Breaking News
light_mode
Beranda » Editorial » Ayah Gadaikan Anak dan Gagalnya Perlindungan Sosial

Ayah Gadaikan Anak dan Gagalnya Perlindungan Sosial

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Kamis, 27 Nov 2025
  • visibility 90
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Editorial Albadarpost: Kasus ayah gadaikan anak menunjukkan rapuhnya sistem perlindungan sosial dan keadilan keluarga.

albadarpost.com, EDITORIAL – Rantai tragedi yang menimpa bocah Tasikmalaya terjadi bukan dalam ruang kosong. Seorang ayah menyerahkan anaknya kepada keluarga di Gresik sebagai jaminan pinjaman Rp25 juta. Tidak ada negosiasi panjang, tidak ada pengawasan negara, dan tidak ada pagar sosial yang menghentikan kesalahan paling mendasar: menjadikan manusia sebagai objek utang.

Peristiwa ini penting karena menyentuh inti persoalan publik: di tengah kemiskinan struktural, perlindungan anak runtuh di titik paling dasar, yaitu keluarga. Tidak ada sistem kesejahteraan yang bekerja di saat paling krusial. Yang tersisa hanya relasi kuasa antara orang dewasa dan bocah tujuh tahun yang tidak memahami arti dilepaskan dari rumahnya.


Ketika Kemiskinan Menjadi Alibi

Tim Dinas Sosial Gresik menemukan anak tersebut di Desa Morowudi setelah menerima laporan keberadaan bocah tanpa identitas lengkap. Mereka mengecek, melakukan asesmen, dan menemukan kebenaran yang tidak layak disebut kebetulan: sang anak dibawa ayahnya dari Tasikmalaya dan dijadikan jaminan pinjaman.

Keluarga pengasuh mengaku tidak tahu permasalahan hukum di baliknya. Anak itu sehat, bersekolah, dan dirawat penuh kasih. Mereka bahkan berniat mengangkatnya secara resmi. Namun motif baik tidak menutup fakta kriminal: tindakan ayah tersebut melanggar perlindungan anak.

Koordinasi dua dinas sosial memperlihatkan betapa terputusnya akses ibu kandung terhadap anaknya. Ia tidak mengetahui keberadaan putranya hingga petugas mengabarkan. Tangisnya menggambarkan luka yang hanya bisa dipulihkan oleh keadilan. Di titik ini, negara datang terlambat.


Perlindungan Anak Bukan Urusan Moral Privat

Editorial ini menegaskan: perlindungan anak adalah kebijakan publik, bukan perkara etika keluarga. Negara tidak bisa membiarkan kemiskinan ekstrem menjadi dalih bagi praktik yang menyeret anak ke dalam transaksi ekonomi.

Kasus penggadaian anak menunjukkan tiga kegagalan utama:

Pertama, kesejahteraan sosial terhenti pada program bantuan tunai. Ketika bantuan habis, keluarga kembali pada utang informal, pinjaman rentenir, atau skema barter manusia. Negara hadir sebatas angka APBD, bukan intervensi berkelanjutan.

Baca juga: Bupati Bandung Perkuat Literasi Digital untuk Menekan Judi Online Warga

Kedua, lemahnya mekanisme deteksi risiko. Tidak ada instrumen yang memantau keluarga rentan secara preventif. Dinas sosial hanya bergerak setelah ada pengaduan. Ini bukan sistem perlindungan; ini pemadaman kebakaran.

Ketiga, kekosongan regulasi praktik adopsi dan pengasuhan informal. Keluarga pengasuh tidak berniat jahat, namun mereka beroperasi dalam ruang abu-abu yang tidak diatur. Di sinilah bencana bermula: ketika negara membiarkan moral privat menggantikan hukum publik.

Perlindungan anak harus diperkuat pada dua lini: kesejahteraan keluarga ekonomi rentan dan kontrol terhadap pengasuhan lintas daerah. Tanpa itu, tragedi serupa akan terus terjadi.


Indonesia Bukan Kasus Tunggal

Fenomena menjadikan anak sebagai jaminan bukan baru. Di masa penjajahan, keluarga miskin “menggadaikan” tenaga kerja ke rumah tuan tanah demi bertahan hidup. Narasinya berubah, logikanya tetap: ketika negara lemah, warga miskin menyerah pada mekanisme pasar.

Di beberapa negara Asia Selatan, praktik serupa muncul dalam bentuk pekerja anak rumah tangga. Satu keluarga ratifikasi konvensi internasional, tetapi gagal membangun sistem perlindungan. Pelajaran utamanya sederhana: kebijakan kesejahteraan tanpa pemantauan hanya berfungsi di atas kertas.


Negara Harus Bergerak, Bukan Berkata

Editorial Albadarpost berpihak pada anak dan sistem publik yang bekerja, bukan pada retorika simpati.

Baca juga: Bocah Hilang Tasikmalaya Terungkap, Ayah Kandung Diduga Gadaikan Anak

Pemerintah daerah tidak boleh berhenti pada asesmen. Polisi harus menyelidiki unsur tindak pidana ayah kandung, bukan sekadar “faktor ekonomi”. Dinas sosial harus menyusun mekanisme pengasuhan berstandar nasional, bukan diserahkan kepada niat baik warga.

Di tingkat pusat, kementerian terkait harus memperkuat perlindungan anak berbasis data: integrasi NIK, indeks kerentanan keluarga, dan akses intervensi otomatis. Anak bukan agunan. Negara tidak boleh sekadar menyaksikan.

Anak dari Tasikmalaya bukan statistik kemiskinan. Ia adalah bukti bahwa ketika negara terlambat hadir, keluarga miskin mencari jalan keluar yang melanggar batas kemanusiaan. (Ds)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mayat di Ciawi

    Misteri Mayat Berjubah Putih di Ciawi, Identitas Masih Dicari

    • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 119
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Penemuan mayat di Ciawi menggegerkan warga Desa Pasirhuni, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, Kamis (4/6/2026) pagi. Seorang pria berjubah putih ditemukan tak bernyawa di bawah jembatan rel kereta api. Hingga Kamis siang, identitas korban masih dalam pendalaman pihak kepolisian. Kabar penemuan tersebut menyebar cepat di lingkungan warga. Tidak lama setelah informasi pertama […]

  • Kumpulan kata bijak ulama dan nasihat Islami yang menenangkan hati tentang kehidupan, sabar, dan keikhlasan.

    10 Kata Bijak Ulama yang Bikin Hati Tenang di Tengah Hidup yang Berat

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 156
    • 0Komentar

    albadarpot.com, LIFESTYLE – Di tengah kehidupan modern yang penuh tekanan, banyak orang mulai mencari kata bijak ulama untuk menenangkan hati dan memperbaiki cara pandang hidup. Nasihat para ulama sering terasa sederhana, tetapi maknanya mampu menyentuh perasaan terdalam manusia. Karena itu, petuah ulama dan kalimat hikmah Islami kini kembali banyak dibaca, terutama saat seseorang merasa lelah […]

  • PMI Nonprosedural Cianjur

    Satgas PMI Dibentuk, Cianjur Perketat Jalur Pekerja Migran

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 20
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Cianjur kembali menjadi perhatian dalam isu perlindungan pekerja migran setelah masuk dalam tiga besar daerah asal PMI nonprosedural Cianjur di Jawa Barat berdasarkan data BP3MI Jawa Barat. Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Cianjur bersama Polres Cianjur menyiapkan satuan tugas (Satgas) khusus untuk memperkuat pencegahan sekaligus memperluas pengawasan terhadap praktik perekrutan yang […]

  • kritik jalan rusak desa

    Kritik Jalan Rusak Berujung Intimidasi

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 145
    • 0Komentar

    Kritik jalan rusak berujung intimidasi warga membuka persoalan tata kelola desa dan perlindungan hak berpendapat. albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kritik warga terhadap kondisi jalan rusak yang seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah desa justru berujung intimidasi. Kasus yang terjadi di Kabupaten Garut, Jawa Barat, ini memantik perhatian publik karena memperlihatkan rapuhnya tata kelola pemerintahan desa dalam […]

  • Uya Kuya dikhianati

    Uya Kuya Kecewa Merasa Dikhianati Teman Sendiri di Tengah Badai Hujatan Netizen

    • calendar_month Rabu, 5 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 167
    • 0Komentar

    Uya Kuya kecewa karena merasa dikhianati teman sendiri saat dihujat netizen dan rumahnya dijarah. Uya Kuya Ungkap Kekecewaan Usai Dikhianati Teman Sendiri albadarpost.com, HUMANIORA – Artis sekaligus anggota DPR Uya Kuya mengaku kecewa dan terluka secara emosional setelah merasa dikhianati oleh orang-orang yang selama ini ia anggap sebagai teman dekat. Kekecewaan itu muncul di tengah […]

  • Ilustrasi siluet wanita berkerudung hitam duduk berdoa di atas sajadah, menundukkan kepala sambil menangis, melambangkan keikhlasan amal dan bahaya riya dalam ibadah.

    Riya, Musuh Sunyi yang Menghabiskan Pahala

    • calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 130
    • 0Komentar

    albadarpost.com, OPINI – Nanti, ketika manusia berdiri sendiri di hadapan Allah, amal tidak lagi bersuara lantang. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sanjungan. Yang tersisa hanyalah niat yang pernah tersembunyi di dalam dada. Pada saat itu, banyak manusia terdiam. Mereka melihat amal yang dahulu tampak besar, namun kini terasa ringan. Ada salat yang rajin, sedekah […]

expand_less