Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Nahi Munkar: Iman atau Sekadar Status?

Nahi Munkar: Iman atau Sekadar Status?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
  • visibility 160
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, OPINI Nahi Munkar bukan sekadar istilah khutbah Jumat. Nahi munkar, atau kewajiban mencegah kemungkaran, adalah perintah langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tegas, sistematis, dan tidak memberi ruang untuk pura-pura lupa. Namun, di zaman serba viral ini, kita lebih sibuk mengutuk daripada bertindak.

Rasulullah bersabda:

“مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ”
(HR. Muslim No. 49)

Hadis ini diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dan tercantum dalam Shahih Muslim. Pesannya jelas. Siapa pun yang melihat kemungkaran wajib mengubahnya sesuai kapasitas. Tidak ada opsi keempat bernama scroll and leave.

Generasi Komentar, Minim Keberanian

Hari ini, kemungkaran tidak lagi sembunyi. Ia tampil percaya diri. Ia dipromosikan. Ia bahkan mendapat pembelaan. Sementara itu, sebagian umat memilih aman. Mereka berkata, “Yang penting hati saya bersih.”

Padahal, Nabi sudah mengingatkan bahwa mengingkari dengan hati adalah selemah-lemahnya iman. Artinya, itu batas paling bawah. Itu bukan prestasi. Itu kondisi darurat ketika semua pintu lain tertutup.

Lebih jauh lagi, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa amar ma’ruf nahi munkar hukumnya fardhu kifayah. Jika tidak ada yang melaksanakannya, semua berdosa. Jadi, ketika masyarakat kompak diam, dosa pun menjadi kolektif.

Namun ironisnya, kita sering bangga dengan status religius, tetapi alergi terhadap risiko sosial. Kita ingin terlihat baik tanpa perlu repot menegur. Kita ingin pahala tanpa potensi konflik. Padahal, sejarah dakwah para nabi justru penuh dengan ujian.

Tiga Level, Satu Cermin Iman

Hadis tersebut membagi nahi munkar dalam tiga tingkatan. Pertama, dengan tangan bagi yang memiliki otoritas. Pemerintah, aparat, dan pemimpin keluarga memikul tanggung jawab ini. Mereka tidak boleh netral terhadap kemungkaran yang nyata.

Kedua, dengan lisan. Nasihat harus disampaikan dengan hikmah, bukan dengan amarah. Namun, hikmah tidak berarti membungkam kebenaran. Teguran tetap harus jelas, meskipun disampaikan dengan adab.

Ketiga, dengan hati. Ini level minimal. Bahkan dalam kondisi ini, seseorang tetap wajib membenci kemungkaran dan meninggalkan majelis maksiat. Jika hati pun mulai terbiasa dan tidak terusik, maka masalahnya jauh lebih serius.

Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa membiarkan kemungkaran akan mempercepat kerusakan sosial. Ketika keburukan dianggap wajar, standar moral runtuh perlahan. Akibatnya, generasi berikutnya tumbuh tanpa sensitivitas terhadap dosa.

Satir untuk Kita yang Takut Tidak Disukai

Mari kita jujur. Banyak orang takut kehilangan pertemanan lebih daripada kehilangan prinsip. Mereka khawatir dicap ekstrem, padahal hanya menjalankan dalil. Mereka memilih kompromi agar tetap diterima.

Padahal, Islam tidak memerintahkan kebencian personal. Islam memerintahkan penolakan terhadap perbuatan mungkar. Ada perbedaan besar antara membenci dosa dan membenci pelaku. Namun, perbedaan ini sering dijadikan alasan untuk tidak melakukan apa-apa.

Selain itu, budaya “jangan ikut campur” telah menjelma menjadi tameng modern. Padahal, Nabi tidak pernah mengajarkan individualisme moral. Umat ini ibarat satu tubuh. Jika satu bagian sakit, maka bagian lain ikut merasakan.

Karena itu, pertanyaannya bukan lagi apakah kita melihat kemungkaran. Pertanyaannya, apa respons kita? Apakah kita bergerak sesuai kapasitas, atau justru mencari dalih agar tetap nyaman?

Baca juga: Operasi Pekat 2026, Komitmen Pangandaran Bersih Narkoba

Iman Bukan Dekorasi Identitas

Di era media sosial, identitas religius mudah dipajang. Kutipan hadis bisa dibagikan. Ceramah bisa diputar. Namun, implementasi sering tertinggal. Padahal, nahi munkar adalah bukti nyata bahwa iman bekerja.

Selain itu, tindakan ini bukan tentang merasa paling benar. Ia tentang tanggung jawab kolektif menjaga moralitas. Ia tentang keberanian berdiri meskipun sendirian. Dan ia tentang memilih prinsip di atas popularitas.

Jika kita terus menunda, kemungkaran akan terasa biasa. Jika keburukan dianggap normal, generasi setelah kita akan menganggapnya budaya. Saat itu terjadi, kita tidak bisa lagi menyalahkan zaman.

Akhirnya, nahi munkar adalah cermin. Ia memantulkan kualitas iman setiap individu dan masyarakat. Jika kita berani bertindak sesuai kemampuan, iman menguat. Namun jika kita terus bersembunyi di balik alasan, iman perlahan melemah.

Maka, sebelum sibuk mengoreksi dunia, mari koreksi respons kita. Sebab dalam hadis yang sahih itu, Rasulullah sudah menetapkan standar. Tinggal kita memilih: upgrade level atau downgrade, puas di level paling lemah.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Penulis: Diki Sam ani (Direktur Albadar Institute)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemkot Tasikmalaya

    Pemkot Tasikmalaya Diduga Retak: Konflik Internal Ancam Tata Kelola Daerah

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 79
    • 0Komentar

    Editorial Albadarpost menyoroti kisruh internal Pemkot Tasikmalaya dan dampaknya bagi tata kelola serta pelayanan publik. Alarm dari Ruang Dalam Pemkot albadarpost.com, EDITORIAL – Unggahan status WhatsApp Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra Negara, pekan ini mengungkap sesuatu yang lebih besar dari sekadar pesan bernuansa metafora. Ia memperlihatkan retakan komunikasi di tubuh Pemerintah Kota Tasikmalaya yang […]

  • Skrining TBC

    Skrining TBC Digelar di Karawang untuk Percepat Deteksi dan Pengobatan

    • calendar_month Sabtu, 15 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 162
    • 0Komentar

    Skrining TBC di Karawang menyasar 5.000 warga untuk percepatan deteksi dan pengobatan berbasis layanan publik. albadarpost.com, LENSA – Deteksi dini Skrining TBC di Kabupaten Karawang dimulai dengan pemeriksaan rontgen terhadap ratusan warga di Kecamatan Tirtajaya. Langkah ini menjadi pintu masuk untuk memetakan penyebaran tuberkulosis di wilayah yang selama ini belum memiliki data rinci, padahal risiko […]

  • Ketahanan Pangan

    Dari Desa Janggala, Polres Tasikmalaya Kawal Ketahanan Pangan hingga Panen

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 61
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Deretan tanaman jagung muda tampak menghijau di lahan pertanian Desa Janggala, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Tasikmalaya, Rabu (10/6/2026). Daun-daunnya bergoyang pelan tertiup angin pagi. Di sela pematang yang masih menyisakan bekas tanah lembap setelah hujan malam sebelumnya, sejumlah petani berdiri sambil memperhatikan rombongan yang berjalan menyusuri lahan. Menariknya, rombongan itu bukan penyuluh […]

  • ekstremisme pada anak

    Ketika Anak Terpapar Ekstremisme

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 137
    • 0Komentar

    Editorial Albadarpost: Paparan ekstremisme pada anak mengungkap kegagalan pengawasan ruang digital dan perlindungan sosial. albadarpost.com – EDITORIAL – Indonesia kembali dihadapkan pada kenyataan yang mengganggu nurani publik. Densus 88 Antiteror Polri menangani 68 anak di 18 provinsi yang terpapar ideologi ekstrem seperti White Supremacy dan neo-Nazi. Paparan ekstremisme anak ini bukan sekadar fenomena daring, melainkan […]

  • JAZIRAH CCE 2026

    Herdiat: JAZIRAH x CCE 2026 Pecahkan Sejarah Ekonomi Syariah Priangan Timur

    • calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 73
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH — Gelaran JAZIRAH x CCE 2026 menciptakan momentum baru bagi perkembangan ekonomi syariah di Priangan Timur. Tidak digelar di pusat kota, tidak pula berada di kawasan jalan tol, kegiatan yang berlangsung di kawasan Rest Area Situs Karangkamulyan justru memperlihatkan arah baru: ekonomi syariah mulai tumbuh dari ruang ekonomi rakyat. Bupati Ciamis Dr. […]

  • bansos 2026

    Berikut Kriteria Penerima PKH dan BPNT 2026

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 195
    • 0Komentar

    Siapa yang berhak menerima bansos 2026? Berikut syarat dan kriteria penerima PKH dan BPNT yang ditetapkan pemerintah. albadarpost.com, HUMNIORA – Pemerintah melalui Kementerian Sosial (Kemensos) kembali menyiapkan sejumlah program bantuan sosial pada 2026. Dua di antaranya adalah Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang selama ini menjadi program utama perlindungan sosial. […]

expand_less