Tekan Stunting, Asep Sopari: Perubahan Dimulai dari Rumah
- account_circle redaktur
- calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
- visibility 23
- comment 0 komentar
- print Cetak

Wakil Bupati Tasikmalaya, Asep Sopari Al-Ayubi.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Stunting Jawa Barat kembali menjadi sorotan serius. Kasus stunting, gizi buruk anak, serta kekurangan nutrisi masih menjadi tantangan nyata yang harus segera ditangani. Oleh karena itu, upaya pencegahan stunting terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor, dengan keluarga sebagai garda terdepan.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam rapat koordinasi Pencegahan, Percepatan, dan Penurunan Stunting tingkat Provinsi Jawa Barat yang digelar di Gedung Sate, Selasa (7/4/2026). Kegiatan ini turut dihadiri Wakil Bupati Tasikmalaya, Asep Sopari Al-Ayubi.
Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terlibat aktif dalam menekan angka stunting.
“Mari kita sukseskan program ini bersama-sama. Dimulai dari lingkungan keluarga, kita pastikan asupan gizi anak-anak kita terpenuhi dengan baik.”
Pernyataan ini menegaskan bahwa penanganan stunting tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah. Sebaliknya, peran keluarga menjadi fondasi utama dalam menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas.
Stunting Bukan Sekadar Masalah Tinggi Badan
Stunting sering kali dipahami secara sempit sebagai kondisi tubuh pendek pada anak. Padahal, dampaknya jauh lebih luas. Kondisi ini memengaruhi perkembangan otak, kemampuan belajar, serta potensi ekonomi di masa depan.
Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, prevalensi stunting nasional masih berada di angka 21,6% (SSGI 2022). Angka tersebut memang menunjukkan penurunan, namun tetap menjadi perhatian karena target nasional berada di bawah 14%.
Di Jawa Barat, berbagai upaya terus dilakukan untuk mempercepat penurunan angka tersebut. Program intervensi gizi, edukasi masyarakat, hingga peningkatan layanan kesehatan terus diperkuat secara bertahap.
Peran Keluarga Jadi Penentu Utama
Namun demikian, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh kebijakan. Perubahan nyata justru dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua memiliki peran penting dalam memastikan anak mendapatkan nutrisi yang cukup sejak dini.
Selain itu, pola asuh yang tepat juga memberikan dampak besar. Pemberian ASI eksklusif, makanan bergizi seimbang, serta pemeriksaan rutin ke fasilitas kesehatan menjadi langkah sederhana namun efektif.
Di sisi lain, edukasi masyarakat juga perlu terus ditingkatkan. Banyak kasus stunting terjadi karena kurangnya pemahaman tentang gizi, bukan semata-mata faktor ekonomi.
Kolaborasi Jadi Kunci Percepatan
Sementara itu, sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam menekan angka stunting. Program yang terintegrasi akan mempercepat hasil yang diharapkan.
Rapat koordinasi di Bandung menjadi momentum strategis untuk menyatukan langkah antar daerah. Setiap wilayah didorong untuk menggunakan data yang akurat agar intervensi lebih tepat sasaran.
Selain itu, pemanfaatan teknologi mulai dioptimalkan untuk memantau tumbuh kembang anak secara berkala. Dengan demikian, potensi stunting dapat dideteksi lebih dini dan segera ditangani.
Langkah Kecil, Dampak Besar untuk Masa Depan
Pada akhirnya, stunting bukan sekadar isu kesehatan, tetapi juga investasi masa depan bangsa. Anak-anak yang tumbuh sehat akan menjadi generasi unggul yang mampu bersaing secara global.
Karena itu, setiap pihak memiliki tanggung jawab yang sama. Keluarga, masyarakat, hingga pemerintah harus bergerak bersama dalam satu arah.
Ajakan yang disampaikan Wakil Bupati Tasikmalaya menjadi pengingat bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Dengan memastikan gizi anak terpenuhi sejak sekarang, masa depan Indonesia dapat dijaga dengan lebih baik. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar