Kodim Tasikmalaya Bangun Ketahanan Ekonomi Prajurit
- account_circle redaktur
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

Puluhan personel dari tiap Koramil se-Kodim 0612, plus jajaran PNS Kodim belajar menabung emas dan haji, Kamis (2/7/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Literasi keuangan prajurit kini tidak lagi dipandang sebagai pelengkap, melainkan bagian penting dari kesiapan seorang prajurit menghadapi masa depan. Kesadaran itulah yang mulai diperkuat Kodim 0612/Tasikmalaya melalui edukasi mengenai tabungan haji dan tabungan emas berbasis syariah bekerja sama dengan Bank Syariah Indonesia (BSI). Di tengah meningkatnya tantangan ekonomi keluarga, kemampuan mengelola keuangan menjadi bekal yang sama pentingnya dengan disiplin saat menjalankan tugas negara.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Makodim 0612/Tasikmalaya, Kamis (2/7/2026), menghadirkan personel dari berbagai Koramil serta pegawai negeri sipil di lingkungan Kodim. Program tersebut dibuka oleh Kapten Kav Hendra Setiawan yang mewakili Dandim 0612/Tasikmalaya.
Alih-alih hanya mengenalkan produk perbankan, forum itu mengangkat tema yang lebih luas, yakni membangun budaya perencanaan keuangan sejak dini. Pendekatan tersebut relevan karena stabilitas ekonomi keluarga sering kali menjadi salah satu faktor yang memengaruhi ketenangan seseorang dalam menjalankan tugas.
Literasi Keuangan Menjadi Bagian dari Ketahanan Prajurit
Selama ini publik lebih mengenal prajurit melalui kemampuan fisik, disiplin, dan kesiapsiagaan. Namun, tantangan kehidupan modern menuntut kemampuan lain yang tidak kalah penting, yaitu mengelola keuangan secara terencana.
Melalui kegiatan tersebut, peserta memperoleh pemahaman mengenai tabungan haji syariah yang memungkinkan masyarakat menyiapkan biaya ibadah secara bertahap sesuai kemampuan. Skema menabung secara rutin dinilai dapat membantu mewujudkan target jangka panjang tanpa harus menunggu memiliki dana besar sekaligus.
Selain itu, peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai tabungan emas sebagai salah satu instrumen penyimpanan nilai aset. Dalam jangka panjang, emas kerap dipilih masyarakat untuk menjaga nilai kekayaan dari dampak inflasi, meskipun pergerakan harganya tetap mengikuti dinamika pasar.
Dengan demikian, edukasi yang diberikan tidak hanya berorientasi pada produk, tetapi juga pada pembentukan kebiasaan merencanakan masa depan secara lebih disiplin.
Mengapa Edukasi Keuangan Semakin Penting?
Di tengah meningkatnya biaya pendidikan, kebutuhan kesehatan, hingga persiapan pensiun, keluarga memerlukan perencanaan keuangan yang matang. Karena itu, literasi keuangan menjadi salah satu fondasi penting dalam menciptakan ketahanan ekonomi rumah tangga.
Dalam sesi diskusi, peserta terlihat aktif mengajukan berbagai pertanyaan. Mereka tidak hanya ingin mengetahui prosedur pembukaan rekening, tetapi juga mekanisme setoran, perbedaan tabungan emas digital dan fisik, hingga prinsip pengelolaan dana berbasis syariah.
Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan akan edukasi finansial semakin tinggi. Kesadaran untuk menyusun tujuan keuangan kini mulai tumbuh seiring meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan aset.
BSI juga menjelaskan bahwa layanan syariah mengedepankan prinsip transparansi, kejelasan akad, serta menghindari praktik riba. Bagi sebagian peserta, prinsip tersebut menjadi salah satu alasan munculnya rasa percaya dalam menggunakan layanan keuangan syariah.
Ketahanan Bangsa Berawal dari Ketahanan Keluarga
Kapten Kav Hendra Setiawan menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar sosialisasi produk perbankan, melainkan bagian dari upaya membekali personel dengan pengetahuan yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, prajurit tidak hanya dituntut profesional saat menjalankan tugas negara, tetapi juga perlu memiliki kemampuan menjaga stabilitas ekonomi keluarga.
Pesan tersebut mengandung makna yang lebih luas. Ketika keluarga berada dalam kondisi ekonomi yang terencana, prajurit dapat menjalankan tanggung jawabnya dengan lebih fokus dan tenang. Sebaliknya, persoalan finansial yang tidak tertata berpotensi menjadi sumber tekanan yang memengaruhi kehidupan rumah tangga maupun kinerja.
Karena itu, penguatan literasi keuangan layak dipandang sebagai investasi sumber daya manusia, bukan sekadar kegiatan seremonial. Edukasi seperti ini dapat mendorong terbentuknya budaya menabung, membangun aset secara bertahap, serta merencanakan kebutuhan jangka panjang dengan lebih bijaksana.
Pada akhirnya, ketahanan nasional tidak hanya dibangun melalui kekuatan pertahanan, tetapi juga melalui keluarga-keluarga yang tangguh secara ekonomi.
Seragam loreng memang melambangkan kesiapan menjaga kedaulatan negara. Namun, di balik itu, ketahanan sejati juga lahir dari rumah yang ekonominya terkelola dengan baik. Sebab prajurit yang kuat bukan hanya mampu menghadapi medan tugas, melainkan juga mampu memastikan keluarganya tetap berdiri kokoh menghadapi tantangan masa depan. (GZ)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar