menjaga harga diri”.
Padahal, nama yang berubah tidak selalu membuat hakikatnya ikut berubah.
Al-Qur’an: Hidayah Adalah Cahaya yang Menuntun
Al-Qur’an memberikan penegasan tentang pentingnya petunjuk Allah.
Allah berfirman:
مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ
“Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya.”
Ungkapan tersebut terdapat dalam redaksi yang digunakan dalam QS Az-Zumar: 37.
Sementara itu, Al-Qur’an juga menegaskan:
وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
“Dan barang siapa disesatkan Allah, maka tidak ada baginya seorang pemberi petunjuk.”
(QS Az-Zumar: 23)
Dalam QS Al-Kahf: 17, Allah juga berfirman:
وَمَن يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ
“Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk.”
Rangkaian ayat tersebut menunjukkan satu prinsip penting: manusia membutuhkan petunjuk Allah.
Namun, kesadaran tersebut bukan alasan untuk pasif.
Seorang Muslim tetap diperintahkan berusaha, belajar, berdoa, bertobat, memperbaiki amal, dan menjauhi perkara yang merusak hati.
Hidayah bukan tiket untuk berhenti berjalan.
Hidayah justru membuat seseorang mengetahui ke mana harus berjalan.
Perang Itu Terjadi Ketika Tidak Ada yang Melihat
Pertarungan antara nur dan hawa nafsu sering muncul dalam keputusan-keputusan kecil.
Ketika seseorang memiliki kesempatan membalas keburukan, misalnya, ia harus memilih antara mengikuti emosi atau menahan diri.
Ketika memperoleh keuntungan, ia harus memilih antara kejujuran dan keserakahan.
Ketika melakukan kesalahan, ia harus menentukan apakah akan mengakuinya atau mencari orang lain untuk disalahkan.
Tidak ada kamera yang merekam semua itu.
Namun, justru di sanalah kualitas hati terlihat.
Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS Ar-Ra’d: 28)
Ayat tersebut menunjukkan pentingnya zikir dalam kehidupan batin manusia. Karena itu, menjaga nur hati bukan pekerjaan sekali jadi.
Ia membutuhkan latihan.
Zikir perlu dirawat. Ilmu perlu diamalkan. Dosa perlu ditinggalkan. Kesombongan perlu dilawan. Sementara itu, hati harus terus diperiksa sebelum seseorang terlalu sibuk memeriksa kesalahan orang lain.
Jangan-Jangan Kita Bukan Kekurangan Cahaya
Pesan Ibnu Athaillah menjadi semakin relevan ketika manusia merasa kehilangan ketenangan.
Sering kali kita bertanya, “Mengapa hati saya tidak tenang?”
Namun, pertanyaan yang lebih jujur mungkin adalah:
“Apa yang setiap hari saya masukkan ke dalam hati?”
Jika setiap hari hati dipenuhi iri, dendam, amarah, kesombongan, dan keinginan untuk terus membandingkan diri dengan orang lain, tentu perjalanan menuju ketenangan tidak sederhana.
Kita tidak bisa terus-menerus membuka pintu kepada kegelapan, lalu menyalahkan cahaya karena tidak segera memenuhi ruangan.
Dalam konteks inilah ungkapan Al-Hikam tentang junūd al-anwār, pasukan cahaya, menjadi bahan perenungan.
Ketika Allah menolong seorang hamba, pertolongan itu dapat hadir melalui bertambahnya iman, terbukanya kesadaran, kuatnya keyakinan, dan kemampuan melihat kebatilan sebagai sesuatu yang memang harus ditinggalkan.
Karena itu, menjaga cahaya hati bukan sekadar menjaga perasaan.
Ia berarti menjaga arah hidup.
Pada akhirnya, manusia tidak selalu kehilangan cahaya karena Allah tidak memberi penerangan.
Kadang masalahnya justru lebih sederhana dan lebih menyakitkan: kita terlalu lama memelihara gelap di dalam diri.
Kita meminta hati diterangi, tetapi masih memelihara iri. Kita memohon hidayah, tetapi enggan meninggalkan kebiasaan yang menyesatkan. Kita mencari ketenangan, tetapi terus memberi makan ego.
Maka ketika hati terasa gelap, jangan selalu bertanya, “Di mana cahayanya?”
Barangkali pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apa yang selama ini saya lakukan sampai cahaya itu tertutup?” (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar