albadarpost.com, LIFESTYLE – Banyak orang mencari arti Zuyyina Linnasi Hobbusyahawat setelah potongan ayat ini viral di media sosial. Frasa Zuyyina Linnasi Hobbusyahawat atau “dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan terhadap hal-hal yang diinginkan” berasal dari Surah Ali Imran ayat 14. Ayat ini menjelaskan mengapa manusia sangat mencintai dunia, mulai dari wanita, anak, harta, kendaraan, hingga kemewahan hidup.
Menariknya, Al-Qur’an tidak langsung melarang semua itu. Sebaliknya, Allah menjelaskan bahwa rasa cinta tersebut memang menjadi fitrah manusia. Namun, di balik keindahan itu, ada ujian besar yang sering tidak disadari.
Arti Zuyyina Linnasi Hobbusyahawat dalam Surah Ali Imran Ayat 14
Allah berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 14:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلْبَنِينَ وَٱلْقَنَٰطِيرِ ٱلْمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلْفِضَّةِ وَٱلْخَيْلِ ٱلْمُسَوَّمَةِ وَٱلْأَنْعَٰمِ وَٱلْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسْنُ ٱلْمَـَٔابِ
Artinya:
“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang banyak berupa emas, perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”
Melalui ayat ini, Allah menggambarkan bahwa manusia memang cenderung tertarik pada hal-hal yang menyenangkan. Karena itu, manusia sering bekerja keras demi uang, jabatan, keluarga, dan kemewahan.
Akan tetapi, Allah juga mengingatkan bahwa semua itu hanya bersifat sementara. Dunia memang tampak indah. Namun, keindahan itu tidak akan bertahan selamanya.
Mengapa Dunia Terasa Sangat Indah?
Kata “zuyyina” berarti dihiasi atau dibuat tampak indah. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa kecintaan terhadap dunia dapat muncul sebagai ujian dari Allah. Di sisi lain, setan juga berusaha mempercantik dunia agar manusia lupa kepada akhirat.
Dalam Tafsir Al-Wajiz dijelaskan bahwa perempuan, anak, harta, kendaraan, ternak, dan sawah hanyalah simbol dari seluruh kenikmatan dunia. Pada masa sekarang, simbol itu bisa berubah menjadi rumah mewah, mobil mahal, popularitas, bisnis besar, atau kehidupan yang terlihat sempurna di media sosial.
Karena itu, tidak sedikit orang yang rela mengorbankan waktu ibadah, keluarga, bahkan kejujuran demi mengejar semua itu. Padahal, semakin seseorang terlalu mencintai dunia, semakin besar pula kemungkinan ia merasa kecewa, cemas, dan tidak pernah puas.
Dalil lain yang menegaskan hal tersebut terdapat dalam Surah Al-Hadid ayat 20:
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling bermegah di antara kamu, serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan…”
Ayat ini memperlihatkan bahwa dunia sering membuat manusia sibuk berlomba. Akibatnya, banyak orang lupa bahwa semua yang dimiliki suatu saat akan hilang.
Islam Tidak Melarang Harta dan Keluarga
Banyak orang salah paham ketika membaca Ali Imran ayat 14. Mereka mengira Islam melarang mencintai pasangan, anak, atau harta. Padahal, Islam justru mendorong umatnya untuk bekerja, mencari rezeki, dan membangun keluarga.
Yang dilarang adalah cinta berlebihan hingga membuat seseorang lalai dari Allah. Sebab, ketika harta menjadi tujuan utama, manusia bisa kehilangan arah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham.”
Hadis riwayat Imam Bukhari itu menjelaskan bahwa seseorang akan sengsara jika hidupnya hanya berputar pada uang dan materi.
Karena itu, Islam mengajarkan keseimbangan. Seseorang boleh kaya, tetapi ia juga harus bersyukur. Seseorang boleh mencintai keluarga, tetapi ia tetap harus taat kepada Allah. Selain itu, seseorang boleh menikmati dunia, asalkan tidak melupakan akhirat.
Allah juga berfirman dalam Surah Al-Qashash ayat 77:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.”
Ayat ini menjadi bukti bahwa Islam tidak memusuhi dunia. Sebaliknya, Islam mengajarkan agar dunia dijadikan jalan menuju akhirat.
Ayat 15: Ada yang Jauh Lebih Baik dari Dunia
Setelah menjelaskan keindahan dunia pada ayat 14, Allah langsung memberikan jawaban pada ayat berikutnya. Dalam Surah Ali Imran ayat 15, Allah berfirman:
“Katakanlah: Maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu? Untuk orang-orang yang bertakwa tersedia di sisi Tuhan mereka surga…”
Ayat ini menegaskan bahwa surga dan ridha Allah jauh lebih baik daripada semua kenikmatan dunia. Jika harta bisa habis, surga tidak akan pernah hilang. Jika kecantikan bisa pudar, kenikmatan surga tidak akan berakhir.
Karena itu, Ali Imran ayat 14 sebenarnya bukan hanya berbicara tentang cinta dunia. Ayat ini juga menjadi peringatan agar manusia tidak tertipu oleh keindahan sementara.
Pada akhirnya, semua manusia akan kembali kepada Allah. Harta akan tertinggal. Jabatan akan berakhir. Bahkan keluarga dan kemewahan dunia tidak akan ikut masuk ke dalam kubur. Yang tersisa hanyalah amal dan kedekatan seseorang dengan Allah.
Itulah sebabnya potongan ayat Zuyyina Linnasi Hobbusyahawat begitu menyentuh hati. Ayat ini tidak melarang manusia menikmati hidup. Namun, ayat ini mengingatkan bahwa tujuan akhir manusia bukan dunia, melainkan surga dan ridha Allah.(Red)
