Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Jawaban Soal Islam dan Pancasila Ternyata Ada di Halaman Sekolah Dasar

Jawaban Soal Islam dan Pancasila Ternyata Ada di Halaman Sekolah Dasar

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • visibility 3
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, OPINI – Pada suatu Senin pagi, barisan siswa sekolah dasar berdiri menghadap tiang bendera.

Seorang anak laki-laki mengenakan peci hitam yang sesekali ia betulkan karena miring tertiup angin. Di sampingnya, seorang siswi berkerudung putih berdiri tegak meski tali sepatu kirinya tampak belum terikat sempurna.

Di barisan belakang, beberapa siswa terlihat masih mengantuk. Ada yang beberapa kali menguap. Ada pula yang sesekali melirik temannya sebelum lagu Indonesia Raya selesai dinyanyikan.

Pemandangan itu biasa.

Sangat biasa.

Namun justru dari hal-hal sederhana seperti itulah kadang jawaban atas perdebatan panjang orang dewasa muncul tanpa banyak kata.

Karena pagi itu tidak ada yang sedang memperdebatkan hubungan Islam dan Pancasila.

Mereka hanya menjalani hari seperti biasa.

Dan mungkin di situlah letak pelajaran yang sering terlewat.

Ketika Orang Dewasa Berdebat, Anak-Anak Sibuk Bertumbuh

Di media sosial, perdebatan tentang Islam dan Pancasila sesekali kembali muncul.

Ada yang menulis panjang.

Ada yang membuat video.

Serta ada yang menyusun argumen berlapis-lapis.

Kadang diskusinya sehat.

Kadang juga berubah menjadi saling curiga.

Namun jika kita berjalan sebentar ke halaman sekolah dasar, suasananya terasa berbeda.

Anak-anak tampaknya tidak terlalu memikirkan persoalan itu.

Pagi hari mereka mengikuti upacara.

Siang hari mereka belajar matematika.

Sore hari mereka mengaji.

Besoknya mereka mengulang lagi rutinitas yang hampir sama.

Mereka tidak pernah bertanya:

“Kalau saya belajar Pancasila, apakah saya kurang Islami?”

Mereka juga tidak bertanya:

“Kalau saya menghafal surat pendek, apakah saya kurang cinta Indonesia?”

Yang mereka pikirkan biasanya jauh lebih sederhana.

Ulangan besok.

Tugas yang belum selesai.

Atau jajanan yang ingin dibeli saat istirahat.

Dalil yang Sudah Dipraktikkan Sebelum Dihafalkan

Islam mengajarkan persaudaraan.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Islam juga mengajarkan tolong-menolong.

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Maidah: 2)

Menariknya, anak-anak sering mempraktikkan ayat-ayat itu sebelum mampu menjelaskan maknanya secara panjang lebar.

Ketika temannya jatuh, mereka membantu.

Ketika ada yang lupa membawa penghapus, mereka meminjamkan.

Bahkan ketika kelas mendapat tugas membersihkan halaman, mereka bekerja bersama-sama meski sesekali masih bercanda dan saling menyiram air.

Bukankah semangat seperti itu juga hidup dalam nilai kemanusiaan, persatuan, dan gotong royong yang terkandung dalam Pancasila?

Kehidupan Anak-Anak Tidak Selalu Rapi

Kadang orang dewasa berharap semuanya berjalan sempurna.

Padahal kehidupan anak-anak tidak pernah benar-benar serapi itu.

Tidak semua anak langsung hafal lima sila Pancasila.

Tidak semua pula lancar membaca Al-Qur’an.

Ada yang masih terbata-bata saat membaca.

Ada yang lupa urutan sila ketiga dan keempat.

Dan ada juga yang salah saat mengikuti gerakan upacara.

Namun mereka terus belajar.

Sedikit demi sedikit.

Hari demi hari.

Dan mungkin proses itulah yang lebih penting daripada sekadar hafalan.

Karena karakter tidak tumbuh dalam satu malam.

Ia tumbuh dari kebiasaan yang diulang terus-menerus.

Dunia Nyata Tidak Seramai Kolom Komentar

Saat jam istirahat tiba, perdebatan tentang ideologi tentu tidak terdengar di kantin sekolah.

Yang ramai justru obrolan soal jajanan favorit, tugas yang belum dikerjakan, pertandingan sepak bola antarkelas, atau rencana bermain setelah pulang sekolah.

Anak-anak tetap bermain bersama.

Mereka tidak terlalu peduli organisasi apa yang diikuti orang tuanya.

Mereka tidak bertanya partai politik mana yang dipilih keluarganya.

Dan mereka hanya tahu bahwa hari ini mereka berteman.

Dan besok kemungkinan besar mereka tetap berteman.

Kadang dunia nyata memang jauh lebih tenang dibanding kolom komentar media sosial.

Tantangan Baru di Era Digital

Ada satu kenyataan yang juga perlu diakui.

Sebagian anak zaman sekarang mungkin lebih cepat mengenali logo aplikasi gim di ponselnya dibanding lambang Garuda Pancasila.

Mereka mungkin lebih hafal karakter dalam permainan digital dibanding nama para pahlawan nasional.

Namun menyalahkan anak-anak tentu bukan solusi.

Tugas orang dewasa bukan mengeluh.

Tugas orang dewasa adalah mengenalkan keduanya secara seimbang.

Mengenalkan teknologi tanpa kehilangan nilai.

Mengenalkan masa depan tanpa melupakan jati diri.

Karena pada akhirnya, anak-anak akan belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari, bukan hanya dari apa yang mereka dengar.

Mungkin Bangsa Ini Perlu Belajar Lagi dari Anak-Anak

Jika diperhatikan baik-baik, anak-anak sering menunjukkan sesuatu yang sederhana tetapi penting.

Mereka bisa menghafal Al-Fatihah pada pagi hari.

Lalu beberapa jam kemudian berdiri hormat kepada Merah Putih dengan penuh semangat.

Mereka tidak melihat Islam dan Pancasila sebagai dua kubu yang saling berhadapan.

Mereka menjalani keduanya secara alami.

Tanpa curiga.

Tanpa prasangka.

Dan tanpa kegaduhan.

Mungkin yang sering bertengkar bukan Islam dan Pancasila. Yang sering bertengkar adalah cara sebagian orang dewasa memandang keduanya. Sebab di halaman sekolah, seorang anak masih bisa mengaji sore hari, menghormat bendera Senin pagi, berbagi bekal dengan temannya saat istirahat, lalu pulang ke rumah dengan bahagia. Dan mungkin, di situlah Indonesia yang sesungguhnya masih terus tumbuh.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Penulis: Diki Samani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • perlindungan hukum wartawan

    Perlindungan Hukum Wartawan Jadi Kunci Demokrasi

    • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 71
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Tekanan terhadap kebebasan pers tidak selalu datang dalam bentuk kekerasan fisik. Bagi banyak wartawan, ancaman itu hadir melalui panggilan klarifikasi, somasi, hingga laporan polisi setelah sebuah berita terbit. Kondisi tersebut menggambarkan realitas bahwa perlindungan hukum wartawan di Indonesia masih jauh dari kata aman. Seorang rekan wartawan di daerah menceritakan pengalamannya ketika […]

  • Ilustrasi Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam peristiwa pengorbanan yang penuh keikhlasan kepada Allah SWT

    Kisah Nabi Ismail: Ujian Pengorbanan yang Menggetarkan Langit

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 63
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Tidak semua ujian datang dalam bentuk kehilangan harta. Kadang, Allah menguji manusia melalui sesuatu yang paling dicintainya. Kisah Nabi Ismail menjadi bukti bagaimana iman, cinta, dan pengorbanan bertemu dalam satu peristiwa yang membuat langit dan bumi menjadi saksi. Hingga hari ini, kisah pengorbanan Nabi Ismail masih terus dikenang jutaan umat Islam di […]

  • Sistem SIMT Puspresnas terintegrasi dengan Beasiswa Talenta Indonesia untuk membuka jalur kuliah unggul bagi pelajar berprestasi

    Prestasi Nasional Kini Terhubung ke Beasiswa Kuliah Unggul

    • calendar_month Selasa, 3 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 77
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Selama bertahun-tahun, prestasi pelajar Indonesia sering berakhir sebagai arsip. Piagam tersimpan rapi, medali berdebu, lalu cerita berhenti di sana. Namun mulai 2026, pola itu berubah. Pemerintah menghadirkan jalur baru yang lebih konkret melalui integrasi SIMT dengan Beasiswa Talenta Indonesia. Kini, prestasi tidak hanya diapresiasi. Prestasi dipakai. Dan lebih dari itu, prestasi menjadi […]

  • Menteri Kebudayaan Thailand

    Arah Baru Menteri Kebudayaan Thailand

    • calendar_month Kamis, 1 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 105
    • 0Komentar

    Arah kebijakan Menteri Kebudayaan Thailand menempatkan budaya sebagai penggerak ekonomi dan identitas publik. albadarpost.com, BERITA DUNIA – Pagi itu, Sabida Thaiseth melangkah ke kantor Kementerian Kebudayaan Thailand dengan iringan doa. Tidak ada pidato panjang. Tidak pula selebrasi berlebihan. Namun sejak 19 September 2025, langkah itu menandai babak baru arah kebijakan kebudayaan Thailand—lebih dekat ke ekonomi, […]

  • Suasana haru pelepasan jamaah haji Tasikmalaya di Gedung Dakwah Islamiyah, Selasa (5/5/2026).

    441 Jamaah Haji Berangkat, Suasana Haru Selimuti Tasikmalaya

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 46
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Jamaah Haji Tasikmalaya resmi diberangkatkan menuju Tanah Suci. Sebanyak 441 orang dari Kloter 20KJT dilepas dalam suasana haru yang tak terbendung, Selasa pagi (5/5/2026). Sejak matahari belum tinggi, keluarga sudah memadati area Gedung Dakwah Islamiyah. Sebagian berdiri rapat di pinggir jalan. Sebagian lagi duduk sambil menggenggam tas kecil milik orang yang […]

  • pemulihan hutan

    Pemprov Jabar Libatkan Warga dalam Pemulihan Hutan Berbayar

    • calendar_month Selasa, 2 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 48
    • 0Komentar

    Pemprov Jawa Barat libatkan warga dalam pemulihan hutan rusak, bayar Rp 50.000 per hari untuk perawatan pohon. Pemprov Jabar Libatkan Warga untuk Pemulihan Hutan albadarpost.com, HUMANIORA – Pemerintah Provinsi Jawa Barat memutuskan melibatkan masyarakat sebagai tenaga utama pemulihan hutan yang rusak. Mulai Desember 2025, setiap warga yang bekerja menanam dan merawat pohon akan menerima upah […]

expand_less