Jangkrik Ciamis Naik Kelas, 70 Persen Dijual Langsung
- account_circle redaktur
- calendar_month Kamis, 20 Agt 2026
- visibility 33
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ketua Tim PKM, Dr. Maman Herman, M.Pd. saat melakukan pendampingan kepada peternak jangkrik. (Foto: Istimewa).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
AlbadarPost.com, BERITA DAERAH – Jangkrik Ciamis mulai memasuki pola usaha yang berbeda. Kelompok Peternak Jangkrik Boss di Desa Margaharja, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Ciamis, mulai mengurangi ketergantungan pada pengepul melalui penguatan budidaya jangkrik, teknologi tepat guna, dan digital marketing.
Perubahan paling terlihat berada pada jalur pemasaran. Berdasarkan hasil program pendampingan, porsi penjualan melalui pengepul turun dari 60 persen menjadi 30 persen. Sebaliknya, sekitar 70 persen penjualan dilakukan secara langsung kepada konsumen.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan peternak jangkrik Ciamis tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi. Kelompok juga mulai membangun kemampuan pemasaran dan memperluas akses kepada konsumen.
Saat dihubungi redaksi, Ketua Tim PKM, Dr. Maman Herman, M.Pd., menilai pemanfaatan teknologi menjadi bagian penting dalam pengembangan usaha peternak jangkrik. Menurutnya, teknologi perlu dimanfaatkan bukan hanya untuk membantu peningkatan produksi, tetapi juga untuk memperkuat digital marketing.
“Peternak jangkrik perlu memanfaatkan teknologi dalam peningkatan produksi dan digital marketing.”
Menurut Maman, kemampuan menggunakan teknologi menjadi semakin penting ketika pelaku usaha ingin memperluas pasar. Karena itu, pendampingan juga tidak cukup berhenti pada aspek teknis budidaya.
Ia menekankan pentingnya pendampingan digital marketing bagi pelaku UMKM agar pelaku usaha tidak sekadar memiliki produk, tetapi juga mampu mengenalkan, memasarkan, dan menjangkau konsumen melalui kanal digital.
Dari Kandang Margaharja Menuju Pasar Langsung
Kelompok Peternak Jangkrik Boss menjadi mitra dalam program pemberdayaan yang berlangsung pada April hingga Agustus 2026. Program tersebut melibatkan kelompok yang sebelumnya beranggotakan 13 orang di Desa Margaharja.
Pendampingan tidak hanya menyasar aspek teknis peternakan. Kelompok juga mendapatkan penguatan pada sisi pemasaran, branding, kemasan, media sosial, hingga legalitas usaha.
Dalam prosesnya, kelompok membangun identitas usaha dan memperbaiki kemasan produk. Mereka juga mengembangkan akun Instagram dan TikTok serta menyiapkan kanal marketplace untuk mendukung pemasaran secara daring.
Langkah tersebut menjadi penting karena penjualan langsung memberi ruang lebih besar bagi peternak untuk berhubungan dengan konsumen. Selain itu, media digital membuka peluang agar produk tidak hanya dikenal oleh pembeli yang datang melalui jalur pengepul.
Namun, perubahan pola pemasaran tidak berarti pengepul sepenuhnya hilang. Data program justru menunjukkan porsinya turun menjadi 30 persen. Dengan demikian, kelompok masih menggunakan lebih dari satu jalur pemasaran.
Bagi Maman, kondisi tersebut memperlihatkan mengapa pendampingan digital marketing penting bagi UMKM. Pelaku usaha membutuhkan pengetahuan dan keterampilan agar teknologi benar-benar menjadi alat untuk mendukung kegiatan bisnis, bukan sekadar mengikuti tren.

Peternak Jangkrik Desa Margaharja mulai memanfaatkan teknologi dalam pembuatan pakan. (Foto: Istimewa).
Produksi Jangkrik Ikut Meningkat
Perubahan pemasaran berjalan beriringan dengan peningkatan produksi.
Data hasil program mencatat produksi rata-rata kelompok meningkat dari 572 kilogram menjadi 732,3 kilogram per siklus panen. Harga rata-rata juga naik dari sekitar Rp35.000 menjadi Rp42.000 per kilogram melalui kombinasi pemasaran konvensional dan digital.
Jika menggunakan angka tersebut, nilai pendapatan kotor kelompok per siklus meningkat dari sekitar Rp20,02 juta menjadi Rp30,75 juta. Angka itu merupakan hasil perhitungan berdasarkan data produksi dan harga yang tercantum dalam dokumen program.
Selain volume produksi, program juga mencatat perubahan pada waktu panen dan tingkat kelangsungan hidup jangkrik. Dokumen menyebut waktu panen berada pada kisaran sekitar 29–32 hari setelah sebelumnya berada pada kisaran 37–40 hari. Tingkat kelangsungan hidup juga mencapai sekitar 85–90 persen.
Perubahan tersebut didukung penggunaan sejumlah sarana teknologi tepat guna. Kelompok memperoleh peralatan seperti thermostat, egg tray, jaring kasa, mesin pencacah multiguna, dan alat semprotan digital.
Dengan demikian, teknologi tidak hanya berkaitan dengan promosi. Pemanfaatannya juga menyentuh proses produksi di kandang.
Hal tersebut sejalan dengan penekanan Ketua Tim PKM mengenai pentingnya peternak memanfaatkan teknologi secara terpadu, baik untuk meningkatkan produksi maupun mengembangkan pemasaran digital.
Digital Marketing Bukan Sekadar Memiliki Media Sosial
Bagi usaha peternakan skala kelompok, kemampuan memproduksi saja belum cukup. Produk membutuhkan pembeli, sementara pembeli membutuhkan informasi mengenai produk yang ditawarkan.
Karena itu, pemasaran digital menjadi bagian penting dalam pendampingan. Kelompok mulai membuat konten promosi, membangun identitas usaha, dan memanfaatkan media sosial untuk mengenalkan produknya.
Kelompok tercatat memiliki akun Instagram dan TikTok aktif, membuat sedikitnya 10 konten kreatif, serta menyiapkan satu akun marketplace untuk mendukung pemasaran.
Di titik ini, Jangkrik Ciamis memiliki cerita yang lebih luas. Peternak tidak sekadar berusaha meningkatkan jumlah produksi, tetapi juga mulai memanfaatkan teknologi untuk membangun akses pasar.
Maman menilai pendampingan tetap diperlukan karena kemampuan digital marketing tidak selalu muncul secara otomatis ketika pelaku UMKM memiliki akses internet atau media sosial.
Pelaku UMKM perlu memahami cara menyusun konten, mengenalkan produk, membangun komunikasi dengan konsumen, dan memanfaatkan kanal digital sesuai kebutuhan usahanya.
Dengan pendampingan yang tepat, teknologi diharapkan tidak berhenti sebagai fasilitas, tetapi menjadi bagian dari strategi pengembangan usaha.
Legalitas Usaha Mulai Diperkuat
Selain produksi dan pemasaran, aspek legalitas juga menjadi bagian dari pendampingan.
Kelompok sebelumnya memiliki pemahaman yang masih terbatas mengenai Nomor Induk Berusaha atau NIB. Program kemudian memberikan edukasi mengenai fungsi legalitas usaha dan proses pengurusannya.
Dalam hasil program, kelompok yang sebelumnya belum memiliki NIB disebut telah memilikinya. Ketua Kelompok Peternak Jangkrik Boss, Toni Rustandi, juga menyampaikan adanya peningkatan pendapatan harian peternak dari sekitar Rp41.600 menjadi Rp76.300.
Data tersebut memperlihatkan bahwa transformasi usaha berjalan melalui beberapa sisi sekaligus: produksi, pemasaran, branding, digitalisasi, dan legalitas.
Kelompok juga berkembang dari 13 menjadi 15 anggota dengan tambahan tenaga kerja usia produktif.
Tantangan Jangkrik Ciamis Belum Berakhir
Meski menunjukkan perkembangan, usaha peternakan jangkrik tetap menghadapi tantangan.
Dokumen program mencatat adanya serangan hama tungau atau kepik pada salah satu kandang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penggunaan teknologi belum otomatis menghilangkan seluruh risiko dalam budidaya jangkrik.
Peternak tetap membutuhkan pengawasan terhadap kondisi kandang, kualitas pakan, sanitasi, serta kesehatan jangkrik.
Begitu pula dengan pemasaran digital. Memiliki akun media sosial belum cukup. Kelompok perlu menjaga kualitas konten, merespons calon pembeli, mempertahankan mutu produk, dan memastikan pesanan dapat dipenuhi.
Karena itu, pendampingan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan usaha. Teknologi dapat membuka peluang, tetapi kemampuan mengelolanya menentukan seberapa besar manfaat yang bisa diperoleh pelaku UMKM.
Dari Kandang ke Pasar, Cara Berbisnis Ikut Berubah
Kisah Kelompok Peternak Jangkrik Boss di Margaharja memperlihatkan bahwa pengembangan usaha kecil tidak hanya membutuhkan tambahan produksi.
Teknologi dapat membantu peternak mengelola proses budidaya secara lebih terukur. Sementara itu, digital marketing membuka jalur komunikasi yang lebih dekat dengan konsumen.
Keduanya kemudian bertemu pada satu tujuan: membuat peternak memiliki kemampuan lebih besar untuk mengelola produksinya sekaligus menentukan pasar bagi produknya.
Perubahan dari dominasi pengepul menuju 70 persen penjualan langsung menjadi salah satu indikator menarik dari proses tersebut. Namun, angka itu tetap perlu dipertahankan melalui kualitas produk, konsistensi produksi, kemampuan mengelola pasar, serta pendampingan yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, naik kelas bukan hanya tentang menghasilkan lebih banyak jangkrik. Naik kelas berarti peternak mulai menguasai teknologi, memahami pasar, dan memiliki keberanian untuk menjual produknya dengan cara yang lebih mandiri.
Dari kandang sederhana di Margaharja, jangkrik kini membawa cerita yang lebih besar. Peternak tidak lagi sekadar mengejar panen, tetapi mulai mengejar pasar. Dan ketika teknologi masuk ke kandang sementara digital marketing membuka pintu konsumen, usaha kecil itu mulai menemukan jalan menuju kemandirian. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar