IDSD 2025 Bicara: Kota Tasikmalaya Unggul, Kabupaten Harus Gaspol

albadarpost.com, BERITA DAERAH – Rilis IDSD 2025 atau Indeks Desa dan Daerah 2025 langsung memantik perhatian publik Tasikmalaya. Data terbaru itu memperlihatkan jarak yang tidak kecil antara Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Tasikmalaya. Kota membukukan skor 4,05, sementara kabupaten bertahan di angka 3,52. Adapun rata-rata nasional berada di 3,50.
Angka tersebut bukan sekadar statistik tahunan. Sebaliknya, hasil IDSD 2025 menjadi cermin nyata bagaimana efektivitas pembangunan berjalan di dua wilayah yang secara geografis berdampingan, tetapi menunjukkan performa berbeda.
Kota Konsisten, Kabupaten Belum Merata
Jika ditelusuri lebih dalam, kekuatan Kota Tasikmalaya terlihat hampir di seluruh pilar. Pilar 7 bahkan menyentuh angka sempurna 5,00. Selain itu, Pilar 3 mencapai 4,94 dan Pilar 1 menembus 4,70. Kombinasi ini memperlihatkan konsistensi yang terjaga.
Di sisi lain, Kabupaten Tasikmalaya sebenarnya tidak tanpa capaian. Pilar 1 mencatat 4,72, lalu Pilar 3 berada di 4,50, serta Pilar 10 mencapai 4,58. Artinya, fondasi di beberapa sektor sudah kuat. Namun demikian, ketimpangan antarindikator membuat skor total belum terdongkrak signifikan.
Karena itu, masalah utama kabupaten bukan pada ketiadaan potensi, melainkan pada pemerataan kinerja di seluruh pilar.
Pilar 9 Jadi Sorotan Tajam
Perbedaan paling mencolok dalam IDSD 2025 tampak pada Pilar 9. Kota Tasikmalaya meraih 3,63, sedangkan Kabupaten Tasikmalaya hanya 1,95. Selisih ini hampir dua kali lipat dan langsung menjadi alarm evaluasi.
Selain Pilar 9, beberapa indikator lain juga masih berada di bawah angka 3. Pilar 11 tercatat 2,54, Pilar 8 di 2,62, dan Pilar 12 berada di 2,67. Jika kondisi ini tidak segera ditangani, maka jarak skor dengan kota berpotensi melebar pada periode evaluasi berikutnya.
Sebaliknya, Kota Tasikmalaya mampu menjaga stabilitas pada indikator yang sama. Pilar 12, misalnya, menembus 3,95. Konsistensi inilah yang kemudian mendorong skor kota menembus angka empat.
Momentum Evaluasi, Bukan Saling Membandingkan
Meski data IDSD 2025 memperlihatkan kesenjangan, situasi ini seharusnya menjadi momentum refleksi, bukan sekadar bahan perbandingan. Kabupaten Tasikmalaya masih berada sedikit di atas rata-rata nasional. Dengan langkah terukur dan fokus pada pilar terlemah, peluang memperbaiki skor tetap terbuka lebar.
Baca juga: Trik Hemat Belanja Dapur yang Jarang Disadari
Selain itu, kolaborasi antarwilayah bisa menjadi strategi rasional. Praktik kebijakan yang berhasil di kota dapat direplikasi dengan penyesuaian konteks wilayah kabupaten. Pendekatan berbasis data seperti ini jauh lebih efektif dibandingkan kebijakan yang berjalan tanpa arah.
Data Jadi Kompas Pembangunan
IDSD 2025 menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak cukup hanya dengan proyek fisik. Daya saing lahir dari tata kelola yang konsisten, inovasi pelayanan publik, serta keberlanjutan program. Oleh sebab itu, hasil indeks ini perlu diterjemahkan menjadi langkah konkret.
Ke depan, publik tentu berharap angka-angka tersebut tidak berhenti sebagai laporan tahunan. Masyarakat ingin melihat percepatan nyata, terutama di sektor yang masih tertinggal. Apalagi, selisih skor 0,53 poin antara kota dan kabupaten bukan angka kecil dalam sistem penilaian indeks.
Pada akhirnya, IDSD 2025 telah membuka peta yang jelas. Kota Tasikmalaya melaju stabil di jalur daya saing. Sementara itu, Kabupaten Tasikmalaya menghadapi pekerjaan rumah yang terukur. Kini, pilihan ada pada arah kebijakan: stagnan atau bergerak cepat mengejar ketertinggalan. (GZ)




