Bahaya Tamak, Saat Mengejar Dunia Justru Merendahkan Diri
- account_circle redaktur
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi bahaya tamak dalam Islam dan pentingnya wara serta tawakal kepada Allah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH — Ada keinginan untuk mendapatkan sesuatu, tetapi ada pula bahaya tamak ketika keinginan berubah menjadi kerakusan. Dalam pandangan Islam, sifat tamak bukan sekadar soal ingin memiliki lebih banyak harta. Ketamakan juga dapat membuat seseorang terlalu menggantungkan harapan kepada manusia, sampai-sampai harga dirinya ikut ia pertaruhkan.
Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari mengingatkan melalui salah satu hikmah dalam Al-Hikam Al-‘Athā’iyyah:
مَا بَسَقَتْ أَغْصَانُ ذِلٍّ الاَّ عَلَى بَذْرِ طَمَعٍ
“Tidak akan berkembang biak berbagai cabang kehinaan itu, kecuali di atas bibit tamak.”
Ungkapan tersebut singkat. Namun, isinya seperti teguran yang sulit dibantah.
Tamak disebut sebagai “bibit” karena dari satu keinginan yang tidak terkendali dapat tumbuh banyak persoalan. Ketika seseorang terus merasa kurang, ia bisa mulai mengejar pujian, mengejar pemberian, mengejar kedudukan, bahkan mengejar perhatian orang lain.
Ironisnya, semakin kuat ia mengejar semuanya, semakin besar pula kemungkinan hatinya bergantung kepada sesuatu selain Allah.
Tamak Bukan Sekadar Ingin Banyak
Dalam kehidupan sehari-hari, keinginan memperoleh rezeki tentu bukan kesalahan.
Islam justru mendorong umatnya untuk bekerja, berdagang, bertani, menuntut ilmu, dan melakukan berbagai ikhtiar yang halal. Nabi Muhammad ﷺ juga mengajarkan umatnya untuk bekerja dan tidak menjadikan kemalasan sebagai jalan hidup.
Masalah muncul ketika ikhtiar berubah menjadi ketergantungan hati.
Orang masih bekerja, tetapi pikirannya hanya tertuju pada hasil.
Orang masih berdagang, tetapi seluruh ketenangannya bergantung pada keuntungan.
Orang masih memiliki jabatan, tetapi harga dirinya bergantung pada tepuk tangan manusia.
Karena itu, membedakan antara ikhtiar dan tamak menjadi penting.
Ikhtiar menggunakan tangan dan pikiran. Sementara itu, tawakal menempatkan hati kepada Allah.
Tamak justru membuat hati terus bertanya, “Apa yang bisa saya dapat dari orang ini?”
Kalau pertanyaan itu menjadi kebiasaan, hubungan antarmanusia pun berisiko berubah menjadi transaksi.
Teman dicari karena manfaatnya. Orang kaya didekati karena hartanya. Pejabat dihormati karena jabatannya. Bahkan kebaikan pun kadang baru dianggap berharga jika menghasilkan keuntungan.
Di titik itulah nasihat Ibnu Athaillah terasa sangat relevan.
“Ayah” Tamak Adalah Keraguan terhadap Takdir
Dalam materi Al-Hikam yang Anda jadikan dasar tulisan ini, Abubakar Al-Warraq Al-Hakim menggambarkan tamak melalui perumpamaan yang menarik.
Seandainya sifat tamak dapat ditanya tentang asal-usulnya, ia akan menjawab bahwa “ayahnya” adalah keraguan terhadap takdir Allah.
Ketika ditanya pekerjaannya, ia menjawab: merendahkan diri.
Lalu ketika ditanya tujuannya, jawabannya justru: tidak mendapatkan apa-apa.
Bahasanya memang sederhana. Namun, sindirannya tajam.
Seseorang dapat merendahkan diri demi sesuatu yang belum tentu menjadi miliknya. Ia dapat menghabiskan tenaga mengejar pengakuan. Ia bahkan dapat mengorbankan prinsip demi keuntungan kecil.
Padahal, Allah telah mengingatkan:
“Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.”
(QS Hud: 6)
Ayat tersebut tidak berarti manusia boleh berhenti bekerja. Sebaliknya, manusia tetap harus berikhtiar. Namun, ayat itu mengingatkan bahwa rezeki pada akhirnya berada dalam ketetapan dan kekuasaan Allah.
Wara’ Menjadi Rem bagi Ketamakan
Dalam kisah yang dinukil dalam literatur hikmah tersebut, Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. diceritakan menguji sejumlah orang yang memberikan ceramah di masjid jami’ Basrah.
Ia mengajukan beberapa pertanyaan.
Ketika sampai kepada Al-Hasan Al-Basri, salah satu pertanyaannya adalah:
“Apa yang dapat mengukuhkan agama?”
Al-Hasan menjawab:
“Wara’.”
Kemudian Ali bertanya:
“Apa yang dapat merusak agama?”
Jawabannya:
“Tamak.”
Kisah ini sebaiknya dipahami sebagai nasihat dalam literatur hikmah, bukan sebagai laporan peristiwa kontemporer atau klaim sejarah yang baru ditemukan.
Makna wara’ sendiri berkaitan dengan sikap hati-hati terhadap perkara yang haram dan syubhat.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda bahwa perkara halal dan haram telah jelas, sementara di antara keduanya terdapat perkara syubhat. Orang yang menjaga diri dari perkara syubhat berarti menjaga agama dan kehormatannya. (HR Bukhari dan Muslim).
Dengan demikian, wara’ dapat menjadi semacam rem.
Tamak berkata, “Ambil sebanyak mungkin.”
Wara’ bertanya, “Apakah cara mendapatkannya benar?”
Tamak mengejar hasil.
Wara’ memeriksa jalan.
Perbedaan itu tampak kecil, tetapi dampaknya bisa sangat besar.
Rezeki Tidak Harus Membuat Hati Menjadi Budak
Ada orang mendapatkan rezeki melalui kerja keras.
Ada pedagang yang menunggu pembelinya.
Ada pekerja yang menerima upah setelah menyelesaikan tugas.
Ada pula orang yang membutuhkan bantuan karena berada dalam kesulitan.
Semua keadaan tersebut tidak otomatis menunjukkan kemuliaan atau kehinaan seseorang.
Yang perlu diperhatikan adalah sikap hati ketika menghadapi rezeki.
Al-Qur’an menyebut:
“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.”
(QS At-Talaq: 3)
Tawakal bukan berarti duduk diam sambil menunggu uang jatuh dari langit.
Tawakal berjalan bersama ikhtiar.
Petani tetap menanam. Pedagang tetap berjualan. Karyawan tetap bekerja. Pengusaha tetap mengambil keputusan.
Namun, setelah semua ikhtiar dilakukan, seorang Muslim tidak perlu menjadikan manusia sebagai satu-satunya tempat menggantungkan harapan.
Sebab manusia bisa membantu hari ini dan tidak mampu membantu besok.
Manusia bisa menjanjikan sesuatu lalu berubah pikiran.
Manusia bisa membuka pintu, tetapi juga bisa menutupnya.
Allah berbeda.
Karena itu, persoalan utamanya bukan apakah seseorang membutuhkan bantuan manusia. Persoalannya adalah apakah hatinya menjadikan manusia sebagai sandaran mutlak.
Ketika Tamak Membuat Harga Diri Terlalu Murah
Di zaman ketika angka rekening, jabatan, jumlah pengikut, dan pengakuan sosial mudah menjadi ukuran keberhasilan, nasihat tentang tamak terasa semakin penting.
Seseorang bisa memiliki banyak harta tetapi tetap merasa miskin.
Ia terus membandingkan dirinya dengan orang lain.
Rumah sudah besar, tetapi masih merasa kurang.
Penghasilan sudah meningkat, tetapi tetap gelisah.
Pujian sudah datang, tetapi masih membutuhkan pujian berikutnya.
Di situlah ketamakan bekerja secara halus.
Ia tidak selalu tampil sebagai kerakusan yang kasar. Kadang ia datang dengan pakaian yang rapi, bahasa yang sopan, dan alasan yang terdengar masuk akal.
Karena itu, pesan Ibnu Athaillah bukan ajakan untuk membenci dunia.
Pesannya justru mengajak manusia mengendalikan posisi dunia di dalam hati.
Cari rezeki, tetapi jangan menjual kehormatan.
Bangun usaha, tetapi jangan menghalalkan segala cara.
Terima pemberian, tetapi jangan menjadikan pemberi sebagai penguasa hati.
Berharap kepada manusia dalam batas kewajaran, tetapi tetap meyakini bahwa Allah adalah pemberi rezeki yang sebenarnya.
Tamak membuat manusia mengejar apa yang ada di tangan orang lain. Wara’ mengajarkan manusia menjaga apa yang ada di dalam hatinya.
Sebab, pada akhirnya, kemiskinan yang paling berbahaya bukan ketika kantong kosong, melainkan ketika hati tidak pernah merasa cukup.
Dan mungkin inilah sindiran paling keras dari hikmah Ibnu Athaillah: jangan sampai demi mendapatkan sesuatu yang kecil, kita membayar dengan harga diri yang terlalu mahal. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar