177 dari 185 ATS Bungursari Sudah Diverifikasi, Apa Langkah Berikutnya?
- account_circle redaktur
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan memimpin Rapat Koordinasi Penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) tingkat Kecamatan Bungursari, Selasa (1/9/2026).(Dok. Pemkot Tasikmalaya).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH — Penanganan anak tidak sekolah di Bungursari memasuki tahap penting. Dari 185 data Anak Tidak Sekolah (ATS) yang tercatat di Kecamatan Bungursari, sebanyak 177 anak disebut telah melalui proses verifikasi. Angka tersebut menjadi bagian dari progres Pemerintah Kota Tasikmalaya dalam memastikan data ATS benar-benar sesuai kondisi lapangan.
Pada saat yang sama, dipimpin langsung Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, Pemkot Tasikmalaya kembali menggelar rapat koordinasi ATS di Aula Kecamatan Bungursari, Selasa, 1 September 2026. Forum itu melibatkan unsur kecamatan, kelurahan, dan sekolah sebagai bagian dari upaya memperkuat penanganan anak yang belum atau tidak bersekolah.
Namun, persoalannya tidak berhenti pada angka 177 anak yang sudah terverifikasi.
Pertanyaan berikutnya jauh lebih penting: setelah data dinyatakan benar, apa yang dilakukan pemerintah agar anak tersebut benar-benar kembali memperoleh pendidikan?
7.520 Data ATS, Ribuan Sudah Diverifikasi
Data awal Pemkot Tasikmalaya mencatat 7.520 anak tidak sekolah yang perlu menjalani verifikasi. Dalam sekitar satu bulan, sebanyak 4.470 data telah terverifikasi, sedangkan 3.050 lainnya masih berada dalam proses pendataan dan pengecekan. Dari data yang telah diverifikasi itu, 2.764 anak dilaporkan sudah kembali mengikuti pendidikan melalui jalur formal maupun nonformal.
Angka tersebut menunjukkan adanya perkembangan, tetapi juga memperlihatkan bahwa pekerjaan rumah pemerintah masih panjang.
Sebab, verifikasi bukanlah tujuan akhir. Proses tersebut justru menjadi pintu masuk untuk mengetahui kondisi sebenarnya setiap anak.
Data Anak Tidak Sekolah (ATS) bisa saja memuat anak yang sudah berpindah domisili, belum tercatat secara tepat dalam sistem pendidikan, atau memiliki kondisi lain yang membutuhkan penelusuran lebih lanjut. Karena itu, pemerintah perlu memastikan bahwa setiap data memiliki status yang jelas sebelum menentukan intervensi.
Pemkot menargetkan proses verifikasi seluruh data ATS selesai pada Oktober 2026.
Bungursari Menunjukkan Progres Verifikasi Tinggi
Di antara wilayah yang tengah menjalankan proses tersebut, Bungursari mencatat progres verifikasi yang tinggi.
Dari 185 data ATS yang tercatat di kecamatan tersebut, 177 anak sudah terverifikasi. Dengan demikian, masih terdapat delapan data yang perlu ditindaklanjuti berdasarkan angka yang disampaikan pada 1 September 2026.
Capaian itu penting, tetapi AlbadarPost melihat ada hal yang lebih substansial.
Verifikasi harus menghasilkan tindakan.
Artinya, pemerintah tidak cukup memastikan seseorang memang masuk dalam data ATS. Setelah itu, pemerintah perlu mengetahui status pendidikannya, mencari jalur pendidikan yang sesuai, serta memastikan anak tidak kembali keluar dari sistem pendidikan.
Dalam penanganan ATS, ukuran keberhasilan karena itu tidak semata-mata jumlah data yang selesai diverifikasi. Jumlah anak yang kembali memperoleh pendidikan juga menjadi indikator penting.
Ketika Data Bertemu Solusi Pendidikan
Pemkot Tasikmalaya menyebut penanganan ATS membutuhkan koordinasi lintas sektor. Lurah dan kepala sekolah mendapat posisi penting karena keduanya berada dekat dengan kondisi masyarakat dan satuan pendidikan di wilayah masing-masing.
Selain itu, pemerintah mendorong kesinambungan program pendidikan melalui Tasik Pintar. Pemkot menempatkan program tersebut sebagai bagian dari sinergi kebijakan pendidikan daerah dengan arah kebijakan pemerintah pusat.
Namun, kebijakan yang baik tetap membutuhkan data yang presisi.
Karena itu, proses verifikasi menjadi pekerjaan fundamental. Tanpa data yang akurat, pemerintah berisiko memberikan intervensi kepada sasaran yang keliru. Sebaliknya, data yang terverifikasi dapat membantu pemerintah menyusun langkah yang lebih spesifik.
Dalam konteks Bungursari, progres 177 dari 185 data menunjukkan bahwa pekerjaan lapangan sudah bergerak. Akan tetapi, delapan data yang tersisa tetap membutuhkan perhatian sampai statusnya benar-benar jelas.
11 Anak Perempuan Bungursari Masuk Jalur Pendidikan Nonformal
Salah satu contoh tindak lanjut muncul dari Bungursari. Berdasarkan keterangan Wali Kota yang diberitakan media lokal, 11 anak perempuan dari data ATS yang telah diverifikasi diarahkan ke PKBM nonformal untuk mengikuti bidang tata rias.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa solusi pendidikan tidak selalu harus menggunakan satu jalur.
Bagi anak yang memiliki kondisi berbeda, pendidikan nonformal dapat menjadi salah satu alternatif untuk kembali mendapatkan akses belajar sekaligus mengembangkan keterampilan. Namun, efektivitasnya tetap perlu dilihat dari keberlanjutan pendidikan, status legalitas, serta kemampuan anak untuk melanjutkan kehidupan secara mandiri.
Dengan kata lain, mengembalikan anak ke pendidikan merupakan langkah awal, bukan garis finis.
Tantangan Setelah Angka Verifikasi Naik
Pemerintah Kota Tasikmalaya masih menghadapi pekerjaan besar. Dari 7.520 data awal ATS, 3.050 masih dalam proses verifikasi berdasarkan perkembangan yang disampaikan pada 1 September 2026.
Karena itu, target Oktober menjadi penting.
Jika seluruh data dapat diverifikasi dengan baik, pemerintah akan memiliki gambaran yang lebih akurat mengenai persoalan ATS di Kota Tasikmalaya. Setelah itu, tantangan berikutnya adalah memastikan anak-anak tersebut memperoleh jalur pendidikan yang sesuai dan tidak kembali keluar dari sistem.
Di titik inilah keberhasilan program seharusnya diukur.
Bukan hanya dari berapa banyak nama yang dicoret dari daftar ATS, melainkan dari berapa banyak anak yang benar-benar kembali belajar dan mampu bertahan dalam pendidikan.
Pemkot sendiri menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, kecamatan, kelurahan, sekolah, dan unsur terkait dalam penanganan ATS.
Dari Bungursari, Ukuran Keberhasilan Harus Berubah
Bungursari memberikan gambaran menarik. Sebanyak 177 dari 185 data ATS telah terverifikasi. Itu merupakan progres yang patut dicatat.
Namun, angka tersebut sekaligus mengingatkan bahwa verifikasi hanyalah fondasi.
Pekerjaan sesungguhnya berada setelah data dinyatakan benar: memastikan anak kembali belajar, mendapatkan pendidikan yang sesuai, dan tidak kembali kehilangan akses.
Anak tidak sekolah bukan sekadar angka dalam tabel. Di balik satu nama ada masa depan yang sedang menunggu dipastikan—dan tugas pemerintah bukan hanya menemukan mereka, tetapi memastikan mereka kembali belajar. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar