6 Prajurit Yonif 323 Banjar Dilepas untuk Misi PBB di Kongo
- account_circle redaktur
- calendar_month Sabtu, 8 Agt 2026
- visibility 52
- comment 0 komentar
- print Cetak

Enam prajurit Yonif 323 Buaya Putih saat acara pelepasan misi perdamaian PBB ke Kongo di Banjar, Sabtu (8/8/2026). (Foto: Brigif 13/Galuh Rahayu).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kisah Yonif 323 Kongo menjadi perhatian dalam acara pelepasan enam prajurit Yonif 323/Buaya Putih di Banjar, Jawa Barat, Sabtu (8/8/2026). Keenam personel tersebut disebut terpilih untuk bergabung dalam Satgas BGC TNI KONGA XXXIX-H/MONUSCO dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Kongo. Dari satuan di Banjar, mereka membawa nama Yonif 323/Buaya Putih sekaligus amanah untuk menjalankan penugasan di tingkat internasional.
Suasana bangga mewarnai kegiatan tersebut. Keluarga besar Yonif 323/Buaya Putih memberikan ucapan selamat kepada enam prajurit yang mendapat kesempatan menjalankan tugas dalam misi perdamaian PBB.
Enam Prajurit Yonif 323 Terpilih
Enam personel yang disebut mendapat penugasan tersebut berasal dari beberapa jenjang kepangkatan. Mereka terdiri atas dua perwira serta empat personel dengan pangkat bintara dan tamtama.
Berikut enam prajurit Yonif 323/Buaya Putih yang disebut dalam materi pelepasan:
- Kapten Inf Galang Gerilya Timoriansyah
- Kapten Inf Anggis Khunto Prasetyo
- Sertu Aris Muhamad
- Kopda Imam Nurrokhim
- Praka Hermawan
- Pratu Wahyu Febry Dwi Ramadhan
Keenam personel tersebut disebut akan bergabung dalam Satgas BGC TNI KONGA XXXIX-H/MONUSCO untuk menjalankan misi perdamaian PBB di Kongo.
Penugasan tersebut menjadi kesempatan penting bagi para prajurit. Sebab, mereka tidak hanya membawa identitas pribadi, tetapi juga nama satuan ketika menjalankan tugas di lingkungan misi internasional.
Karena itu, kesiapan, kedisiplinan, dan profesionalisme menjadi bagian penting sebelum mereka menjalankan amanah tersebut.
Dari Banjar Membawa Nama Satuan
Pelepasan enam prajurit Yonif 323/Buaya Putih memiliki makna tersendiri bagi keluarga besar satuan.
Dalam kesempatan tersebut, para prajurit mendapat pesan agar menjaga kehormatan satuan selama menjalankan tugas.
“Tugas ini adalah kehormatan tertinggi. Kalian membawa nama baik Yonif 323/Buaya Putih dan Merah Putih di kancah internasional.”
Pesan tersebut menegaskan besarnya tanggung jawab yang melekat pada penugasan mereka.
Selain itu, misi perdamaian PBB menempatkan prajurit Indonesia dalam lingkungan tugas yang berbeda dari penugasan rutin di dalam negeri. Karena itu, kemampuan menjalankan tugas harus berjalan bersama sikap disiplin dan tanggung jawab.
Bagi Yonif 323/Buaya Putih, penugasan tersebut juga menjadi bagian dari kontribusi prajurit Indonesia dalam misi perdamaian internasional.
Tradisi Penciuman Tunggul Warnai Pelepasan
Acara pelepasan tidak hanya berlangsung dalam bentuk penyampaian amanat.
Tradisi satuan turut menjadi bagian dari prosesi. Kegiatan tersebut ditutup dengan penciuman Tunggul Satuan serta pemberian ucapan selamat dari keluarga besar Yonif 323/Buaya Putih.
Tradisi tersebut menjadi simbol kedekatan antara prajurit dan satuannya. Di tengah persiapan menjalankan tugas jauh dari tanah air, momen itu sekaligus menjadi pengingat terhadap identitas dan nilai yang dibawa selama penugasan.
Suasana haru dan bangga pun menyatu dalam kegiatan tersebut.
Bagi keluarga besar Yonif 323, enam prajurit itu bukan sekadar personel yang menjalankan tugas. Mereka juga menjadi bagian dari wajah satuan ketika menjalankan misi di luar negeri.
Misi Perdamaian PBB di Kongo
Keenam prajurit tersebut disebut akan menjalankan tugas melalui Satgas BGC TNI KONGA XXXIX-H/MONUSCO.
Data kegiatan menyebut penugasan tersebut berkaitan dengan misi perdamaian PBB di Kongo untuk periode 2025–2027. Namun, informasi mengenai waktu keberangkatan aktual keenam personel tidak disebutkan secara terpisah dalam materi pelepasan.
Karena itu, acara pada Sabtu (8/8/2026) lebih tepat dipahami sebagai prosesi pelepasan, bukan sebagai bukti bahwa seluruh personel langsung berangkat ke Kongo pada hari yang sama.
Kehati-hatian tersebut penting agar informasi yang disampaikan kepada pembaca tetap sesuai dengan fakta yang tersedia.
Sementara itu, keluarga besar Yonif 323 berharap keenam prajurit dapat menjalankan tugas dengan baik serta kembali ke tanah air dalam keadaan selamat pada 2027.
Enam Nama, Satu Amanah
Penugasan enam prajurit Yonif 323/Buaya Putih memperlihatkan bahwa tugas seorang prajurit dapat membawa mereka jauh dari lingkungan satuan.
Dari Banjar, Jawa Barat, mereka mendapat kesempatan untuk menjalankan misi dalam lingkungan internasional. Tentu saja, tugas tersebut membawa tanggung jawab yang tidak ringan.
Ada nama satuan yang harus dijaga. Ada pula harapan keluarga yang menyertai setiap langkah mereka.
Karena itu, pesan dalam acara pelepasan menjadi sangat penting. Penugasan bukan hanya tentang keberangkatan menuju tempat baru, melainkan tentang kemampuan menjaga kepercayaan yang telah diberikan.
Yonif 323 Kongo dan Harapan Pulang Selamat
Enam prajurit Yonif 323/Buaya Putih kini bersiap menjalankan amanah dalam Satgas BGC TNI KONGA XXXIX-H/MONUSCO.
Mereka adalah Kapten Inf Galang Gerilya Timoriansyah, Kapten Inf Anggis Khunto Prasetyo, Sertu Aris Muhamad, Kopda Imam Nurrokhim, Praka Hermawan, dan Pratu Wahyu Febry Dwi Ramadhan.
Masing-masing membawa tugas dan tanggung jawab. Namun, ada satu harapan yang sama dari keluarga besar Yonif 323: mereka mampu menjalankan tugas dengan baik dan kembali ke tanah air dengan selamat.
Dari Banjar menuju panggung misi perdamaian dunia, enam prajurit ini membawa lebih dari sekadar nama satuan. Mereka membawa kepercayaan—dan tugas mereka adalah membuktikan bahwa kepercayaan itu layak diberikan. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar