Dari 1947 hingga Merdeka, Begini Evolusi Kurikulum Indonesia
- account_circle redaktur
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

Infografis perjalanan sejarah kurikulum Indonesia dari Rentjana Pelajaran 1947 hingga Kurikulum Merdeka yang dirilis Puslapdik Kemendikdasmen RI.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HUMANIORA — Bagi banyak orang Indonesia, pergantian kurikulum sering menjadi penanda sebuah generasi. Ada yang masih mengingat sistem caturwulan pada era 1990-an, ada yang tumbuh bersama istilah CBSA, ada pula yang akrab dengan Kurikulum 2013 dan proyek P5 dalam Kurikulum Merdeka. Meski berbeda nama dan pendekatan, perjalanan panjang Sejarah Kurikulum Indonesia ternyata mengarah pada tujuan yang sama: membentuk generasi yang lebih siap menghadapi zamannya.
Berdasarkan data yang dirilis Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI, Indonesia telah mengalami 11 kali pergantian kurikulum sejak masa awal kemerdekaan hingga era Kurikulum Merdeka saat ini.
Perubahan tersebut bukan sekadar pergantian nama. Setiap kurikulum lahir dari kebutuhan zaman yang berbeda, mulai dari membangun karakter bangsa pascakemerdekaan hingga menyiapkan generasi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan dunia kerja modern.
Istilah kurikulum sendiri berasal dari bahasa Latin, curriculae, yang berarti jarak tempuh. Dalam dunia pendidikan, istilah itu merujuk pada rangkaian pengalaman belajar yang harus dilalui siswa untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Dari Semangat Kemerdekaan ke Pembentukan Karakter Bangsa
Perjalanan kurikulum nasional dimulai melalui Rentjana Pelajaran 1947, kurikulum pertama setelah Indonesia merdeka.
Pada masa itu, fokus pendidikan belum tertuju pada capaian akademik semata. Pemerintah lebih menekankan pembentukan karakter, kesadaran berbangsa, serta penguatan nilai-nilai Pancasila.
Situasi Indonesia yang masih berjuang membangun identitas sebagai negara merdeka membuat sekolah menjadi ruang penting untuk menanamkan rasa kebangsaan.
Kemudian lahir Rentjana Pelajaran Terurai 1952 yang mulai merinci silabus setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari agar siswa mampu memahami realitas di sekitarnya.
Memasuki dekade 1960-an, pemerintah memperkenalkan Kurikulum 1964 melalui konsep Pancawardhana yang menekankan pengembangan moral, kecerdasan, emosional, keterampilan, dan jasmani.
Tidak lama kemudian, Kurikulum 1968 hadir dengan orientasi membentuk manusia Pancasila yang kuat secara fisik, berpengetahuan, dan memiliki karakter kebangsaan yang kokoh.
Saat Siswa Mulai Menjadi Pusat Pembelajaran
Seiring perkembangan zaman, pendekatan pendidikan Indonesia terus berubah.
Melalui Kurikulum 1975, proses belajar mulai disusun secara lebih sistematis dan terukur. Guru mengenal konsep satuan pelajaran yang memuat tujuan pembelajaran, materi, metode, hingga evaluasi.
Namun perubahan besar terjadi pada Kurikulum 1984.
Saat itu, siswa tidak lagi hanya mendengarkan penjelasan guru. Melalui pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), peserta didik mulai terlibat lebih aktif dalam proses pembelajaran.
Bagi sebagian generasi sekolah era 1980-an dan 1990-an, istilah CBSA bahkan masih melekat hingga sekarang.
Selanjutnya, Kurikulum 1994 mencoba memadukan pendekatan kurikulum sebelumnya. Di sisi lain, kurikulum ini dikenal dengan materi yang cukup padat dan penggunaan sistem caturwulan yang pernah menjadi bagian dari kehidupan sekolah jutaan siswa Indonesia.
Dari Kompetensi Hingga Kurikulum Merdeka
Memasuki awal tahun 2000-an, dunia pendidikan mulai menghadapi tantangan baru.
Karena itu, pemerintah meluncurkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004. Kurikulum ini mendorong siswa mengembangkan kemampuan, keterampilan, dan sikap secara lebih seimbang.
Selanjutnya hadir Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 yang memberikan ruang lebih luas kepada sekolah untuk menyusun pembelajaran sesuai karakteristik daerah masing-masing.
Beberapa tahun kemudian, Kurikulum 2013 (K-13) memperkenalkan pendekatan ilmiah melalui proses mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengomunikasikan.
Kemudian lahirlah Kurikulum Merdeka, yang saat ini menjadi sistem pembelajaran nasional.
Berbeda dengan kurikulum sebelumnya, Kurikulum Merdeka menekankan pembelajaran yang lebih fleksibel, berpusat pada siswa, dan memberi ruang lebih besar bagi pengembangan minat serta bakat peserta didik.
Selain itu, penguatan karakter melalui Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) menjadi salah satu ciri utama yang membedakannya.
Yang Berubah Metodenya, Bukan Tujuannya
Jika diperhatikan, setiap kurikulum memiliki warna yang berbeda.
Ada yang menitikberatkan pembentukan karakter. Ada yang fokus pada kompetensi. Dan ada pula yang memberi keleluasaan lebih besar kepada sekolah dan siswa.
Namun satu hal tidak pernah berubah.
Selama hampir delapan dekade, seluruh perubahan kurikulum selalu berangkat dari tujuan yang sama, yakni meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Karena itu, pergantian kurikulum sebenarnya bukan sekadar perubahan buku pelajaran atau istilah pendidikan. Pergantian tersebut mencerminkan upaya bangsa ini untuk terus menyesuaikan pendidikan dengan kebutuhan generasinya.
Dari ruang kelas sederhana pada awal kemerdekaan hingga pembelajaran berbasis teknologi digital saat ini, pendidikan Indonesia terus bergerak mengikuti perkembangan zaman.
Meski demikian, cita-cita yang diperjuangkan tetap sama: mencerdaskan kehidupan bangsa dan menyiapkan generasi yang mampu menghadapi masa depan dengan lebih baik.
Kurikulum boleh berubah sebelas kali, tetapi satu hal tetap bertahan sejak Indonesia merdeka: keyakinan bahwa masa depan bangsa selalu dimulai dari ruang kelas. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar