Inflasi Tasikmalaya Tetap Rendah di Tengah Tekanan Harga
- account_circle redaktur
- calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
- visibility 37
- comment 0 komentar
- print Cetak

Inflasi Tasikmalaya Juni 2026 Terkendali Lebih Rendah Dari Jabar dan Nasional, Kamis(9/7/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Inflasi Tasikmalaya pada Juni 2026 tetap terkendali di tengah dinamika harga sejumlah komoditas. Berdasarkan data terbaru Inflasi Kota Tasikmalaya, angka inflasi bulanan tercatat 0,03 persen (month to month/mtm). Capaian tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi Provinsi Jawa Barat yang mencapai 0,28 persen maupun inflasi nasional sebesar 0,44 persen.
Keberhasilan menjaga stabilitas harga itu semakin memperkuat posisi TPID Tasikmalaya dan wilayah Priangan Timur sebagai salah satu contoh pengendalian inflasi yang kini menjadi rujukan berbagai daerah.
Kepala Unit Data Statistik dan Kehumasan Bank Indonesia Tasikmalaya, Adhy Rahmawan Putra, mengatakan tren inflasi Kota Tasikmalaya masih menunjukkan kondisi yang sehat meski sejumlah tekanan harga masih perlu diantisipasi.
“Inflasi Kota Tasikmalaya pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,03 persen mtm, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 0,04 persen mtm,” ujar Adhy, Kamis (9/7/2026).
Inflasi Tahunan Juga Lebih Baik
Selain mencatat inflasi bulanan yang rendah, Kota Tasikmalaya juga menunjukkan kinerja positif secara tahunan.
Adhy menjelaskan inflasi tahunan (year on year/yoy) mencapai 2,72 persen atau turun dibandingkan Mei 2026 yang berada di angka 2,82 persen.
Capaian tersebut juga berada di bawah inflasi Jawa Barat sebesar 3,08 persen dan nasional sebesar 3,34 persen.
Sementara itu, inflasi tahun kalender (year to date/ytd) hingga Juni 2026 tercatat sebesar 1,25 persen.
Menurut Adhy, kondisi tersebut menunjukkan pengendalian harga di Kota Tasikmalaya masih berjalan dengan baik meski pemerintah tetap harus mewaspadai potensi tekanan harga pada semester kedua tahun ini.
BBM dan Hortikultura Jadi Penyumbang Inflasi
Meski inflasi tetap terkendali, beberapa komoditas masih memberikan tekanan terhadap kenaikan harga.
Bensin menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,039 persen. Kenaikan tersebut dipengaruhi penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang mengikuti dinamika harga energi global.
Selain itu, komoditas hortikultura seperti daun bawang, bawang merah, dan wortel turut mendorong inflasi akibat pasokan yang belum optimal, gangguan cuaca, serta pola produksi di daerah pemasok.
Di sisi lain, kenaikan harga sigaret kretek tangan juga memberikan kontribusi terhadap inflasi karena adanya penyesuaian harga jual secara bertahap.
Harga Ayam dan Telur Redam Tekanan Inflasi
Sementara sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga, beberapa barang lainnya justru membantu menahan laju inflasi.
Harga daging ayam ras dan telur ayam ras mengalami penurunan karena pasokan tetap mencukupi, sedangkan permintaan menurun selama libur sekolah seiring penghentian sementara distribusi Program Makan Bergizi Gratis.
Selain itu, harga emas perhiasan ikut terkoreksi mengikuti penurunan harga emas di pasar global.
Jeruk dan ketimun juga mencatat penurunan harga sehingga turut menyeimbangkan tekanan inflasi pada Juni 2026.
TPID Waspadai Cuaca Ekstrem dan El Nino
Memasuki semester kedua 2026, Bank Indonesia Tasikmalaya bersama Pemerintah Kota Tasikmalaya dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat langkah antisipasi.
Menurut Adhy, mobilitas masyarakat selama libur sekolah, kebutuhan tahun ajaran baru, penyesuaian harga BBM nonsubsidi, hingga fluktuasi harga pangan strategis berpotensi meningkatkan tekanan inflasi.
Selain itu, cuaca ekstrem dan potensi El Nino pada Juli hingga September 2026 menjadi perhatian utama karena dapat mengganggu produksi hortikultura akibat berkurangnya curah hujan.
Komoditas yang masih perlu mendapat perhatian antara lain emas perhiasan, minyak goreng, beras, mobil, bensin, sigaret, sate, pasir, cabai rawit, dan laptop.
Karena itu, Bank Indonesia Tasikmalaya bersama pemerintah daerah akan terus memperkuat Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif kepada masyarakat.
Adhy berharap sinergi tersebut mampu menjaga stabilitas harga sekaligus memperkuat daya beli masyarakat dan meningkatkan optimisme dunia usaha.
“Stabilitas inflasi yang terjaga diharapkan dapat mendukung daya beli masyarakat, memperkuat keyakinan pelaku usaha, serta menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi Kota Tasikmalaya yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing,” pungkasnya.
Inflasi yang terkendali bukan sekadar angka statistik. Di baliknya ada daya beli yang terjaga, usaha yang terus bergerak, dan fondasi ekonomi daerah yang semakin kuat menghadapi setiap tantangan. (GZ)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar