Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Hakikat Tauhid: Saat Allah Bukan Lagi Pilihan Kedua

Hakikat Tauhid: Saat Allah Bukan Lagi Pilihan Kedua

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
  • visibility 137
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAHHakikat tauhid sering dipahami sebatas keyakinan bahwa Allah Maha Esa. Padahal, menurut para ulama tasawuf, hakikat tauhid jauh lebih dalam. Ia berbicara tentang ke mana hati bergantung, kepada siapa harapan disandarkan, dan siapa yang sesungguhnya menjadi tujuan hidup. Ironisnya, di tengah semangat beribadah yang semakin ramai, tidak sedikit orang justru masih menjadikan dunia sebagai tujuan utama, sementara Allah hanya dianggap sebagai jalan untuk meraihnya.

Fenomena itu terasa dekat dengan kehidupan hari ini. Masjid dipenuhi jamaah. Kajian berlangsung hampir setiap malam. Media sosial ramai dengan kutipan nasihat dan video dakwah. Namun, mengapa hati masih mudah gelisah? Mengapa sedikit kehilangan jabatan membuat seseorang kehilangan arah? Mengapa pujian manusia lebih cepat membahagiakan daripada kedekatan dengan Allah?

Berabad-abad sebelum media sosial lahir, Syekh Athaillah As-Sakandari telah mengingatkan persoalan itu melalui salah satu hikmah dalam Al-Hikam.

اِهْتَدَى الرَّاحِلُونَ إِلَيْهِ بِأَنْوَارِ التَّوَجُّهِ، وَالْوَاصِلُونَ لَهُمْ أَنْوَارُ الْمُوَاجَهَةِ، فَالْأَوَّلُونَ لِلْأَنْوَارِ وَهَؤُلَاءِ الْأَنْوَارُ لَهُمْ، لِأَنَّهُمْ لِلَّهِ لَا لِشَيْءٍ دُونَهُ، قَالَ اللَّهُ: قُلِ اللَّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ

Artinya, orang-orang yang sedang berjalan menuju Allah memperoleh petunjuk melalui cahaya amal dan ibadah. Adapun mereka yang telah benar-benar sampai kepada-Nya, justru hidup dalam limpahan cahaya kedekatan yang menjadi karunia Allah semata. Mereka tidak lagi terpesona oleh “cahaya”, karena yang mereka cari hanyalah Sang Pemilik Cahaya.

Ketika Amal Berubah Menjadi Alat Mencari Dunia

Inilah satir yang terasa sangat relevan.

Banyak orang memperbanyak doa agar usahanya berkembang. Sebagian menghidupkan malam dengan tahajud demi mengejar promosi jabatan. Ada pula yang rajin bersedekah dengan harapan rezekinya berlipat ganda. Semua itu merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam, selama niatnya tetap lurus.

Namun, Syekh Athaillah seolah mengajak pembaca berhenti sejenak untuk bertanya kepada diri sendiri.

Jika semua keinginan dunia itu tidak Allah berikan, apakah kita masih akan mengetuk pintu-Nya dengan kerinduan yang sama?

Pertanyaan sederhana ini justru menjadi ujian paling jujur bagi hati.

Sebab, seseorang dapat terlihat sangat religius, tetapi diam-diam masih menggantungkan kebahagiaan pada saldo rekening, jabatan, jumlah pelanggan, atau tepuk tangan manusia. Ketika semua itu hilang, semangat ibadah ikut meredup. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa hati masih berputar mengelilingi dunia, bukan menghadap sepenuhnya kepada Allah.

Syekh Athaillah Mengajarkan Tauhid yang Membebaskan

Syekh Athaillah tidak pernah mengajarkan agar manusia meninggalkan dunia. Beliau juga tidak melarang seseorang bekerja keras, berdagang, atau bercita-cita tinggi. Sebaliknya, beliau mengingatkan agar dunia tidak mengambil alih singgasana hati.

Orang yang baru memulai perjalanan spiritual membutuhkan amal sebagai lentera. Zikir, salat, puasa, sedekah, dan berbagai ibadah menjadi bekal yang menerangi langkahnya.

Namun, setelah hati mengenal Allah, orientasi itu berubah. Amal tetap dilakukan, tetapi bukan lagi untuk mengejar rasa bangga, pujian, atau keuntungan dunia. Amal menjadi ekspresi cinta kepada Allah, bukan alat transaksi dengan-Nya.

Di sinilah letak perbedaan yang sangat halus. Sebagian orang menikmati ibadah karena berharap sesuatu. Sebagian lainnya menikmati ibadah karena telah menemukan Allah sebagai tujuan.

“Katakanlah: Allah”

Syekh Athaillah kemudian mengutip firman Allah SWT:

قُلِ اللَّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ

Artinya:

“Katakanlah, ‘Allah’, kemudian biarkan mereka tenggelam dalam kesibukan mereka bermain-main.” (QS. Al-An’am: 91)

Ayat ini tidak mengajarkan umat Islam untuk meninggalkan kehidupan. Sebaliknya, ayat tersebut mengingatkan agar hati tidak terperangkap oleh hiruk-pikuk dunia yang sering membuat manusia lupa kepada tujuan akhirnya.

Pesan serupa juga ditegaskan Rasulullah SAW dalam sabdanya:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجِزْ

Artinya:

“Bersungguh-sungguhlah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan merasa lemah.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan pasrah tanpa usaha. Ikhtiar tetap wajib, tetapi sandaran hati tidak boleh berpindah dari Allah kepada makhluk.

Mengapa Hati Tetap Gelisah Meski Ibadah Bertambah?

Barangkali inilah pertanyaan yang paling relevan bagi kehidupan modern.

Ada orang yang tidak pernah meninggalkan salat berjamaah, tetapi mudah tersinggung ketika dikritik.

Ada yang rajin menghadiri majelis ilmu, tetapi tetap iri melihat keberhasilan orang lain.

Dan ada pula yang aktif berdakwah, namun kecewa ketika tidak mendapat apresiasi.

Fenomena itu bukan berarti ibadahnya sia-sia. Akan tetapi, Syekh Athaillah mengajak setiap Muslim melakukan muhasabah. Jangan-jangan hati masih mengejar “hasil” dari ibadah, bukan Allah yang menjadi tujuan ibadah itu sendiri.

Padahal, Allah telah berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Artinya:

“Carilah negeri akhirat dengan apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu, tetapi jangan lupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)

Ayat ini menegaskan keseimbangan. Dunia bukan musuh, melainkan amanah. Harta bukan lawan tauhid, melainkan ujian. Jabatan bukan penghalang menuju Allah, selama tidak menguasai hati.

Renungan untuk Zaman yang Sibuk Mengejar Validasi

Di era ketika jumlah pengikut media sosial sering dijadikan ukuran keberhasilan, ketika pencapaian karier dianggap penentu harga diri, dan ketika pengakuan publik terasa lebih penting daripada keikhlasan, hikmah Syekh Athaillah justru terdengar semakin relevan.

Beliau tidak sedang mengajak manusia membenci dunia. Beliau hanya mengingatkan agar dunia tidak menjadi kiblat hati.

Sebab, hati yang menggantungkan kebahagiaan kepada manusia akan ikut jatuh ketika manusia berpaling. Sebaliknya, hati yang bergantung kepada Allah tetap teguh, sekalipun kehilangan apa yang selama ini dianggap paling berharga.

Dunia memang boleh singgah di tangan, tetapi jangan pernah duduk di hati. Sebab, ketika Allah masih dijadikan jalan menuju dunia, tauhid baru sebatas ucapan. Namun, ketika dunia berubah menjadi jalan menuju Allah, di situlah hakikat tauhid benar-benar menemukan rumahnya. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Evakuasi Hape

    Hape Jatuh ke Got Tengah Malam, Damkar Ciamis Bergerak Cepat

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 160
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Tidak semua panggilan ke petugas pemadam kebakaran berhubungan dengan kobaran api. Di Ciamis, sebuah operasi evakuasi hape atau ponsel yang jatuh ke dalam saluran got justru menjadi salah satu aksi penyelamatan yang menarik perhatian pada dini hari. Peristiwa itu terjadi Minggu (31/5/2026) sekitar pukul 01.45 WIB di kawasan dekat Ganesha Operation […]

  • pemimpin rumah tangga Islami

    Makna Kepemimpinan yang Bertanggung Jawab

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 216
    • 0Komentar

    Pemimpin rumah tangga Islami menuntut tanggung jawab, etika, dan kasih sayang, bukan sekadar otoritas dalam keluarga. albadarpost.com, LIFESTYLE – Peran suami dalam Islam kembali menjadi perhatian publik seiring meningkatnya diskursus tentang kualitas kepemimpinan dalam keluarga. Islam memposisikan suami sebagai pemimpin rumah tangga Islami, namun kepemimpinan tersebut tidak dimaknai sebagai kekuasaan sepihak. Ajaran Islam menekankan tanggung […]

  • QS Al Hujurat 13

    QS Al Hujurat 13, Rahasia Persatuan dalam Perbedaan

    • calendar_month Senin, 3 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 121
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – QS Al Hujurat 13 menjadi salah satu ayat Al-Qur’an yang semakin relevan di era digital. Ketika media sosial kerap dipenuhi perdebatan, polarisasi, hingga sikap saling menyalahkan, makna QS Al Hujurat 13, tafsir QS Al Hujurat ayat 13, dan persatuan dalam Islam justru menghadirkan solusi yang menyejukkan. Allah SWT menegaskan bahwa keberagaman suku, […]

  • nikah siri

    Nikah Siri Bisa Sah, Tapi Mengapa Jasa Online Berisiko?

    • calendar_month Rabu, 2 Sep 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 64
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF — Nikah siri kembali menjadi perhatian setelah Kementerian Agama (Kemenag) pada Selasa, 1 September 2026, mengingatkan masyarakat agar tidak tergiur jasa nikah siri online yang dipromosikan melalui media sosial. Persoalannya bukan hanya soal hukum nikah siri atau pertanyaan nikah siri sah atau tidak, tetapi juga menyangkut pencatatan perkawinan, kepastian hukum, serta perlindungan bagi […]

  • Trump NATO Iran

    Panas! Trump Salahkan NATO dan Ancam Keluar Usai Konflik Iran

    • calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 224
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Trump NATO Iran menjadi sorotan global setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka menyalahkan sekutu atas dinamika perang dengan Iran. Konflik ini memicu ketegangan serius, terutama ketika krisis NATO akibat Iran mulai terlihat dan memunculkan ancaman keluarnya AS dari aliansi tersebut. Situasi ini tidak hanya berdampak pada geopolitik, tetapi juga […]

  • Misteri Lailatul Qadar

    Misteri Lailatul Qadar: Mengapa Allah Menyembunyikan Malam Ini?

    • calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 206
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Misteri Lailatul Qadar selalu menarik perhatian umat Islam setiap bulan Ramadan. Malam penuh kemuliaan ini dikenal sebagai malam seribu bulan, malam turunnya malaikat, sekaligus malam penuh pengampunan. Namun di balik kemuliaannya, terdapat rahasia Lailatul Qadar yang jarang dibahas secara mendalam. Allah menjelaskan keagungan malam ini dalam Al-Qur’an melalui Surah Al-Qadr: “Lailatul Qadr […]

expand_less