Menuju Platform Streaming, Pelajar Tasikmalaya Belajar Industri Musik Digital
- account_circle redaktur
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

PLH Wali Kota Tasikmalaya, Rd Diky Candranegara Seminar Industri Musik dan Ekonomi Kreatif Berbasis Digital Tahap 1 yang digelar Sabtu (30/5/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Musik Digital Tasikmalaya mulai menunjukkan geliat baru. Ratusan pelajar SMA, SMK, dan sederajat memadati Gedung Creative Center (GCC) Dadaha Kota Tasikmalaya dalam Seminar Industri Musik dan Ekonomi Kreatif Berbasis Digital Tahap 1 yang digelar Sabtu (30/5/2026).
Kegiatan hasil kolaborasi Rumusarindo, Polresta Tasikmalaya, dan Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya tersebut tidak hanya berbicara tentang musik. Para peserta diajak memahami bagaimana karya kreatif dapat berkembang menjadi peluang ekonomi di era digital.
Di tengah maraknya platform streaming, media sosial, dan industri kreator konten, banyak anak muda kini bermimpi menghasilkan karya yang dikenal luas. Namun tidak semua memahami bagaimana proses membangun karya yang bernilai sekaligus memiliki perlindungan hukum.
Karena itulah seminar ini menarik perhatian ratusan pelajar dari berbagai sekolah di Kota Tasikmalaya.
Dari Hobi Bermusik Menuju Peluang Ekonomi
Pelaksana Harian Wali Kota Tasikmalaya, Rd Diky Candranegara, membuka langsung kegiatan tersebut.
Dalam sambutannya, Diky menegaskan bahwa ekonomi kreatif digital menjadi salah satu sektor yang memiliki peluang besar bagi generasi muda.
Menurutnya, Kota Tasikmalaya memiliki banyak pelajar berbakat di bidang musik. Namun bakat saja belum cukup. Anak muda juga perlu memahami bisnis, teknologi, dan strategi distribusi agar karya mereka memiliki nilai ekonomi.
“Melalui seminar ini kami ingin pelajar tidak hanya bisa berkarya, tetapi juga memahami cara memonetisasi karya secara legal dan berkelanjutan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mendapat respons positif dari peserta. Beberapa pelajar terlihat sibuk mencatat materi yang disampaikan narasumber. Di beberapa baris kursi belakang, sejumlah peserta sesekali merekam materi menggunakan ponsel mereka agar dapat dipelajari kembali setelah acara selesai.
Belajar Hak Cipta di Tengah Era Serba Digital
Salah satu materi yang paling banyak menyita perhatian adalah soal hak cipta.
Di era media sosial, karya musik dapat menyebar dalam hitungan detik. Namun pada saat yang sama, risiko pembajakan dan penyalahgunaan karya juga semakin besar.
Kasat Intel Polresta Tasikmalaya AKP Widi Eko menjelaskan bahwa keterlibatan kepolisian bertujuan memberikan edukasi mengenai perlindungan hak cipta dan keamanan karya digital.
Para peserta juga memperoleh pemahaman mengenai risiko mengunggah karya tanpa perlindungan yang memadai.
Karena itu, seminar tidak hanya berbicara tentang kreativitas. Seminar ini juga mengajarkan bagaimana menjaga hasil kerja keras agar tidak dimanfaatkan pihak yang tidak bertanggung jawab.
Menariknya, beberapa pelajar mengaku baru mengetahui bahwa karya musik yang diunggah ke platform digital ternyata memiliki aspek hukum yang perlu dipahami sejak awal.
Antusiasme Pelajar Terlihat Sejak Awal Acara
Sejak pagi, suasana GCC Dadaha terlihat lebih ramai dibanding hari biasa.
Kelompok pelajar datang secara berombongan dari berbagai sekolah. Sebagian membawa buku catatan. Sebagian lainnya langsung mengabadikan suasana seminar menggunakan ponsel mereka.
Ketika sesi praktik dimulai, suasana ruangan berubah lebih hidup. Suara notifikasi ponsel dan potongan-potongan beat musik sesekali terdengar dari berbagai sudut ruangan. Beberapa peserta tampak mencoba aplikasi produksi musik digital untuk pertama kalinya.
Ada peserta yang datang karena hobi bermain gitar. Ada pula yang ternyata sudah memiliki akun distribusi musik digital meski masih duduk di bangku sekolah.
Perbedaan pengalaman tersebut justru membuat suasana diskusi menjadi lebih menarik.
Dari Studio Kamar ke Industri Kreatif
Banyak musisi dan kreator digital saat ini memulai perjalanan mereka dari tempat yang sangat sederhana.
Tidak sedikit karya populer lahir dari kamar tidur, laptop pribadi, bahkan perangkat rekaman sederhana.
Fakta tersebut menjadi motivasi tersendiri bagi para peserta seminar.
Mereka melihat bahwa peluang berkarya tidak lagi bergantung pada studio besar atau modal mahal. Sebaliknya, kreativitas, konsistensi, dan kemampuan memanfaatkan teknologi justru menjadi modal utama.
Sementara itu, Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya berharap kegiatan ini dapat menjadi langkah awal terbentuknya komunitas musik digital pelajar yang lebih terstruktur dan produktif.
Bisakah Tasikmalaya Melahirkan Kreator Musik Nasional Berikutnya?
Di balik seminar ini, muncul pertanyaan yang menarik.
Jika pelajar sudah mulai belajar produksi musik, distribusi digital, hak cipta, hingga strategi promosi sejak sekolah, mungkinkah dari Tasikmalaya lahir musisi atau kreator digital nasional berikutnya?
Pertanyaan lain juga tidak kalah penting.
Di tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat, apakah industri kreatif digital dapat menjadi salah satu alternatif lapangan kerja baru bagi generasi muda?
Jawabannya mungkin belum terlihat hari ini. Namun benihnya mulai ditanam melalui kegiatan seperti ini.
Tidak semua peserta seminar ini akan menjadi musisi profesional.
Tidak semua pula akan memiliki lagu yang masuk tangga lagu nasional.
Namun satu hal yang mulai tumbuh hari itu adalah kesadaran bahwa kreativitas bukan lagi sekadar hobi.
Di era digital, kreativitas juga bisa menjadi jalan hidup dan sumber penghidupan.
Dan mungkin, di antara ratusan pelajar yang memenuhi GCC Dadaha hari itu, ada satu nama yang kelak membawa karya dari Tasikmalaya ke panggung yang lebih besar. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar