Zuhud atau Malas Berkedok Agama? Ini yang Jarang Berani Dibahas
- account_circle redaktur
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi refleksi, merenung di tengah hiruk pikuk dunia.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
pi albadarpost.com, OPINI – Makna zuhud sering terdengar mulia. Namun dalam praktik, zuhud dalam Islam kerap berubah arah. Banyak yang menyebut hakikat zuhud sebagai hidup sederhana tanpa ambisi. Bahkan, ada yang menjadikannya alasan untuk tidak bergerak.
Pertanyaannya sederhana.
Ini benar zuhud… atau sekadar nyaman tidak berusaha?
Ketika Zuhud Dijadikan Alasan, Bukan Pilihan Sadar
Fenomena ini tidak sulit ditemukan.
Ada yang berkata, “Saya tidak mengejar dunia,” padahal peluang ada di depan mata.
Ada yang menolak berkembang, lalu menamainya “zuhud”.
Sekilas terdengar religius.
Namun jika ditelisik, ada yang janggal.
Tentu tidak semua orang demikian, namun fenomena ini cukup sering terjadi.
Dalam banyak kasus, kesalahpahaman ini muncul karena kurangnya pemahaman, bukan niat yang buruk.
Dalilnya Tegas, Tapi Sering Diambil Setengah
Rasulullah ﷺ bersabda:
“ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ”
“Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu…” (HR. Ibnu Majah)
Kalimat ini sering dikutip.
Namun maknanya jarang dibahas tuntas.
Zuhud bukan berarti menolak dunia.
Zuhud berarti tidak menggantungkan hati pada dunia.
Allah juga berfirman:
“Agar kamu tidak bersedih terhadap apa yang luput darimu dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan kepadamu.” (QS. Al-Hadid: 23)
Artinya jelas: kendali, bukan pelarian.
Ironi yang Terjadi: Tidak Punya, Tapi Terikat
Di sinilah diskusi sering memanas.
Ada yang tidak memiliki banyak, tetapi pikirannya terus mengejar dunia.
Ada yang sederhana, namun hatinya gelisah melihat orang lain berhasil.
Sebaliknya, ada yang berkecukupan, tetapi tetap tenang.
Mungkin kita juga pernah berada di posisi itu.
Jadi, siapa yang lebih dekat dengan zuhud?
Zuhud Itu Kuat, Bukan Lemah
Zuhud tidak identik dengan lemah.
Tapi zuhud justru menuntut kekuatan. Kekuatan untuk mengendalikan diri, bukan menghindar.
Para sahabat Nabi tidak berhenti bekerja. Mereka tetap berdagang, berjuang, dan membangun.
Namun satu hal membedakan: hati mereka tidak bergantung pada hasil.
Ini inti yang sering terlewat.
Di Era Sekarang, Zuhud Jadi Dua Ekstrem
Hari ini, kita melihat dua sisi.
Satu sisi mengejar dunia tanpa batas.
Sisi lain menolak dunia tanpa arah.
Keduanya sama-sama berlebihan.
Zuhud tidak berada di dua titik itu.
Zuhud ada di tengah.
Tetap berusaha, tetapi tidak terikat.
Diskusi yang Perlu Dilanjutkan
Pada akhirnya, makna zuhud bukan sekadar label.
Ia adalah proses.
Ia adalah latihan.
Namun ketika istilah ini mulai digunakan untuk membenarkan kondisi, di situlah perlu ada refleksi.
Bukan untuk saling menyalahkan.
Tetapi untuk meluruskan.
Karena bisa jadi, yang kita sebut zuhud… sebenarnya belum sampai ke sana.
وَاللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Penulis: Diki Samani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar