Banjar Raih Penghargaan Nasional, Ada Peran LPM di Baliknya
- account_circle redaktur
- calendar_month Sabtu, 8 Agt 2026
- visibility 50
- comment 0 komentar
- print Cetak

Gapura memasuki Kota Banjar.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Penghargaan LPM Banjar dari Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia (DPP LPM RI) membawa satu pesan penting: pemberdayaan masyarakat tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Di balik apresiasi tersebut ada sinergi Pemerintah Kota Banjar dengan LPM Desa/Kelurahan yang menjadi perhatian di tingkat nasional.
Wakil Wali Kota Banjar, Dr. H. Supriana, M.Pd., menerima penghargaan tersebut didampingi Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kota Banjar.
Penghargaan diberikan dalam acara Pengukuhan dan Rapat Kerja Nasional DPP LPM RI Periode 2026–2031 di Gedung Merdeka, Kota Bandung, Jumat, 7 Agustus 2026.
Menariknya, penghargaan itu tidak semata-mata menyoroti figur kepala daerah. DPP LPM RI juga melihat dukungan dan kerja sama pemerintah daerah bersama LPM Desa/Kelurahan dalam mendorong pemberdayaan masyarakat.
Mengapa Banjar Mendapat Penghargaan?
Ketua Umum DPP LPM RI, Dr. Ahmad Doli Kurnia Tandjung, menyampaikan bahwa penghargaan diberikan kepada kepala daerah yang dinilai konsisten menguatkan LPM sebagai mitra strategis pemerintah.
Sejumlah hal menjadi pertimbangan, antara lain program pemberdayaan masyarakat, penguatan kapasitas kelembagaan, serta fasilitasi kegiatan LPM Desa/Kelurahan.
Dalam penilaian DPP LPM RI, komitmen Pemerintah Kota Banjar dalam memperkuat peran LPM dinilai menjadi salah satu yang terbaik di tingkat nasional.
Pernyataan tersebut penting dicermati secara utuh.
Artinya, penghargaan bukan sekadar karena seorang pejabat hadir dalam kegiatan LPM. Ada penilaian terhadap hubungan kelembagaan dan dukungan pemerintah daerah terhadap aktivitas pemberdayaan masyarakat.
Ketua Umum DPP LPM RI juga menekankan pentingnya sinergi pemerintah daerah dan LPM dalam pembangunan berbasis masyarakat.
Dengan demikian, penghargaan yang diterima Banjar membawa isu yang lebih besar daripada seremoni penyerahan piagam.
LPM Bukan Sekadar Pelengkap Pemerintahan
Pemberdayaan masyarakat pada dasarnya membutuhkan keterlibatan warga.
Program pemerintah yang baik sekalipun dapat kehilangan dampak apabila tidak bertemu dengan kebutuhan masyarakat di lapangan. Karena itu, keberadaan lembaga masyarakat memiliki posisi penting dalam menjembatani komunikasi dan partisipasi warga.
Dalam konteks tersebut, LPM Desa/Kelurahan dapat menjadi salah satu mitra pemerintah.
Pemkot Banjar mendapat apresiasi karena dinilai memberikan dukungan terhadap peran tersebut. Bentuknya mencakup penguatan kapasitas kelembagaan, fasilitasi kegiatan, serta kolaborasi dalam program pemberdayaan.
Namun, penghargaan tidak seharusnya menjadi garis akhir.
Justru setelah penghargaan diterima, masyarakat memiliki alasan untuk melihat apakah kolaborasi itu benar-benar menghasilkan perubahan.
Apakah partisipasi masyarakat semakin luas?
Apakah program pemberdayaan lebih tepat sasaran?
Dan apakah kapasitas warga semakin kuat?
Pertanyaan semacam itu menjadi ukuran yang jauh lebih penting daripada sekadar penghargaan.
Supriana: Penghargaan Jadi Pemacu
Wakil Wali Kota Banjar menyampaikan terima kasih kepada DPP LPM RI atas penghargaan tersebut.
Menurutnya, penghargaan itu akan menjadi pemacu bagi Pemkot Banjar untuk terus bekerja sama dalam membangun desa yang mandiri, berdaya, dan sejahtera.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Pemkot Banjar memandang penghargaan sebagai dorongan untuk melanjutkan kerja sama.
Karena itu, tantangan berikutnya adalah memastikan komitmen tersebut tetap berjalan setelah acara selesai.
Program pemberdayaan membutuhkan kesinambungan. Selain itu, pemerintah juga perlu memastikan dukungan kepada LPM memiliki arah yang jelas dan dapat diukur.
Jika penguatan kelembagaan berjalan baik, LPM diharapkan tidak hanya aktif ketika ada kegiatan resmi. Lembaga tersebut juga perlu memiliki ruang untuk membantu masyarakat menyampaikan kebutuhan, mengembangkan potensi wilayah, dan ikut mendorong pembangunan dari tingkat paling dekat dengan warga.
Penghargaan Nasional, Tetapi Ukurannya Tetap Lokal
Pengakuan dari tingkat nasional tentu memberikan nilai positif bagi Pemerintah Kota Banjar.
Namun, keberhasilan pemberdayaan masyarakat pada akhirnya tidak diukur dari seberapa banyak penghargaan yang diterima pemerintah.
Ukuran sebenarnya berada di tengah masyarakat.
Jika warga mendapatkan manfaat, kegiatan pemberdayaan berjalan, dan kapasitas masyarakat meningkat, maka penghargaan tersebut memiliki makna yang lebih besar.
Sebaliknya, jika penghargaan berhenti sebagai simbol, dampaknya akan sulit dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, kolaborasi Pemkot Banjar dengan LPM Desa/Kelurahan perlu terus diarahkan pada program yang konkret.
Pemberdayaan juga membutuhkan evaluasi. Setiap program idealnya memiliki target, indikator, dan hasil yang dapat dilihat.
Dengan cara tersebut, penghargaan tidak berhenti menjadi kabar baik pada Agustus 2026. Ia dapat menjadi momentum untuk memperkuat pola pembangunan yang melibatkan masyarakat.
Banjar Mendapat Pengakuan, Pekerjaan Rumah Tetap Ada
Acara di Gedung Merdeka Bandung itu turut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan RI, Wakil Menteri UMKM RI, Gubernur Jawa Barat, serta kepala daerah terpilih dari berbagai daerah di Indonesia.
Kehadiran sejumlah pejabat dan kepala daerah membuat forum tersebut memiliki konteks nasional.
Bagi Banjar, penghargaan dari DPP LPM RI tentu menjadi apresiasi atas kolaborasi yang telah berjalan.
Namun, penghargaan juga membawa ekspektasi baru.
Pemerintah Kota Banjar perlu membuktikan bahwa penguatan LPM tidak berhenti pada hubungan kelembagaan, melainkan berlanjut pada pemberdayaan yang benar-benar menyentuh kebutuhan warga.
Sebab, masyarakat tidak hidup dari piagam penghargaan.
Masyarakat membutuhkan program yang bekerja, kesempatan yang terbuka, dan pemberdayaan yang menghasilkan perubahan.
Banjar sudah mendapat pengakuan di panggung nasional. Kini pekerjaan sebenarnya justru dimulai: memastikan penghargaan itu tidak hanya terlihat bagus di atas panggung, tetapi terasa manfaatnya ketika kembali ke tengah masyarakat. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar