Kebakaran Kampung Adat Sade, 320 Warga Kini Terdampak
- account_circle redaktur
- calendar_month 16 jam yang lalu
- visibility 19
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kebakaran Kampung Adat Sade NTB (Foto: X Sunny).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Lombok Tengah berduka setelah kebakaran Kampung Adat Sade melanda Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Nusa Tenggara Barat, Sabtu malam, 22 Agustus 2026. Api menghanguskan ratusan rumah dan berdampak pada sekitar 320 warga dari 120 kepala keluarga. Laporan lapangan detikBali menyebut 129 rumah ludes, sementara data pemerintah daerah masih menunjukkan pendataan terdampak terus berjalan.
Namun, angka kerusakan bukan satu-satunya cerita dari kebakaran tersebut.
Sade merupakan ruang hidup masyarakat Sasak sekaligus salah satu destinasi wisata budaya penting di Lombok. Karena itu, ketika api melalap permukiman adat tersebut, yang hilang bukan hanya bangunan tempat tinggal, tetapi juga ruang sosial, aktivitas ekonomi, dan bagian dari lanskap budaya yang selama ini menjadi daya tarik kawasan.
Api Membesar Saat Warga Sedang Beristirahat
Kebakaran diketahui sekitar pukul 22.00 WITA pada Sabtu malam. Kepala Desa Rembitan Lalu Winakse berada di lokasi ketika kejadian berlangsung dan bersama warga langsung berkoordinasi untuk melakukan pemadaman serta mengevakuasi masyarakat.
Api kemudian menyebar dengan cepat.
Kondisi permukiman menjadi salah satu faktor yang memperbesar tantangan pemadaman. Rumah-rumah adat menggunakan material tradisional seperti bambu, kayu, dan ilalang yang mudah terbakar. Selain itu, kepadatan bangunan membuat petugas kesulitan menjangkau bagian tengah kawasan.
Menjelang tengah malam, proses pemadaman masih berlangsung. Bahkan pada Minggu pagi, petugas gabungan masih menangani asap dan sisa bara di antara puing-puing bangunan.
129 Rumah Ludes, 320 Warga Terdampak
Skala kerusakan terlihat jelas pada Minggu pagi.
Laporan detikBali menyebut 129 rumah di Kampung Adat Sade ludes terbakar. Dari pantauan di lokasi, sebagian besar kawasan tampak rata dengan tanah dan hanya menyisakan puing serta fondasi bangunan.
Sementara itu, data sementara pemerintah daerah yang dikutip NTBSatu mencatat 120 kepala keluarga atau sekitar 320 jiwa terdampak. Data tersebut juga merinci 89 rumah adat Sasak dan sekitar 30 rumah warga di luar kawasan rumah adat yang terdampak.
Perbedaan angka dalam laporan awal menunjukkan bahwa pendataan lapangan masih berkembang.
Karena itu, angka kerusakan sebaiknya dibaca sebagai data sementara sampai pemerintah menyelesaikan verifikasi seluruh bangunan yang terdampak.
Yang tidak berubah adalah besarnya dampak terhadap warga.
Sejumlah warga harus meninggalkan rumah dan mencari tempat aman. Sebagian lainnya kembali ke lokasi untuk memeriksa puing serta mencari barang yang masih dapat diselamatkan. Laporan dari lokasi menunjukkan warga menemukan sejumlah peralatan rumah tangga yang masih tersisa di antara material terbakar.
Penyebab Api Belum Boleh Dipastikan
Penyebab kebakaran menjadi bagian yang harus ditulis secara hati-hati.
Pada laporan awal, Kepala Desa Rembitan menyatakan belum mengetahui sumber api. Sejumlah pemberitaan kemudian memuat dugaan bahwa api berasal dari salah satu rumah dan kemungkinan berkaitan dengan listrik. Namun, dugaan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan penyebab resmi kebakaran.
Karena itu, korsleting listrik belum tepat disebut sebagai penyebab pasti.
Pemerintah dan petugas terkait masih melakukan penanganan serta investigasi. Prinsip ini penting agar informasi yang beredar tidak berubah menjadi kesimpulan sebelum pemeriksaan selesai.
Bagi masyarakat, kepastian penyebab tetap penting. Sebab, hasil investigasi nantinya dapat menjadi dasar evaluasi keselamatan kawasan dan pencegahan kejadian serupa.
Sade Kehilangan Lebih dari Sekadar Rumah
Ada sisi lain yang membuat kebakaran Kampung Adat Sade memiliki dampak lebih luas.
Sade bukan sekadar permukiman. Kawasan tersebut dikenal sebagai destinasi wisata budaya yang mempertahankan tradisi masyarakat Sasak, termasuk bentuk bangunan tradisional dan kehidupan adat yang menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat.
Bagi warga, aktivitas wisata juga berkaitan dengan mata pencaharian.
Salah seorang warga yang dikutip detikBali menyampaikan harapan agar pemerintah segera mencari solusi karena kawasan Sade menjadi sumber penghidupan masyarakat. Barang yang ikut terbakar antara lain kain tenun, pakaian adat, serta harta benda keluarga.
Artinya, proses pemulihan tidak cukup hanya dengan membangun rumah kembali.
Pemerintah perlu memastikan warga dapat kembali menjalankan kehidupan sosial dan ekonominya. Pada saat yang sama, rekonstruksi harus mempertimbangkan karakter budaya kawasan agar pemulihan tidak menghilangkan identitas Sade.
Tantangan Berikutnya: Membangun Kembali Sade
Pemerintah Provinsi NTB menyatakan kebutuhan dasar warga menjadi prioritas, termasuk sandang, pangan, keamanan, aktivitas sosial-ekonomi, serta keberlanjutan pendidikan anak-anak terdampak. Pemerintah juga mulai membicarakan langkah pemulihan dan rekonstruksi kawasan Desa Adat Sade.
Tahap ini justru akan menjadi pekerjaan yang tidak kalah berat.
Membangun rumah relatif dapat dihitung. Namun, membangun kembali sebuah kampung adat membutuhkan pertimbangan yang jauh lebih luas.
Bagaimana rumah dibangun kembali?
Bagaimana tradisi tetap dipertahankan?
Bagaimana warga dapat kembali memperoleh penghasilan?
Dan yang paling penting, bagaimana Sade bisa pulih tanpa kehilangan karakter yang membuatnya menjadi Sade?
Pertanyaan tersebut perlu dijawab bersama oleh pemerintah, masyarakat adat, pelaku wisata, serta berbagai pihak yang berkepentingan.
Kebakaran telah selesai meninggalkan kobaran api. Tetapi pekerjaan pemulihan baru dimulai.
Api bisa menghabiskan rumah dalam semalam. Namun, menjaga agar Sade tetap hidup sebagai kampung adat membutuhkan pekerjaan jauh lebih panjang: membangun kembali rumahnya tanpa membakar habis identitasnya. (GZ)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar