Dari 88 ke 462 Penghuni, Lapas Tasikmalaya Hadapi Krisis Ruang
- account_circle redaktur
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pelaksana Harian Kalapas Klas IIB Tasikmalaya, Yadi Suryaman saat dimintai mengenai kapasitas Lapas Kelas IIB Tasikmalaya, Senin(27/4/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Lapas Tasikmalaya over kapasitas bukan sekadar angka di atas kertas. Kondisi yang juga dikenal sebagai kelebihan penghuni lapas dan kepadatan warga binaan ini terlihat nyata di dalam ruang-ruang sempit yang kini menampung jauh lebih banyak orang dari seharusnya.
Di balik dinding Lapas Klas IIB Tasikmalaya, satu ruangan yang idealnya diisi satu orang kini harus dihuni hingga lima orang. Ruang gerak menyempit. Udara terasa lebih berat. Aktivitas sehari-hari pun berlangsung dalam keterbatasan.
Situasi ini mengemuka saat tasyakuran Hari Bakti Pemasyarakatan ke-62 digelar pada Senin (27/4/2026). Acara berlangsung tertib di aula, namun di luar ruangan, persoalan utama tetap membayangi.
Angka yang Tidak Seimbang: 88 Kapasitas, 462 Penghuni
Pelaksana Harian Kepala Lapas, Yadi Suryaman, tidak menutup kondisi tersebut. Ia menyebut jumlah penghuni sudah jauh melampaui batas.
Dari kapasitas resmi 88 orang, jumlah warga binaan saat ini mencapai 462 orang. Artinya, tingkat hunian telah meningkat lebih dari lima kali lipat.
“Kalau tidak dipindahkan, jumlahnya bisa terus naik. Ini sudah tidak manusiawi,” ujarnya.
Lapas ini memiliki 24 kamar, termasuk satu blok khusus perempuan. Penghuni berasal dari wilayah Kota dan Kabupaten Tasikmalaya, dengan dominasi dari kabupaten sekitar 280 orang.
Solusi Sementara: Dipindahkan, Tapi Masalah Tetap Ada
Untuk mengurangi tekanan, pihak lapas mulai memindahkan sebagian narapidana ke lapas lain yang lebih longgar. Namun, langkah ini belum menyentuh akar persoalan.
Pemindahan hanya menggeser kepadatan, bukan menghilangkannya. Selama kapasitas tetap sama, potensi kelebihan penghuni akan terus berulang.
Di sisi lain, kondisi ini juga berdampak pada program pembinaan. Ruang yang terbatas membuat aktivitas tidak berjalan optimal, meski upaya pembinaan tetap dilakukan.
Pemerintah Akui Masalah, Soroti Kelayakan Hidup
Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, mengakui ketimpangan yang terjadi.
Menurutnya, persoalan ini tidak hanya soal angka, tetapi menyangkut kelayakan hidup warga binaan.
“Harusnya puluhan, tapi diisi ratusan. Ini jelas tidak ideal,” ujarnya.
Ia tetap mengapresiasi hasil pembinaan, termasuk produk kopi hasil karya warga binaan yang sudah menjalin kerja sama dengan pihak hotel. Namun, ia menegaskan bahwa persoalan ruang tidak bisa diabaikan.
Lahan Baru Masih Jadi Teka-Teki
Upaya jangka panjang mulai dibahas, termasuk pembangunan lapas baru atau relokasi. Namun hingga kini, kepastian lahan belum juga didapat.
Pemerintah daerah tengah menjajaki beberapa opsi. Salah satunya adalah lahan milik pemerintah di kawasan Tamansari. Meski begitu, rencana tersebut masih dalam tahap pembahasan.
“Kalau ada lahan yang siap, kami dorong. Tinggal bagaimana direalisasikan,” kata Diky.
Risiko yang Mengintai Jika Tidak Segera Ditangani
Kondisi lapas Tasikmalaya over kapasitas berpotensi memicu berbagai masalah serius. Kepadatan tinggi dapat meningkatkan risiko konflik antarwarga binaan, gangguan kesehatan, hingga tekanan psikologis.
Selain itu, kondisi ini juga menyentuh aspek hak asasi manusia. Hunian yang tidak layak berpotensi menimbulkan pelanggaran terhadap standar kemanusiaan.
Jika tidak segera ditangani, persoalan ini dapat berkembang menjadi masalah yang lebih kompleks.
Masalah Lama, Tekanan Semakin Besar
Lapas Klas IIB Tasikmalaya kini menghadapi tekanan yang tidak ringan. Kapasitas yang terbatas berhadapan langsung dengan jumlah penghuni yang terus meningkat.
Langkah pemindahan hanya memberi ruang napas sementara. Tanpa solusi struktural seperti penambahan fasilitas atau pembangunan baru, kondisi ini akan terus berulang.
Di balik tembok tinggi, persoalan ini berjalan perlahan. Tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya nyata. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar