Nahi Munkar: Iman atau Sekadar Status?

albadarpost.com, OPINI – Nahi Munkar bukan sekadar istilah khutbah Jumat. Nahi munkar, atau kewajiban mencegah kemungkaran, adalah perintah langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tegas, sistematis, dan tidak memberi ruang untuk pura-pura lupa. Namun, di zaman serba viral ini, kita lebih sibuk mengutuk daripada bertindak.
Rasulullah bersabda:
“مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ”
(HR. Muslim No. 49)
Hadis ini diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dan tercantum dalam Shahih Muslim. Pesannya jelas. Siapa pun yang melihat kemungkaran wajib mengubahnya sesuai kapasitas. Tidak ada opsi keempat bernama scroll and leave.
Generasi Komentar, Minim Keberanian
Hari ini, kemungkaran tidak lagi sembunyi. Ia tampil percaya diri. Ia dipromosikan. Ia bahkan mendapat pembelaan. Sementara itu, sebagian umat memilih aman. Mereka berkata, “Yang penting hati saya bersih.”
Padahal, Nabi sudah mengingatkan bahwa mengingkari dengan hati adalah selemah-lemahnya iman. Artinya, itu batas paling bawah. Itu bukan prestasi. Itu kondisi darurat ketika semua pintu lain tertutup.
Lebih jauh lagi, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa amar ma’ruf nahi munkar hukumnya fardhu kifayah. Jika tidak ada yang melaksanakannya, semua berdosa. Jadi, ketika masyarakat kompak diam, dosa pun menjadi kolektif.
Namun ironisnya, kita sering bangga dengan status religius, tetapi alergi terhadap risiko sosial. Kita ingin terlihat baik tanpa perlu repot menegur. Kita ingin pahala tanpa potensi konflik. Padahal, sejarah dakwah para nabi justru penuh dengan ujian.
Tiga Level, Satu Cermin Iman
Hadis tersebut membagi nahi munkar dalam tiga tingkatan. Pertama, dengan tangan bagi yang memiliki otoritas. Pemerintah, aparat, dan pemimpin keluarga memikul tanggung jawab ini. Mereka tidak boleh netral terhadap kemungkaran yang nyata.
Kedua, dengan lisan. Nasihat harus disampaikan dengan hikmah, bukan dengan amarah. Namun, hikmah tidak berarti membungkam kebenaran. Teguran tetap harus jelas, meskipun disampaikan dengan adab.
Ketiga, dengan hati. Ini level minimal. Bahkan dalam kondisi ini, seseorang tetap wajib membenci kemungkaran dan meninggalkan majelis maksiat. Jika hati pun mulai terbiasa dan tidak terusik, maka masalahnya jauh lebih serius.
Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa membiarkan kemungkaran akan mempercepat kerusakan sosial. Ketika keburukan dianggap wajar, standar moral runtuh perlahan. Akibatnya, generasi berikutnya tumbuh tanpa sensitivitas terhadap dosa.
Satir untuk Kita yang Takut Tidak Disukai
Mari kita jujur. Banyak orang takut kehilangan pertemanan lebih daripada kehilangan prinsip. Mereka khawatir dicap ekstrem, padahal hanya menjalankan dalil. Mereka memilih kompromi agar tetap diterima.
Padahal, Islam tidak memerintahkan kebencian personal. Islam memerintahkan penolakan terhadap perbuatan mungkar. Ada perbedaan besar antara membenci dosa dan membenci pelaku. Namun, perbedaan ini sering dijadikan alasan untuk tidak melakukan apa-apa.
Selain itu, budaya “jangan ikut campur” telah menjelma menjadi tameng modern. Padahal, Nabi tidak pernah mengajarkan individualisme moral. Umat ini ibarat satu tubuh. Jika satu bagian sakit, maka bagian lain ikut merasakan.
Karena itu, pertanyaannya bukan lagi apakah kita melihat kemungkaran. Pertanyaannya, apa respons kita? Apakah kita bergerak sesuai kapasitas, atau justru mencari dalih agar tetap nyaman?
Baca juga: Operasi Pekat 2026, Komitmen Pangandaran Bersih Narkoba
Iman Bukan Dekorasi Identitas
Di era media sosial, identitas religius mudah dipajang. Kutipan hadis bisa dibagikan. Ceramah bisa diputar. Namun, implementasi sering tertinggal. Padahal, nahi munkar adalah bukti nyata bahwa iman bekerja.
Selain itu, tindakan ini bukan tentang merasa paling benar. Ia tentang tanggung jawab kolektif menjaga moralitas. Ia tentang keberanian berdiri meskipun sendirian. Dan ia tentang memilih prinsip di atas popularitas.
Jika kita terus menunda, kemungkaran akan terasa biasa. Jika keburukan dianggap normal, generasi setelah kita akan menganggapnya budaya. Saat itu terjadi, kita tidak bisa lagi menyalahkan zaman.
Akhirnya, nahi munkar adalah cermin. Ia memantulkan kualitas iman setiap individu dan masyarakat. Jika kita berani bertindak sesuai kemampuan, iman menguat. Namun jika kita terus bersembunyi di balik alasan, iman perlahan melemah.
Maka, sebelum sibuk mengoreksi dunia, mari koreksi respons kita. Sebab dalam hadis yang sahih itu, Rasulullah sudah menetapkan standar. Tinggal kita memilih: upgrade level atau downgrade, puas di level paling lemah.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Penulis: Diki Sam ani (Direktur Albadar Institute)




