Breaking News
light_mode
Beranda » Cakrawala » Tradisi Pesantren Ini Dulu Sangat Dijaga, Kini Mulai Hilang

Tradisi Pesantren Ini Dulu Sangat Dijaga, Kini Mulai Hilang

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 7
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, CAKRAWALA – Malam di pesantren dulu punya suara yang khas.

Ada bunyi sandal kayu di lorong asrama. Ada suara santri mengulang hafalan pelan-pelan di bawah lampu redup. Dari kejauhan terdengar lembar kitab dibalik cepat, lalu disusul batuk kecil para santri yang masih bertahan mengaji hingga larut malam.

Tradisi pesantren seperti itu pernah menjadi bagian penting dalam sejarah Indonesia. Bahkan, budaya santri ikut membentuk cara berpikir masyarakat Nusantara selama ratusan tahun. Namun sekarang, beberapa tradisi lama mulai jarang terlihat, terutama di tengah perubahan zaman dan arus digital yang bergerak cepat.

Padahal, pesantren bukan hanya tempat belajar agama. Di dalamnya tumbuh budaya hidup sederhana, disiplin, dan penghormatan kepada ilmu yang dulu sangat dijaga.

Pesantren Pernah Menjadi Pusat Perlawanan dan Pendidikan

Dalam sejarah Indonesia, pesantren punya peran yang jauh lebih besar dari sekadar lembaga pendidikan.

Pada masa penjajahan Belanda, banyak pesantren menjadi pusat pergerakan masyarakat. Para kiai tidak hanya mengajarkan fikih dan tafsir, tetapi juga menanamkan keberanian melawan penjajahan.

Data Kementerian Agama menunjukkan pesantren sudah berkembang di Nusantara sejak abad ke-15. Sementara itu, catatan sejarah mencatat banyak tokoh perlawanan lahir dari lingkungan santri, termasuk dalam Resolusi Jihad 1945 yang mendorong perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Karena itu, tradisi pesantren sebenarnya melekat kuat dengan sejarah bangsa.

Namun ironisnya, sebagian generasi muda sekarang lebih mengenal budaya digital dibanding tradisi santri yang dulu sangat dihormati.

Tradisi “Ngaji Pasaran” yang Mulai Jarang Diminati

Salah satu tradisi pesantren yang mulai memudar adalah ngaji pasaran.

Tradisi ini biasanya berlangsung saat Ramadan. Santri duduk berjam-jam mendengarkan kiai membacakan kitab klasik secara maraton. Suasananya sederhana. Kadang panas. Kadang mengantuk. Tetapi justru di situlah letak nilai perjuangannya.

Dulu, banyak santri rela datang dari luar kota hanya untuk mengikuti pengajian pasaran beberapa minggu.

Sekarang suasananya tak selalu sama lagi. Di sela ngaji, kadang layar ponsel justru lebih terang daripada kitab yang dibaca.

Sebagian anak muda lebih nyaman belajar lewat potongan video singkat di media sosial. Kajian serba cepat memang terasa praktis. Namun proses panjang membaca kitab perlahan mulai ditinggalkan.

Padahal, tradisi pesantren seperti ngaji pasaran melatih kesabaran berpikir dan kedalaman memahami ilmu.

Seorang santri senior di Tasikmalaya pernah bercerita bahwa dulu santri bisa menghabiskan malam tanpa memegang ponsel sama sekali. Mereka duduk melingkar sambil berdiskusi isi kitab hingga menjelang subuh.

Hari ini suasana seperti itu semakin sulit ditemukan.

Budaya Taat dan Hormat kepada Guru Mulai Berubah

Tradisi pesantren juga terkenal karena adabnya.

Santri zaman dulu sangat menjaga sikap di depan guru. Bahkan ada yang memilih berjalan menunduk ketika melewati rumah kiai sebagai bentuk penghormatan.

Nilai seperti itu perlahan mulai bergeser.

Perubahan zaman memang tidak bisa dihindari. Namun banyak pengasuh pesantren mulai mengingatkan bahwa kemajuan teknologi seharusnya tidak menghapus adab dalam mencari ilmu.

Imam Malik pernah berkata:

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.”

Kalimat itu terasa sederhana, tetapi sangat dalam.

Di banyak pesantren tradisional, santri dulu tidak hanya diajarkan cara membaca kitab. Mereka juga belajar cara berbicara, menghormati orang tua, hingga menjaga kesederhanaan hidup.

Karena itu, pesantren sebenarnya membentuk karakter, bukan sekadar kecerdasan akademik.

Hidup Sederhana yang Kini Semakin Langka

Ada satu tradisi pesantren yang dulu sangat kuat: hidup sederhana.

Santri terbiasa tidur berdesakan. Mereka mencuci pakaian sendiri, makan bersama, dan berbagi apa yang dimiliki. Bahkan, banyak pesantren lama memiliki aturan ketat soal kesederhanaan.

Namun gaya hidup modern perlahan mengubah banyak hal.

Sekarang tidak sedikit santri yang tumbuh di tengah budaya serba instan. Akibatnya, nilai tirakat dan kesabaran mulai berkurang.

Padahal, kesederhanaan itulah yang dulu melahirkan banyak ulama besar Indonesia.

Berdasarkan data Education Management Information System (EMIS) Kementerian Agama 2025, Indonesia memiliki lebih dari 39 ribu pesantren dengan jumlah santri mencapai jutaan orang yang tersebar dari Aceh hingga Papua.

Angka itu menunjukkan pesantren tetap hidup dan berkembang.

Namun tantangan terbesarnya hari ini bukan hanya soal jumlah.

Melainkan bagaimana menjaga ruh tradisi pesantren agar tidak hilang ditelan zaman.

Pesantren dan Masa Depan Generasi Muda

Meski beberapa tradisi mulai memudar, pesantren tetap memiliki peluang besar menjadi benteng moral generasi muda.

Di tengah kehidupan digital yang serba cepat, banyak orang justru mulai merindukan suasana yang lebih tenang dan sederhana.

Di saat banyak anak muda lelah dengan kebisingan digital, pesantren justru terasa seperti tempat bernapas pelan-pelan.

Ada kedisiplinan. Ada kebersamaan. Dan ada hubungan dekat antara guru dan murid yang kini mulai sulit ditemukan di banyak tempat.

Karena itu, banyak pengamat pendidikan menilai pesantren tetap relevan untuk masa depan Indonesia, terutama dalam membangun karakter anak muda di era modern.

Bukan berarti pesantren harus menolak teknologi.

Sebaliknya, tradisi lama bisa berjalan berdampingan dengan perkembangan zaman selama nilai dasarnya tetap dijaga.

Mungkin yang mulai hilang hari ini bukan sekadar tradisi pesantren.

Tetapi juga cara manusia menghormati ilmu, menghargai proses, dan menjaga adab dalam kehidupan.

Sebab pesantren sejak dulu tidak hanya melahirkan orang pintar.

Pesantren melahirkan manusia yang tahu bagaimana hidup dengan hati yang sederhana. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • SKCK online

    Polri Terapkan SKCK Online, Warga Bebas Pilih Lokasi Pengambilan

    • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 60
    • 0Komentar

    Layanan SKCK online lewat Super Apps Polri memudahkan pengajuan tanpa mengikuti domisili dan akses lebih praktis. albadarpost.com, LENSA – Masyarakat kini tak lagi bergantung pada kantor polisi untuk mengurus SKCK online. Polri resmi menghadirkan layanan daring melalui aplikasi Super Apps Polri yang memungkinkan pengajuan dokumen secara mandiri dari ponsel. Kebijakan ini menjadi penting karena menekan […]

  • war tiket haji

    Wacana War Tiket Haji Picu Polemik, PBNU Soroti Ancaman Ketimpangan

    • calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 62
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Wacana war tiket haji kembali memicu perdebatan hangat. Sistem ini disebut-sebut bisa menggantikan antrean haji yang selama ini berlangsung puluhan tahun. Namun, di tengah harapan efisiensi, muncul kekhawatiran besar soal keadilan akses ibadah. Belakangan, konsep war tiket haji atau pendaftaran cepat tanpa antrean panjang mulai dibahas sebagai solusi atas panjangnya daftar tunggu. […]

  • stiker keluarga miskin

    Pemda Tempel Stiker Keluarga Miskin untuk Tekan Penerima Bansos Ilegal

    • calendar_month Jumat, 28 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 57
    • 0Komentar

    Inisiatif stiker keluarga miskin jadi strategi daerah menekan penerima bansos tidak tepat sasaran. albadarpost.com, LENSA – Langkah beberapa pemerintah daerah menempel stiker keluarga miskin pada rumah penerima bantuan sosial menjadi sorotan publik. Kebijakan ini bukan perintah Kementerian Sosial, tetapi murni inisiatif daerah untuk menekan jumlah penerima bansos tidak tepat sasaran. Penempelan stiker keluarga miskin dimaksudkan […]

  • Ilustrasi penggunaan inhaler dan obat semprot hidung saat puasa Ramadan beserta penjelasan hukum dalam Islam.

    Hukum Inhaler saat Puasa, Batal atau Tidak?

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 48
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Hukum inhaler saat puasa sering menjadi pertanyaan umat Islam, terutama bagi penderita asma dan gangguan pernapasan. Selain itu, banyak pula yang bertanya tentang hukum obat semprot hidung saat puasa dan apakah penggunaannya membatalkan ibadah Ramadan. Karena itu, penting memahami penjelasan fikih berdasarkan dalil dan pendapat ulama agar tidak ragu dalam beribadah. Puasa […]

  • ikhlas sabar syukur

    Perbedaan Ikhlas, Sabar, dan Syukur dalam Tasawuf

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 58
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Ikhlas, sabar, dan syukur sering disebut dalam ajaran Islam, tetapi banyak orang masih mencampurkan maknanya. Dalam perspektif tasawuf, ketiganya bukan sekadar sikap, melainkan maqam (tingkatan spiritual) yang berbeda. Pemahaman tentang ikhlas sabar syukur ini penting karena akan menentukan kualitas ibadah dan ketenangan batin seseorang. Lebih jauh, tasawuf menjelaskan bahwa perjalanan ruhani tidak […]

  • Ilustrasi ruang kelas modern yang menggambarkan sistem pendidikan Finlandia dan seleksi ketat calon guru

    Kenapa Jadi Guru di Finlandia Sangat Sulit? Ini Rahasianya

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 54
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Bayangkan seorang siswa yang bercita-cita menjadi guru. Ia mendaftar ke universitas terbaik di negaranya dengan harapan bisa masuk jurusan pendidikan. Namun setelah proses seleksi selesai, hasilnya mengejutkan. Dari 100 pelamar, hanya sekitar 10 orang yang diterima. Kisah seperti ini bukan cerita fiksi. Inilah realitas dalam pendidikan Finlandia, salah satu sistem pendidikan terbaik […]

expand_less