Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Bukan Hanya Kurban, Ini 9 Fakta Idul Adha yang Jarang Dibahas

Bukan Hanya Kurban, Ini 9 Fakta Idul Adha yang Jarang Dibahas

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
  • visibility 191
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Suara takbir biasanya mulai menggema sejak malam Idul Adha. Di beberapa kampung, bunyi beduk masih terdengar pelan bercampur dengan suara pisau panitia yang mulai diasah di halaman masjid. Sebagian warga sibuk menyiapkan plastik kresek merah untuk membungkus daging kurban. Sementara anak-anak kecil mulai berlarian membawa bambu penyangga tempat penyembelihan.

Namun di balik suasana itu, ternyata ada banyak fakta Idul Adha yang jarang dibahas masyarakat. Banyak orang hanya mengenal Idul Adha dari kisah Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan ibadah kurban.

Padahal Idul Adha menyimpan banyak makna:

  • sosial,
  • spiritual,
  • fiqih,
  • hingga tradisi kecil yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Muslim sehari-hari.

1. Idul Adha Disebut Hari Raya Terbesar dalam Islam

Banyak orang mengira Idul Fitri lebih besar karena lebih meriah. Namun dalam hadis, Idul Adha justru disebut sebagai hari paling agung di sisi Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari Nahr.”
(HR. Abu Dawud)

Hari Nahr adalah tanggal 10 Dzulhijjah, saat umat Islam melaksanakan penyembelihan hewan kurban.

2. Takbir Idul Adha Lebih Panjang

Berbeda dengan Idul Fitri, takbir Idul Adha berlangsung lebih panjang hingga hari Tasyrik tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

Karena itu, suasana Idul Adha sering terasa lebih lama dan lebih tenang.

Di beberapa masjid kecil, suara takbir kadang masih terdengar setelah Subuh ketika panitia mulai menyiapkan tali tambang dan ember air di dekat lokasi penyembelihan.

3. Hari Tasyrik Disebut Hari Makan dan Minum

Banyak yang tidak tahu bahwa Islam justru melarang puasa pada hari Tasyrik.

Rasulullah SAW bersabda:

“Hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.”
(HR. Muslim)

Karena itu, tanggal 11–13 Dzulhijjah menjadi momentum menikmati rezeki kurban sekaligus memperbanyak dzikir.

4. Kurban Sudah Ada Sejak Zaman Anak Nabi Adam

Jauh sebelum kisah Nabi Ibrahim AS, konsep kurban ternyata sudah muncul sejak zaman putra Nabi Adam, yaitu Qabil dan Habil.

Kisah tersebut dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Ma’idah ayat 27.

Dalam kisah itu, Allah menerima kurban Habil karena ketakwaannya, sementara kurban Qabil ditolak.

Artinya, sejak awal sejarah manusia, kurban bukan hanya soal hewan.

Tetapi soal keikhlasan hati.

5. Idul Adha Jadi Momentum Pemerataan Pangan

Secara sosial, Idul Adha termasuk salah satu momen pemerataan pangan terbesar dalam Islam.

Di banyak daerah, ada warga yang baru bisa menikmati daging sapi atau kambing saat Idul Adha tiba.

Karena itu, kurban tidak hanya bicara ibadah pribadi.

Tetapi juga solidaritas sosial.

Di beberapa rumah sederhana, aroma gulai kadang baru benar-benar terasa setahun sekali ketika Idul Adha datang. Bahkan setelah pembagian selesai, suara plastik kresek daging masih terdengar berdesis kecil ketika warga mulai menata isi kantong kurban di dapur rumah mereka.

6. Sunnah Idul Adha Berbeda dengan Idul Fitri

Pada Idul Fitri, umat Islam disunnahkan makan sebelum salat Id.

Namun pada Idul Adha, Rasulullah SAW justru mencontohkan tidak makan sampai selesai salat Id dan menyantap hasil kurban setelahnya.

Hal ini menjadi simbol bahwa makanan pertama di hari raya berasal dari ibadah kurban.

7. Khutbah Idul Adha Disunnahkan Lebih Singkat

Banyak jamaah tidak menyadari bahwa khutbah Idul Adha umumnya lebih singkat dibanding khutbah Idul Fitri.

Karena setelah salat selesai, umat Islam biasanya langsung bersiap melaksanakan penyembelihan hewan kurban.

Para ulama menganjurkan khutbah yang:

  • jelas,
  • padat,
  • dan tidak terlalu panjang.

Di beberapa lapangan salat Id, sandal jamaah sering terlihat berjejer miring di pinggir lapangan karena terburu-buru ditinggalkan pemiliknya. Ada pula anak kecil yang mulai tertidur di pangkuan ayahnya saat khutbah berlangsung. Sebagian jamaah lanjut usia bahkan membawa koran bekas untuk alas duduk karena rumput masih basah oleh embun pagi.

Suasananya sederhana.

Tetapi terasa sangat khas.

8. Idul Adha Sangat Dekat dengan Makna Melepaskan

Jika Idul Fitri identik dengan kembali suci, maka Idul Adha lebih dekat dengan:

  • pengorbanan,
  • keikhlasan,
  • dan keberanian melepaskan sesuatu yang dicintai.

Karena itu, banyak ulama menyebut Idul Adha sebagai latihan mengalahkan ego dan keterikatan dunia.

9. Kulit Kurban Punya Pembahasan Fiqih yang Panjang

Banyak masyarakat baru sadar bahwa:

  • kulit kurban,
  • kepala sapi,
  • bahkan tulang,
    pun memiliki pembahasan fiqih tersendiri.

Mayoritas ulama melarang menjual bagian hewan kurban untuk dijadikan upah panitia.

Dalilnya berasal dari hadis Ali bin Abi Thalib RA:

“Rasulullah SAW melarangku memberikan sesuatu dari hewan kurban kepada tukang jagal sebagai upah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Pembahasan ini hampir selalu muncul setiap tahun di banyak masjid.

Kadang setelah semua panitia kelelahan dan tangan mereka masih bau asap sate bercampur sabun cuci piring. Di beberapa masjid kampung, kursi plastik panitia bahkan masih dipenuhi bercak air dan sisa rumput sampai sore hari. Sementara di dekat dapur umum, ibu-ibu mulai sibuk berebut kuah gulai hangat yang baru matang dari kuali besar.

Idul Adha Selalu Punya Suasana yang Sulit Dijelaskan

Ada suasana khas yang selalu datang setiap Idul Adha:

  • suara takbir,
  • bau rumput hewan kurban,
  • plastik kresek merah berisi daging,
  • dan panitia yang belum tidur sejak dini hari.

Mungkin itu sebabnya Idul Adha terasa berbeda.

Karena hari raya ini bukan hanya tentang penyembelihan hewan.

Tetapi tentang bagaimana manusia belajar:

  • ikhlas,
  • berbagi,
  • dan melepaskan sesuatu demi kebaikan yang lebih besar.

Kadang Idul Adha bukan datang untuk mengajarkan manusia cara menyembelih hewan, tetapi cara menyembelih ego, keserakahan, dan rasa terlalu mencintai dunia yang diam-diam tumbuh dalam dirinya sendiri. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • produk UMKM laris

    Tak Disangka! Produk UMKM Ini Dulunya Diremehkan, Kini Omzetnya Meledak

    • calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 158
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Banyak orang dulu meragukan masa depan produk UMKM laris di tengah dominasi brand besar. Namun situasi berubah cepat. Produk usaha kecil, bisnis lokal kreatif, dan produk rumahan inovatif justru mencuri perhatian pasar digital. Yang menarik, sebagian besar produk ini tidak lahir dari modal besar. Mereka muncul dari eksperimen sederhana, bahkan ide […]

  • Pemkot Tasikmalaya

    Pemkot Tasikmalaya Diduga Retak: Konflik Internal Ancam Tata Kelola Daerah

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 77
    • 0Komentar

    Editorial Albadarpost menyoroti kisruh internal Pemkot Tasikmalaya dan dampaknya bagi tata kelola serta pelayanan publik. Alarm dari Ruang Dalam Pemkot albadarpost.com, EDITORIAL – Unggahan status WhatsApp Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra Negara, pekan ini mengungkap sesuatu yang lebih besar dari sekadar pesan bernuansa metafora. Ia memperlihatkan retakan komunikasi di tubuh Pemerintah Kota Tasikmalaya yang […]

  • Suasana tradisi pesantren di Indonesia dengan santri belajar kitab kuning bersama kiai di lingkungan pondok

    Dari Pesantren ke Perjuangan, Ini Jejak yang Mengubah Indonesia

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 166
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Tradisi pesantren sering dianggap hanya sebatas pendidikan agama. Padahal, pesantren di Indonesia menyimpan peran jauh lebih besar. Sejak dulu, peran pesantren ikut membentuk arah sejarah bangsa—dari pendidikan, budaya, hingga perjuangan. Tidak banyak yang menyadari hal ini. Namun jejaknya nyata. Dari Ruang Sederhana, Lahir Perubahan Besar Awalnya, pesantren berkembang dari kebutuhan masyarakat akan […]

  • Menteri Sosial Gus Ipul silaturahmi dengan kiai dan pengasuh pesantren di kawasan Tapal Kuda Jawa Timur saat Lebaran

    Temui Kiai Pesantren Tapal Kuda, Gus Ipul Bawa Salam Presiden

    • calendar_month Selasa, 24 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 133
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Gus Ipul silaturahmi kiai Tapal Kuda menjadi salah satu agenda penting pada momentum Idulfitri tahun ini. Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul melakukan kunjungan Lebaran ke sejumlah ulama dan pengasuh pesantren di kawasan Tapal Kuda, Jawa Timur. Dalam kunjungan tersebut, Gus Ipul juga menyampaikan salam Presiden kepada para kiai, sekaligus mempererat […]

  • reintroduksi banteng jawa

    Reintroduksi Banteng Jawa: Mandat Negara, Regulasi Konservasi, dan Celah Pertanggungjawaban

    • calendar_month Rabu, 3 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 181
    • 0Komentar

    BBKSDA Jawa Barat memperkuat reintroduksi banteng jawa di Pangandaran guna menekan ancaman kepunahan. albadarpost.com, PERSPEKTIF – Pusat Reintroduksi Banteng Jawa di Pangandaran bukan sekadar proyek konservasi. Program ini berdiri di atas kerangka hukum yang mengikat, dengan konsekuensi administratif dan pidana bagi pihak yang melanggar. Reintroduksi banteng jawa, menurut otoritas kehutanan, adalah implementasi langsung kewajiban negara […]

  • disiplin ASN

    Disiplin ASN Ditegakkan, Guru SD Diberhentikan

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Pemkab Pasuruan memberhentikan guru ASN karena pelanggaran disiplin, memicu sorotan soal penugasan di daerah terpencil. albadarpost.com, HUMANIORA – Pemerintah Kabupaten Pasuruan memberhentikan seorang guru Aparatur Sipil Negara (ASN) setelah dinilai melanggar aturan kehadiran kerja. Keputusan ini menjadi sorotan publik karena beririsan dengan persoalan layanan pendidikan di wilayah terpencil dan beban jarak tempuh guru yang belum […]

expand_less