Tugu Koperasi Tasikmalaya Diusulkan Jadi Cagar Budaya
- account_circle redaktur
- calendar_month Selasa, 2 Jun 2026
- visibility 23
- comment 0 komentar
- print Cetak

Tugu Koperasi Tasikmalaya di Jalan Mohammad Hatta yang diusulkan menjadi kawasan cagar budaya dan pusat peringatan Hari Koperasi Nasional., Selasa (2/6/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH — Di tengah lalu lintas kendaraan yang setiap hari melintasi Jalan Mohammad Hatta, berdiri sebuah monumen yang mungkin tidak lagi banyak diperhatikan warga. Namun di balik bentuknya yang sederhana, tersimpan jejak penting perjalanan ekonomi kerakyatan Indonesia.
Tugu Koperasi Tasikmalaya kembali menjadi sorotan setelah Sekretaris Kementerian Koperasi Ahmad Zabadi bersama Wakil Wali Kota Tasikmalaya Rd Diky Candranegara meninjau langsung kawasan tersebut. Kunjungan itu membuka kembali pembahasan mengenai peluang menjadikan Tugu Koperasi sebagai cagar budaya sekaligus bagian dari peringatan Hari Koperasi Nasional.
Bagi sebagian masyarakat, Tugu Koperasi mungkin hanya sebuah bangunan tua di tepi jalan. Namun bagi para pemerhati sejarah, monumen itu menjadi penanda penting bahwa Kota Tasikmalaya memiliki hubungan erat dengan lahir dan berkembangnya gerakan koperasi nasional.
Cat yang Memudar, Tetapi Sejarahnya Masih Bertahan
Saat peninjauan berlangsung, kondisi fisik kawasan menjadi perhatian rombongan.
Di beberapa sisi Tugu Koperasi, cat yang mulai memudar masih terlihat jelas. Rumput liar tumbuh di sejumlah titik dekat pagar pembatas. Sementara kendaraan roda dua dan roda empat terus melintas di Jalan Mohammad Hatta yang berada tepat di depan kawasan tersebut.
Sesekali, warga yang melintas tampak menoleh ke arah rombongan pejabat yang sedang mengamati kondisi monumen. Beberapa pengendara bahkan terlihat memperlambat laju kendaraan karena penasaran dengan aktivitas yang berlangsung di area tersebut.
Pemandangan itu seolah menjadi pengingat bahwa sebuah situs sejarah bisa saja berdiri bertahun-tahun di tengah kota tanpa banyak disadari keberadaannya.
Tasikmalaya dan Jejak Hari Koperasi Nasional
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Wali Kota Tasikmalaya Rd Diky Candranegara menyampaikan harapannya agar peringatan Hari Koperasi Nasional dapat disatukan dengan pencanangan kawasan Tugu Koperasi sebagai cagar budaya.
Menurutnya, Kota Tasikmalaya memiliki alasan historis yang kuat untuk mendapatkan perhatian nasional.
Tanggal 12 Juli yang kini diperingati sebagai Hari Koperasi Nasional lahir dari Kongres Koperasi pertama yang pernah diselenggarakan di Tasikmalaya.
“Harapan kami, Hari Koperasi Nasional bisa disatukan dengan pencanangan Tugu Koperasi atau kawasannya sebagai cagar budaya,” kata Diky.
Ia menegaskan bahwa koperasi bukan sesuatu yang asing bagi Tasikmalaya. Sama seperti kota ini dikenal melalui dunia pendidikan, kerajinan, olahraga, dan pesantren, koperasi juga menjadi bagian dari identitas sejarah daerah.
Tidak Semua Warga Mengetahui Nilai Sejarahnya
Menariknya, tidak sedikit warga yang sebenarnya sering melewati kawasan Tugu Koperasi, tetapi baru mengetahui nilai sejarahnya setelah isu cagar budaya kembali mencuat.
Jujur saja, tidak semua masyarakat langsung mengenali pentingnya Tugu Koperasi. Bagi sebagian warga, monumen itu selama ini hanya dianggap sebagai penanda jalan atau bagian dari pemandangan kota yang sudah biasa mereka lihat setiap hari.
Ketidaksempurnaan pemahaman itu wajar terjadi. Seiring perkembangan kota, banyak situs sejarah perlahan kehilangan perhatian karena masyarakat lebih fokus pada aktivitas ekonomi dan kebutuhan sehari-hari.
Padahal, tempat-tempat seperti inilah yang sering menyimpan cerita penting tentang perjalanan sebuah daerah.
Dari Kopdes ke Kopkel, Tasikmalaya Punya Cerita Sendiri
Diky juga mengungkap fakta menarik mengenai perkembangan koperasi di Tasikmalaya.
Ketika pemerintah mendorong penguatan koperasi desa, Kota Tasikmalaya menghadapi kondisi yang berbeda karena secara administratif tidak memiliki wilayah desa.
Dari situlah muncul konsep Koperasi Kelurahan atau Kopkel yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan kebijakan koperasi nasional.
“Bisa dikatakan, Kopkel adalah hadiah Presiden untuk Tasikmalaya yang tidak punya desa tapi kelurahan,” ujarnya.
Fakta tersebut semakin memperkuat posisi Tasikmalaya sebagai salah satu daerah yang memiliki kontribusi dalam perkembangan gerakan koperasi di Indonesia.
Tantangan Menghidupkan Sejarah di Era Digital
Di tengah pesatnya pembangunan kota dan perubahan gaya hidup masyarakat, banyak situs sejarah yang perlahan kehilangan perhatian. Padahal sering kali tempat-tempat sederhana itulah yang menyimpan cerita besar tentang perjalanan bangsa.
Generasi muda saat ini mungkin lebih akrab dengan aplikasi digital, transaksi daring, dan ekonomi berbasis teknologi. Karena itu, menghidupkan kembali sejarah koperasi menjadi tantangan sekaligus peluang untuk mengenalkan akar ekonomi kerakyatan kepada generasi baru.
Melalui upaya menjadikan kawasan Tugu Koperasi sebagai cagar budaya, pemerintah daerah berharap masyarakat tidak hanya melihat bangunan fisiknya, tetapi juga memahami nilai sejarah yang melekat di dalamnya.
Karena menjaga sejarah bukan sekadar merawat bangunan lama. Menjaga sejarah berarti merawat identitas yang membentuk sebuah kota.
Cat bisa memudar. Rumput liar bisa tumbuh. Bangunan bisa menua. Namun sejarah tidak pernah kehilangan nilainya. Dan jika Tugu Koperasi Tasikmalaya kembali mendapat tempat yang layak, maka yang sesungguhnya sedang dijaga bukan hanya sebuah monumen, melainkan ingatan kolektif tentang bagaimana semangat gotong royong pernah membangun bangsa ini dari akar rumput. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar