Idul Fitri vs Idul Adha, Mana Lebih Agung? Ini Penjelasannya
- account_circle redaktur
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi suasana merayakan Idul Adha dengan nuansa kebersamaan keluarga.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
aaalbadarpost.com, HIKMAH – Malam takbiran di banyak kampung di Indonesia hampir selalu punya pola yang sama. Jalanan mendadak padat. Anak-anak berlarian membawa obor. Panci dipukul seadanya. Di teras rumah, sebagian ibu masih sibuk mengaduk opor sambil sesekali mengecek rendang yang belum benar-benar matang.
Televisi tetap menyala meski tak ada yang benar-benar menonton.
Sementara dari kejauhan, suara takbir kadang terdengar bertumpuk dengan deru motor para pemudik yang baru tiba menjelang dini hari.
Suasana seperti itu jauh lebih sering terlihat saat Idul Fitri dibanding Idul Adha. Karena itu muncul pertanyaan yang diam-diam sering dibicarakan banyak orang: kenapa Idul Fitri terasa lebih meriah, padahal dalam Islam Idul Adha justru disebut sangat agung?
Pertanyaan itu tidak sepenuhnya keliru. Sebab secara sosial, Idul Fitri memang berubah menjadi momentum besar yang melibatkan hampir seluruh lapisan masyarakat.
Ada mudik. Ada THR. Dan ada baju baru. Serta ada tradisi saling mengunjungi.
Dan ada kerinduan yang menumpuk selama setahun.
Lebaran Menjadi Perayaan Emosional Kolektif
Selama Ramadan, umat Islam menjalani ritme yang hampir seragam. Bangun dini hari untuk sahur. Menunggu azan magrib. Tarawih hingga malam. Bahkan orang yang biasanya jarang ke masjid pun perlahan ikut terbawa suasana.
Selama sebulan penuh masyarakat bergerak dalam frekuensi yang sama.
Karena itu ketika Idul Fitri datang, ledakan emosinya terasa besar.
Allah SWT berfirman:
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.”
(QS Al-Baqarah: 185)
Ayat itu menjadi dasar mengapa Idul Fitri dipenuhi rasa syukur dan kegembiraan.
Di banyak daerah, gema takbir bahkan sudah terdengar sejak sore terakhir Ramadan. Sebagian anak kecil memegang plastik berisi petasan. Sementara para bapak mulai menggelar tikar di depan musala untuk ronda malam takbiran.
Kadang sederhana. Tapi hangat.
Idul Fitri akhirnya bukan hanya hari raya agama. Ia menjelma menjadi ruang pulang bagi emosi manusia.
Idul Adha Datang dengan Suasana yang Berbeda
Sedangkan Idul Adha tidak lahir dari suasana euforia panjang seperti Ramadan.
Hari raya kurban justru hadir dengan nuansa yang lebih tenang. Bahkan kadang terasa sunyi.
Pagi-pagi sekali, suara kambing mulai terdengar dari halaman masjid. Di beberapa tempat, warga sudah berkumpul sambil membawa golok, tali tambang, atau kantong kresek besar untuk membagikan daging kurban.
Tidak banyak pesta.
Tidak banyak gemerlap.
Tetapi ada sesuatu yang terasa lebih dalam.
Idul Adha membawa kisah besar tentang Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Tentang seseorang yang diminta menyerahkan hal paling dicintainya demi Allah SWT.
Dan itu bukan ujian kecil.
Allah SWT berfirman:
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
(QS As-Saffat: 102)
Di titik itulah Idul Adha sebenarnya berbicara tentang sesuatu yang jarang disukai manusia modern: pengorbanan.
Bukan keramaian. Bukan pesta.
Pengorbanan.
Islam Justru Menyebut Idul Adha Sangat Agung
Yang menarik, banyak orang mengira Idul Fitri lebih utama karena perayaannya lebih besar. Padahal dalam beberapa hadis, Rasulullah SAW justru menyebut hari Idul Adha sebagai hari yang sangat agung.
Rasulullah SAW bersabda:
“Hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari Nahr (Idul Adha), kemudian hari qarr.”
(HR Abu Dawud)
Hari Nahr adalah 10 Dzulhijjah, hari penyembelihan kurban.
Selain itu, 10 hari pertama Dzulhijjah juga disebut sebagai hari-hari terbaik untuk beramal saleh.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah melebihi hari-hari ini.”
(HR Bukhari)
Namun mungkin memang begitulah manusia.
Kita lebih mudah berkumpul dalam suasana kemenangan daripada suasana pengorbanan.
Lebaran membuat orang ingin pulang. Sedangkan Idul Adha membuat orang seharusnya belajar melepaskan.
Dan melepaskan—kadang—tidak pernah mudah.
Keramaian Tidak Selalu Menentukan Kemuliaan
Islam tidak pernah mengukur kemuliaan berdasarkan seberapa ramai sebuah perayaan.
Sesuatu yang sunyi justru bisa lebih dekat kepada Allah.
Idul Fitri mengajarkan rasa syukur setelah menahan lapar dan hawa nafsu. Sedangkan Idul Adha mengajarkan ketundukan total, bahkan ketika yang diminta untuk dikorbankan adalah sesuatu yang paling dicintai.
Karena itu keduanya tidak layak dipertentangkan.
Mereka hanya berbicara kepada sisi manusia yang berbeda.
Idul Fitri ramai di jalanan, terminal, dan pusat perbelanjaan. Tetapi Idul Adha sering bekerja diam-diam di dalam dada manusia. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar