Mengapa Muharram Sering Berlalu Tanpa Perubahan?
- account_circle redaktur
- calendar_month 12 jam yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

Para santri membaca Al-Qur'an di sebuah madrasah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Menjelang Muharram, suasana masjid di berbagai kampung kembali hidup. Anak-anak berlatih pawai obor, pengajian Tahun Baru Islam digelar, dan ucapan selamat Muharram memenuhi media sosial. Namun di balik semarak tersebut, ada satu pertanyaan yang jarang dibahas: mengapa banyak orang gagal memanfaatkan Muharram sebagai momentum perubahan?
Padahal makna hijrah, pesan hijrah, dan sejarah hijrah merupakan inti dari Tahun Baru Islam. Ironisnya, banyak orang merayakan Muharram setiap tahun, tetapi tetap mengulang kebiasaan yang sama. Kalender berubah. Angka tahun bertambah. Namun hidup berjalan di tempat.
Jawabannya ternyata bisa ditemukan dalam sejarah hijrah Nabi Muhammad SAW.
Muharram Sering Dirayakan, Tetapi Jarang Dimaknai
Di banyak daerah, malam 1 Muharram berlangsung meriah. Lampu masjid menyala hingga larut malam. Warga berkumpul mengikuti pengajian. Anak-anak berjalan membawa obor menyusuri jalan kampung.
Pemandangan itu indah.
Namun sering kali Muharram berhenti sebagai perayaan.
Banyak orang mengingat tanggalnya, tetapi melupakan pesannya.
Padahal para sahabat tidak memilih peristiwa kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai awal kalender Islam. Mereka juga tidak memilih turunnya wahyu pertama. Sebaliknya, mereka memilih peristiwa hijrah sebagai titik awal penanggalan Islam.
Keputusan itu bukan tanpa alasan.
Hijrah merupakan simbol perubahan besar yang lahir dari keimanan, pengorbanan, dan keberanian meninggalkan zona nyaman.
Sejarah Hijrah Mengajarkan Bahwa Perubahan Tidak Instan
Salah satu kesalahan terbesar manusia adalah menginginkan perubahan tanpa proses.
Padahal sejarah hijrah Nabi Muhammad SAW menunjukkan hal yang berbeda.
Sebelum hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW menghadapi berbagai ujian. Beliau dicaci, diusir, bahkan menghadapi ancaman pembunuhan dari kaum Quraisy.
Allah SWT berfirman:
“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizalimi, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia.” (QS. An-Nahl: 41)
Ayat ini menunjukkan bahwa hijrah bukan jalan yang mudah.
Karena itu, banyak orang gagal memanfaatkan Muharram karena mereka menginginkan hasil tanpa perjuangan. Mereka ingin hidup berubah dalam semalam, padahal perubahan sejati membutuhkan kesabaran dan konsistensi.
Banyak Orang Mengganti Target, Bukan Mengganti Diri
Muharram sering identik dengan resolusi.
Ada yang ingin lebih sukses dalam usaha. Ada yang ingin memiliki pekerjaan lebih baik. Dan ada pula yang ingin mencapai target-target duniawi lainnya.
Semua itu tidak salah.
Namun sejarah hijrah mengajarkan bahwa perubahan pertama bukan terletak pada target, melainkan pada diri sendiri.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini sering dikutip. Akan tetapi, tidak semua orang benar-benar mengamalkannya.
Banyak orang ingin hasil berbeda, tetapi tetap mempertahankan kebiasaan lama.
Mereka berharap hidup berubah, tetapi enggan memperbaiki salat.
Dan mereka ingin hati tenang, tetapi masih memelihara dendam.
Serta mereka ingin rezeki berkah, tetapi masih mengabaikan kejujuran.
Di sinilah letak kegagalan yang paling sering terjadi.
Muharram Bukan Tentang Pindah Tempat, Tetapi Pindah Hati
Ketika mendengar kata hijrah, sebagian orang langsung membayangkan perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain.
Padahal makna hijrah jauh lebih luas.
Rasulullah SAW bersabda:
“Seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari)
Hadis ini memberikan perspektif yang sangat penting.
Hijrah bukan hanya soal ke mana seseorang pergi.
Hijrah adalah tentang apa yang ia tinggalkan.
Meninggalkan kemalasan.
Meninggalkan kebiasaan buruk.
Dan meninggalkan maksiat yang selama ini dianggap biasa.
Karena itu, Muharram menjadi momentum yang tepat untuk bertanya kepada diri sendiri:
Apa yang harus saya tinggalkan agar hidup saya menjadi lebih baik?
Pelajaran dari Kampung yang Sering Terlupakan
Di sebuah kampung di Tasikmalaya, seorang jamaah lanjut usia terlihat duduk di serambi masjid setelah pengajian Muharram selesai. Ketika warga mulai pulang, ia masih duduk memandangi halaman masjid yang mulai sepi.
“Lima belas tahun lalu saya ikut pengajian Muharram di tempat yang sama,” katanya pelan.
“Saat itu saya berjanji akan lebih rajin ke masjid. Alhamdulillah, sampai sekarang saya masih berusaha menjaganya.”
Kalimat itu sederhana.
Namun justru di situlah makna hijrah yang sesungguhnya.
Bukan perubahan yang heboh.
Bukan perubahan yang viral.
Melainkan perubahan kecil yang terus dijaga bertahun-tahun.
Muharram Adalah Kesempatan, Bukan Sekadar Perayaan
Muharram datang setiap tahun.
Namun tidak semua orang memperoleh manfaat yang sama.
Sebagian hanya melihat pergantian tanggal.
Sebagian sibuk membuat resolusi yang akhirnya terlupakan.
Sementara itu, sebagian lainnya menjadikan Muharram sebagai titik awal memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.
Karena itu, amalan terbaik di bulan Muharram bukan hanya puasa, sedekah, atau membaca Al-Qur’an. Semua amalan tersebut sangat penting. Namun yang lebih penting adalah menjadikan Muharram sebagai awal perubahan yang benar-benar bertahan.
Ketika lampu masjid mulai dipadamkan malam itu, satu per satu warga pulang ke rumah masing-masing. Jalan kampung kembali sepi. Namun pertanyaan tentang hijrah seolah masih tertinggal di kepala mereka: apakah Muharram tahun ini hanya akan menjadi perayaan tahunan, atau benar-benar menjadi awal perubahan yang selama ini ditunda?
Muharram tidak meminta kita menjadi manusia sempurna dalam satu malam. Muharram hanya meminta satu langkah pertama. Sebab sejarah hijrah mengajarkan satu hal yang sering dilupakan: Allah tidak menilai seberapa cepat kita berubah, tetapi seberapa sungguh-sungguh kita berjalan menuju-Nya. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar