Opini

Saat Ibadah Jadi Ajang Pamer

albadarpost.com, OPINI – Di zaman ketika tepuk tangan terasa lebih nikmat daripada doa, Bahaya Cinta Popularitas menjadi penyakit rohani yang kerap tidak disadari. Cinta ketenaran, hasrat tampil terkenal, dan obsesi menjadi sorotan publik sering menyusup ke dalam amal baik. Padahal, Syekh Athoillah dalam Hikam telah mengingatkan, “Tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan, sebab sesuatu yang tumbuh tanpa ditanam tidak akan sempurna buahnya.” Namun ironisnya, sebagian orang lebih sibuk menanam citra daripada menanam jiwa.

Kita hidup di era ketika panggung lebih luas daripada sajadah. Orang berlomba terlihat dermawan, tetapi lupa belajar menjadi tulus. Mereka ingin dianggap alim, padahal belum tentu selesai berdamai dengan nafsunya sendiri.

Antara Ikhlas dan Ingin Diakui

Pertanyaannya sederhana: apakah kita beramal karena Allah, atau karena algoritma? Di sinilah Bahaya Cinta Popularitas bekerja halus. Ia tidak datang dengan tanduk, melainkan dengan pujian.

Baca juga: Izin Lapangan Padel Tasikmalaya Disepakati, Operasional Tetap Jalan

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Ayat ini menegaskan fondasi keikhlasan. Namun demikian, hati manusia mudah tergelincir. Ketika satu unggahan menuai ribuan pujian, nafsu berbisik, “Tambah lagi.” Ketika nama disebut dalam forum, ego bertepuk tangan.

Padahal Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“Siapa yang merendah diri karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya. Siapa yang sombong, maka Allah akan merendahkannya.” (HR. Muslim)

Hadis ini bukan sekadar motivasi, melainkan peringatan. Karena itu, semakin tinggi seseorang mengangkat dirinya di hadapan manusia, semakin berat risiko ia dijatuhkan di sisi Allah.

Satir Zaman Serba Sorotan

Lucunya, kita sering menyebut diri sebagai pejuang kebaikan, tetapi hati sibuk menghitung penonton. Kita berbicara tentang zuhud, sambil mengecek jumlah pengikut. Kita menasihati tentang tawadhu, tetapi tersinggung ketika nama tidak disebut.

Inilah wajah nyata Bahaya Cinta Popularitas. Amal berubah menjadi pertunjukan. Sedekah menjadi konten. Bahkan dakwah terkadang terasa seperti kompetisi popularitas.

Syekh Athoillah mengingatkan bahwa sesuatu yang tidak ditanam tidak akan berbuah sempurna. Artinya, tanpa kerendahan hati, amal hanya akan menjadi daun lebat tanpa buah.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin juga menegaskan bahwa riya adalah penyakit yang merusak amal seperti api melahap kayu kering. Ia tumbuh dari cinta kedudukan. Maka ketika seseorang menginginkan posisi terhormat dan kemasyhuran, ia sedang memberi makan egonya sendiri.

Kerendahan Hati yang Mengangkat Derajat

Sebaliknya, Islam memuliakan orang yang menunduk, bukan yang mendongak. Allah berfirman:

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati.” (QS. Al-Furqan: 63)

Ayat ini memberi gambaran jelas. Kerendahan hati bukan berarti lemah. Justru ia menjadi jalan kemuliaan.

Namun hari ini, rendah hati sering dianggap kurang percaya diri. Orang yang tidak tampil dianggap tidak eksis. Padahal, justru dalam sunyi itulah amal tumbuh kuat.

Karena itu, jika ingin selamat dari Bahaya Cinta Popularitas, seseorang harus melatih niat setiap hari. Ia perlu bertanya sebelum berbuat: “Apakah aku tetap melakukan ini jika tidak ada yang melihat?”

Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya sering menyakitkan.

Nafsu yang Halus dan Ambisi yang Licin

Keinginan terkenal termasuk hawa nafsu yang paling halus. Ia tidak terlihat seperti maksiat terang-terangan. Ia menyamar sebagai motivasi. Ia berbisik bahwa pengaruh publik penting untuk kebaikan.

Memang benar, pengaruh bisa bermanfaat. Namun ketika hati bergantung pada sorotan, maka di situlah masalah bermula. Sebab, popularitas tidak selalu sejalan dengan keberkahan.

Ulama salaf bahkan berdoa agar dijauhkan dari ketenaran. Mereka khawatir hati mereka terkontaminasi pujian. Sufyan Ats-Tsauri pernah berkata bahwa tidak ada yang lebih berat ia lawan selain niatnya sendiri.

Maka jelaslah, Bahaya Cinta Popularitas bukan sekadar isu moral, melainkan ujian spiritual.

Menanam Diri dalam Tanah Kerendahan

Pesan Hikam terasa relevan sepanjang zaman. Tanamlah diri dalam tanah kerendahan. Tanpa proses itu, buah tidak akan matang.

Kerendahan hati melahirkan ketenangan. Sebaliknya, ambisi popularitas menciptakan kegelisahan. Orang yang mengejar sorotan akan terus haus perhatian. Namun orang yang mengejar ridha Allah akan merasa cukup walau tak dikenal.

Oleh sebab itu, mari kita periksa kembali niat sebelum melangkah. Mari kita luruskan tujuan sebelum berbicara. Dan mari kita pilih menjadi hamba yang tulus daripada selebritas yang haus tepuk tangan.

Karena pada akhirnya, yang kita butuhkan bukan panggung, melainkan ampunan.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Penulis: Diki Sam ani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)


Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button