Hujan Deras Picu Banjir Dayeuhkolot dan Ganggu Mobilitas Warga

Banjir Dayeuhkolot kembali merendam permukiman dan menghambat aktivitas warga setelah hujan deras sejak Kamis.
albadarpost.com, HUMANIORA – Banjir Dayeuhkolot kembali menggenangi kawasan permukiman di Kabupaten Bandung setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak Kamis siang hingga sore. Air mulai naik menjelang malam dan bertahan sampai Jumat pagi, menyebabkan aktivitas warga tersendat di sejumlah titik. Genangan yang berulang ini menegaskan persoalan banjir di wilayah Dayeuhkolot yang tak kunjung tertangani tuntas.
Nita Nurhalisa, warga Bojong Asih yang ditemui pada Kamis malam, mengatakan genangan kali ini bukan kejadian baru. Ia pulang dari rumah saudaranya saat air sudah mulai meninggi. “Airnya naik dari sore sampai malam. Dari kemarin sudah mulai tinggi,” ujarnya. Menurut Nita, ketinggian air di Dayeuhkolot pada Jumat pagi mencapai sekitar satu meter, sementara di Bojong Asih lebih dalam. “Sepinggang orang dewasa,” katanya. Di wilayah yang dekat aliran Sungai Citarum, ketinggian air bahkan mencapai 1,5 meter.
Rumah Nita termasuk yang kembali terendam. Ia menuturkan bahwa sejak kecil, banjir sudah menjadi langganan di daerah tersebut. “Sering setiap musim hujan. Dari saya kecil juga begitu,” ucapnya. Banjir rutin itu bukan hanya merendam rumah, tetapi juga menghentikan sementara usaha konveksi rumahan yang ia jalankan. Pengiriman barang sering terganggu, apalagi ketika listrik padam karena genangan terlalu tinggi.
Genangan Menyebar dan Macet Mengular
Di jalur utama Dayeuhkolot, banjir Dayeuhkolot memicu kemacetan panjang sejak Kamis malam hingga Jumat pagi. Yusuf Ramdan, pengendara motor yang terjebak dalam antrean, mengatakan biasanya hanya perlu 15 menit melewati jalur tersebut. Namun hari itu, ia menghabiskan hampir dua jam. “Motor beberapa kali mogok. Banyak yang dorong motor, banyak juga yang putar balik,” katanya.
Yusuf berharap pemerintah menempatkan petugas di titik banjir agar kendaraan bisa bergerak lebih tertib. “Setidaknya ada yang mengatur supaya enggak kacau,” ujarnya. Menurut Yusuf, antrean kendaraan mengular hingga ratusan meter karena pengendara harus melaju perlahan melewati air setinggi lutut.
Sementara itu, pedagang di Pasar Dayeuhkolot ikut terdampak. Rina Wulandari, pedagang sayuran, mengatakan pendapatan harian turun tajam sejak banjir kembali merendam kawasan tersebut. “Pembeli susah lewat. Barang dari pemasok juga telat, ada yang batal kirim,” katanya. Rina, yang harus berjalan kaki dari rumahnya di Cangkuang, khawatir bila kondisi ini berlarut-larut akan menyulitkan pedagang kecil bertahan.
Akar Masalah dan Respons Pemerintah
Genangan besar di Dayeuhkolot dipicu kombinasi curah hujan tinggi, kapasitas sungai yang terbatas, serta aliran Sungai Citarum yang meluap pada Kamis malam. Pemerintah daerah selama beberapa tahun terakhir membangun kolam retensi, meninggikan jalan, dan memperbaiki beberapa titik tanggul. Namun, bagi warga, upaya tersebut belum cukup untuk mengakhiri persoalan banjir.
Baca juga: Polrestabes Bandung Tetapkan EE Tersangka dalam Kasus KDRT Bandung
Nita memahami pemerintah telah melakukan sejumlah pekerjaan fisik, tetapi ia berharap perbaikan saluran air menjadi prioritas lanjutan. “Kalau pengairan dan salurannya diperbaiki, mungkin bisa lebih cepat surut,” ujarnya. Keluhan serupa disampaikan warga lain yang berharap intervensi pemerintah tidak berhenti pada proyek insidental.
Hingga Jumat siang, air masih menggenangi sejumlah titik di Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojong Asih. Petugas gabungan terlihat membantu warga yang kesulitan melintas dan memantau lokasi yang rawan arus deras. Meski begitu, warga berharap penanganan banjir tidak lagi bersifat sementara, tetapi menyentuh akar persoalan yang menyebabkan banjir terus muncul.
Banjir Dayeuhkolot yang datang berulang kali bukan hanya menguji kesabaran warga, tetapi juga menekan aktivitas ekonomi, mobilitas pekerja, dan keamanan permukiman. Ketika hujan deras terus mendominasi cuaca di Kabupaten Bandung, kebutuhan terhadap solusi permanen menjadi semakin mendesak.
Banjir Dayeuhkolot kembali menegaskan perlunya perbaikan saluran air dan mitigasi yang lebih serius di Bandung Selatan. (Red/Arrian)




