Idul Adha Kini Makin Ramai, Tapi Makna Kurban Justru Mulai Sepi
- account_circle redaktur
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 9
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi warga dan panitia masjid membagikan daging kurban.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, LIFESTYLE – Menjelang Idul Adha, pembicaraan tentang makna kurban, ibadah kurban, dan hewan kurban kembali ramai di tengah masyarakat. Namun di balik semarak itu, ada sesuatu yang perlahan berubah. Banyak orang kini lebih fokus pada harga sapi, ukuran hewan, hingga unggahan media sosial dibanding memahami pesan keikhlasan dan pengorbanan yang menjadi inti kurban dalam Islam.
Fenomena itu terasa semakin nyata dalam beberapa tahun terakhir. Di sejumlah tempat, pembahasan tentang kurban sering bergeser menjadi ajang gengsi sosial. Orang berlomba membeli sapi terbesar, lalu memamerkannya di media sosial. Sementara itu, nilai empati dan kebersamaan yang dulu sangat terasa saat Idul Adha justru mulai memudar.
Padahal sejak awal, kurban bukan tentang siapa yang paling kaya.
Kurban adalah tentang siapa yang paling tulus saat memberi.
Kurban Berawal dari Ketundukan Nabi Ibrahim
Dalam sejarah Islam, ibadah kurban lahir dari kisah besar Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Ketika Allah SWT memberi perintah melalui mimpi agar Nabi Ibrahim menyembelih anaknya sendiri, beliau tidak membantah.
Begitu pula Nabi Ismail AS.
Keduanya menunjukkan ketundukan luar biasa kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ash-Shaffat ayat 102:
“Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”
Lalu Nabi Ismail menjawab:
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Dari kisah itulah umat Islam belajar bahwa kurban sejatinya merupakan simbol keimanan, ketulusan, dan kesediaan mengorbankan sesuatu yang dicintai demi ketaatan kepada Allah SWT.
Karena itu, esensi Idul Adha tidak pernah berhenti pada penyembelihan hewan semata.
Ketika Media Sosial Mengubah Cara Pandang tentang Kurban
Perubahan zaman membuat suasana Idul Adha ikut berubah. Hari ini, media sosial sering menjadi panggung utama dalam banyak aktivitas, termasuk saat kurban.
Ada yang sibuk mengatur angle kamera sebelum sapi dipotong, sementara sebagian panitia lain masih berkeringat membagikan kupon warga. Bahkan ada yang lebih fokus mencari konten viral dibanding membantu proses pembagian daging kepada warga sekitar.
Akibatnya, makna kurban perlahan bergeser menjadi simbol pencitraan.
Padahal Rasulullah SAW mengingatkan bahwa Allah tidak melihat kemewahan hewan kurban, melainkan ketakwaan hambanya.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 37:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai ridha Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”
Ayat tersebut menjadi pengingat penting bahwa ukuran sapi dan harga kambing tidak menentukan nilai ibadah seseorang.
Yang menentukan justru hati dan niatnya.
Dulu Idul Adha Terasa Lebih Hangat
Banyak orang masih ingat suasana Idul Adha di kampung pada masa lalu. Setelah salat Id, warga berkumpul di halaman masjid. Suara takbir bercampur dengan obrolan sederhana antarwarga.
Anak-anak kecil berlarian sambil membawa kantong kresek, sesekali mengintip isi daging kurban dengan wajah penuh penasaran.
Aroma gulai dari dapur warga seperti menjadi tanda bahwa kebersamaan benar-benar hidup.
Kini suasana itu mulai berkurang di sebagian tempat.
Kesibukan digital membuat interaksi sosial perlahan berubah. Bahkan tidak sedikit orang memilih datang hanya saat pembagian daging dimulai.
Padahal Idul Adha bukan hanya tentang menerima bagian kurban.
Tetapi juga tentang memperkuat kepedulian terhadap sesama.
Kurban Mengajarkan Manusia Melawan Ego
Salah satu pelajaran terbesar dalam ibadah kurban adalah kemampuan manusia menahan rasa cinta berlebihan terhadap dunia.
Tidak semua orang mudah mengeluarkan harta terbaiknya untuk orang lain. Karena itu, Islam menjadikan kurban sebagai latihan spiritual agar manusia belajar ikhlas dan tidak terlalu terikat pada materi.
Selain itu, kurban juga mengajarkan bahwa rezeki bukan untuk dinikmati sendiri.
Ada hak tetangga, fakir miskin, dan orang-orang yang jarang menikmati makanan layak.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa memiliki kelapangan rezeki tetapi tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami.” (HR Ibnu Majah)
Hadis tersebut menunjukkan betapa besar perhatian Islam terhadap ibadah kurban dan kepedulian sosial.
Idul Adha Seharusnya Menghidupkan Empati
Di tengah kondisi ekonomi yang tidak selalu mudah, semangat berbagi justru semakin penting dijaga. Kurban bukan sekadar tradisi tahunan atau agenda seremonial.
Lebih dari itu, Idul Adha adalah momentum untuk menghidupkan empati, memperkuat solidaritas, dan mengingatkan manusia agar tidak diperbudak gengsi sosial.
Karena pada akhirnya, orang tidak akan dikenang karena ukuran sapi yang dibeli.
Tetapi karena ketulusan hati saat berbagi kepada sesama.
Allah tidak pernah meminta manusia menunjukkan siapa yang paling mewah saat Idul Adha.
Allah hanya ingin melihat siapa yang masih punya hati untuk ikhlas berbagi di tengah dunia yang makin sibuk dipenuhi pencitraan. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar